Kurang dari sebulan menjelang Hari Ayah Nasional, sebuah pertanyaan penting patut kita renungkan, masihkah ayah benar-benar hadir dalam kehidupan anak-anaknya?
Di banyak keluarga Indonesia, kehadiran ayah sering kali berganti menjadi kesibukan, layar gawai, atau jarak emosional.
Akibatnya, muncul generasi yang tumbuh tanpa sentuhan kasih, bimbingan, dan teladan seorang ayah—sebuah fenomena yang dikenal sebagai fatherless generation..
Fatherless generation adalah generasi yang kehilangan peran ayah dalam keluarga. Sejumlah lembaga bahkan menyebut Indonesia memiliki jumlah tertinggi anak-anak fatherless.
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak (Unicef) pada 2021 melaporkan sebanyak 20,9 persen anak Indonesia kehilangan peran ayah dalam keluarga. Harian Kompas menyebutkan 15,9 juta atau seperlima anak di Indonesia berpotensi tumbuh tanpa peran ayah atau fatherless. Angka tersebut setara 20,1 persen dari 79,8 juta anak usia di bawah 18 tahun.
Dari 15,9 juta anak tersebut, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah. Sementara, 11,5 juta anak lainnya tinggal bersama ayah yang memiliki jam kerja lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari.
Guru Besar Bidang Ilmu Psikologi Umum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si. menyebut kondisi fatherless membuat anak kehilangan role model yang mampu memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual.
Penyebabnya beragam. Mulai dari jam kerja ayah yang tinggi, perceraian orang tua, hingga kematian ayah.
Dosen yang akrab disapa Tari itu berkata kondisi fatherless tidak lepas dari unsur patriarki yang menempatkan ayah sebagai tulang punggung keluarga. “Urusan pengasuhan di masyarakat itu kan urusannya ibu, sedangkan bapak itu tugasnya cari uang,” ujarnya pada Kamis (16/10/2025).
Peran Ayah dalam Keluarga
Tantangan zaman yang semakin maju membuat anak lebih mudah terpapar teknologi informasi dan kemajuan sosial. Hal ini membuat persoalan hidup yang dihadapi anak kian kompleks. Tari menilai peran pengasuhan anak tidak cukup jika mengandalkan sosok ibu.
Menurutnya, ibu dan ayah memiliki karakteristik yang berbeda dalam mengasuh buah hati. Ibu berperan dalam mengembangkan empati dan mengenali emosi pada anak.
Peran ayah dalam keluarga dinilai lebih dominan dibanding ibu. Ayah memiliki peran dalam membangun kepercayaan diri anak, role model kepemimpinan, dan menumbuhkan sikap mandiri pada anak.
“Lebih ke mempersiapkan anak menghadapi dunia luar,” imbuh pakar psikologi keluarga itu.
Misalnya, kata Tari, saat anak laki-laki memanjat pohon, umumnya ibu akan bersikap protektif terhadap anak. Sementara ayah akan cenderung membiarkan. Hal ini menunjukkan sikap ayah yang memberikan kepercayaan pada anak dan meyakini anak mampu menghadapi tantangan.
Sementara bagi anak perempuan, ayah berperan dalam memberikan rasa aman. Perhatian yang dicurahkan oleh ayah kepada anak perempuannya membuat anak perempuan nyaman dalam keluarga.
“Tidak mengalami affection hunger atau haus perhatian dari lawan jenis, sehingga tidak terburu-buru berpacaran,” kata Ketua Program Studi Magister Psikologi UMS itu.
Pengaruhnya, lanjut Tari, cukup besar pada pola pikir anak perempuan. Saat mencari pasangan, anak perempuan akan menjadikan karakter pada sosok ayah sebagai standar yang harus dimiliki oleh calon pasangan.
Lantas bagaimana jika anak kehilangan ayah untuk selamanya? Tari menjelaskan peran ayah dapat digantikan oleh paman, kakak, atau laki-laki anggota keluarga lain yang dapat dipercaya untuk mendidik anak. Kehilangan ayah tak lantas membuat anak kehilangan peran ayah.
Meskipun sosok ayah dapat digantikan, Tari menekankan para ibu untuk selektif dalam mencari sosok yang tepat untuk memperkenalkan nilai-nilai ayah pada anaknya. Dengan demikian, anak akan tumbuh dengan nilai-nilai positif dan siap menghadapi tantangan dunia luar.
Perhatian Sederhana
Dukungan untuk menguatkan peran ayah dalam keluarga telah dilakukan oleh sejumlah negara lewat kebijakan cuti khusus ayah. Cuti ini memungkinkan ayah menjalankan perannya dalam keluarga, seperti menemani istri bersalin, atau memberikan waktu luang bagi keluarga.
Tari menyebut cuti ayah sangat bagus jika diterapkan di Indonesia. Namun, menyediakan cuti ayah tidak cukup. Sebab, membangun kedekatan dengan anak memerlukan komitmen yang kuat dalam diri sang ayah.
Ayah harus mampu memahami pentingnya kehadiran sosoknya dalam menyiapkan anak yang siap menghadapi tantangan zaman. Mulai dari teman bermain, teman belajar, hingga teman berdiskusi anak.
Tari menyayangkan jika kesibukan menjadi alasan ayah untuk meninggalkan perannya dalam mendidik anak. Padahal perkembangan teknologi saat ini seharusnya semakin memudahkan ayah dalam membangun kedekatan dengan anak.
Hal paling sederhana yang dapat dilakukan, misalnya, rajin menelepon atau berkirim kabar antara ayah dan anak. “Sebelum kerja misalnya, ayah menelepon anak, mengabari kalau mau bekerja. Dengan begitu, akan tumbuh rasa memiliki ayah pada anak,” ucap Tari.
Di sisi lain, kemajuan teknologi tak jarang menjauhkan yang dekat. Saat berkumpul bersama, jamak dijumpai anggota keluarga yang sibuk memainkan gawai. Hal ini membuat ruang interaksi antaranggota keluarga tidak muncul.
Padahal, Tari melanjutkan, waktu berkumpul anggota keluarga atau family time adalah waktu yang tepat untuk membangun kedekatan antara ayah dan anak. Tari mendorong para ayah untuk meluangkan waktu sejenak di akhir pekan sambil berdiskusi dengan anak.
“Family time itu tidak harus piknik. Tetapi ada rutinitas di dalam keluarga untuk berkumpul bersama,” jelasnya.
Tak ada kata terlambat untuk mulai membangun kedekatan antara ayah dan anak. Tari mengamini jika hubungan ayah dan anak akan sedikit canggung di awal. Di sinilah peran ibu untuk menengahi keduanya. Dengan demikian, hubungan keduanya perlahan akan cair dan keduanya akan memiliki rasa saling memiliki atau sense of belonging. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments