Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Afirmasi Diri Perlu Disandarkan kepada Allah Ta’ala

Iklan Landscape Smamda
Ketika Afirmasi Diri Perlu Disandarkan kepada Allah Ta’ala
Ketika Afirmasi Diri Perlu Disandarkan kepada Allah Ta’ala. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Dalam beberapa tahun terakhir, ungkapan “Terima kasih, diriku” semakin sering digaungkan sebagai bentuk afirmasi positif dalam menjaga kesehatan mental. Afirmasi positif adalah pernyataan yang diucapkan secara sadar untuk menanamkan pikiran yang lebih sehat, menenangkan, dan menguatkan diri, terutama saat seseorang berada dalam tekanan emosional.

Dalam konteks psikologi, afirmasi positif berfungsi membantu individu mengganti dialog batin yang penuh kritik, rasa bersalah, dan ketakutan dengan kalimat yang lebih suportif dan membangun.

Afirmasi ini bukan sekadar rangkaian kata manis, melainkan upaya kognitif untuk memengaruhi cara seseorang memaknai dirinya dan pengalaman hidupnya. Kalimat “Terima kasih, diriku” dianggap mampu menguatkan individu yang lelah, terluka, dan sedang berjuang menghadapi kehidupan.

Pada momen seperti itu, banyak orang akhirnya belajar berbicara kepada dirinya sendiri, “Terima kasih, diriku. Kamu hebat. Kamu sudah bertahan sejauh ini.” Kalimat tersebut terasa menenangkan, seperti pelukan kecil bagi hati yang sedang lelah.

Hal itu wajar, sebab manusia memang membutuhkan apresiasi, termasuk dari dirinya sendiri, terlebih setelah jatuh, gagal, kecewa, lalu tetap bangun keesokan harinya dengan beban yang sama.

Namun, perlahan, jika kita jujur kepada diri sendiri, ada satu pertanyaan yang sering terlewatkan: sebenarnya, siapa yang membuat kita masih kuat hingga hari ini? Siapa yang menjaga hati kita tetap waras di tengah pikiran yang bising? Siapa yang membuat kita mampu bertahan meskipun sering merasa ingin menyerah?

Jika direnungkan, rasanya tidak adil apabila seluruh kekuatan itu diklaim sepenuhnya sebagai hasil dari diri sendiri. Sebab, ada hari-hari ketika kita benar-benar merasa lemah. Ada saat-saat ketika yang kita miliki hanyalah air mata dan harapan yang tipis.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 286:

“Allah hendak meringankan bebanmu, karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”

Ayat ini meluruskan cara pandang terhadap afirmasi diri. Mengakui lelah dan rapuh bukanlah tanda kegagalan, melainkan tanda kemanusiaan. Jika di tengah kelemahan tersebut kita masih mampu bertahan, berarti ada pertolongan Allah yang sedang bekerja.

Kesadaran bahwa manusia itu lemah justru menyehatkan mental. Ia membebaskan manusia dari tuntutan untuk selalu sempurna dan selalu kuat. Ketika seseorang berhenti menghakimi dirinya karena kelemahan, lalu menyandarkan diri kepada Allah, pada titik itulah ketenangan mulai tumbuh.

Kekuatan yang bersumber dari Allah bukanlah kekuatan yang memaksa, melainkan kekuatan yang menenangkan; cukup untuk bertahan hari ini, cukup untuk tidak menyerah, dan cukup untuk melangkah perlahan esok hari.

Pada saat itulah kita mulai menyadari bahwa ada Allah yang selama ini diam-diam menguatkan. Allah yang memberi napas ketika kita lelah menjalani hidup. Allah yang menjaga hati ini tetap bertahan, meskipun doa-doa kita sering kali terucap dengan tidak rapi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Allah yang menguatkan melalui cara-cara sederhana: lewat kesabaran yang tiba-tiba terasa cukup, lewat hati yang masih mau bangkit, serta lewat langkah kecil yang tetap berjalan meskipun tertatih. Karena itu, afirmasi diri yang selama ini kita ucapkan mungkin perlu sedikit diluruskan.

Bukan untuk dihapus, melainkan diarahkan. Agar tidak berhenti pada “Terima kasih, diriku”, tetapi sampai pada kesadaran yang lebih utuh dan jujur: “Terima kasih, ya Allah. Tanpa-Mu, aku tidak akan sekuat ini.”

Dari sudut pandang psikologi kesehatan mental, praktik afirmasi diri seperti mengucapkan “Terima kasih, diriku” memang memiliki manfaat yang nyata. Afirmasi positif terbukti dapat meningkatkan self-compassion, menurunkan tingkat stres, serta membantu individu keluar dari pola pikir negatif yang berulang.

Dalam terapi kognitif perilaku, dialog batin yang sehat menjadi salah satu kunci untuk membangun ketahanan psikologis (psychological resilience). Ketika seseorang belajar menghargai dirinya sendiri, ia sedang membangun benteng emosional agar tidak mudah runtuh oleh kegagalan dan tekanan hidup.

Namun demikian, psikologi kesehatan mental juga mengingatkan bahwa kesehatan jiwa tidak hanya bergantung pada kekuatan personal semata. Manusia bukan makhluk yang sepenuhnya mandiri secara emosional. Kita membutuhkan sistem pendukung (support system), makna hidup, dan sandaran yang lebih besar daripada diri sendiri.

Dalam konteks ini, spiritualitas berperan sebagai faktor protektif yang sangat kuat bagi kesehatan mental. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki keyakinan religius yang sehat cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah, kemampuan coping yang lebih baik, serta harapan hidup yang lebih positif ketika menghadapi masalah.

Ketika afirmasi diri hanya berhenti pada kalimat “Aku kuat karena aku”, ada risiko munculnya tekanan psikologis baru, yaitu tuntutan untuk selalu kuat, selalu mampu, dan tidak boleh rapuh. Padahal, salah satu indikator kesehatan mental yang baik justru terletak pada kemampuan untuk mengakui kelemahan dan mencari pertolongan.

Dalam kerangka ini, menyandarkan diri kepada Allah bukanlah bentuk ketergantungan yang melemahkan, melainkan strategi coping yang adaptif. Spiritualitas memberi ruang bagi manusia untuk beristirahat secara emosional, menyerahkan beban yang terlalu berat, dan menerima bahwa tidak semua hal harus ditanggung sendirian.

Dengan demikian, dari perspektif psikologi kesehatan mental, afirmasi diri akan menjadi jauh lebih menyehatkan ketika dipadukan dengan kesadaran spiritual. Kalimat “Terima kasih, diriku” tetap penting sebagai bentuk penghargaan terhadap usaha diri, tetapi menjadi lebih utuh ketika disempurnakan dengan “Terima kasih, ya Allah. Engkau telah menguatkanku.” Perpaduan ini membantu individu membangun keseimbangan antara penerimaan diri (self-acceptance) dan ketergantungan spiritual (spiritual reliance), antara menghargai diri dan menyadari keterbatasan manusia.

Pada titik inilah kesehatan mental tidak hanya berarti mampu bertahan, tetapi juga mampu bersandar, menerima, dan merasa cukup dalam kelemahan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu