Gawai kini bukan lagi barang mewah. Ia hadir di mana-mana; di tangan mahasiswa, pekerja kota, bahkan petani yang berangkat ke sawah. Pemandangan inilah yang menjadi pintu masuk refleksi dakwah yang disampaikan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah, Muchammad Arifin, MAg, dalam Studium Generale Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah (PM3) Tahun 2025 yang digelar PC IMM Lamongan di SMA Muhammadiyah 1 Babat, Sabtu–Ahad (27–28/12/2025).
Dengan tema “Islam dan Kecerdasan Buatan: Tantangan dan Peluang Dakwah di Era 5.0”, Arifin mengajak kader IMM melihat teknologi bukan sebagai ancaman, tetapi ladang dakwah baru yang harus diolah dengan bijak.
“Dulu, seorang dai harus membuka banyak kitab untuk menyiapkan materi. Sekarang, referensi ayat, hadis, tafsir, bahkan asbabun nuzul bisa diakses hanya dengan beberapa sentuhan jari,” tuturnya. Namun, ia mengingatkan, kemudahan itu jangan sampai menghilangkan ruh dakwah.
Menurutnya, kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan teknologi digital hanyalah alat bantu, bukan pengganti hati, keikhlasan, dan kebijaksanaan seorang mubaligh. “Teknologi itu pintar, tapi ia tidak punya hati. Maka yang harus kuat justru hati mubalighnya,” tegas Arifin.
Ia menekankan bahwa dakwah Muhammadiyah di era digital harus tetap berorientasi pada nilai dasar: mencerahkan, menggerakkan, dan menggembirakan. Dakwah, kata Arifin, tidak boleh memaksa, apalagi menakut-nakuti.
Pengalaman dakwah di komunitas dan wilayah 3T menjadi pelajaran berharga. Arifin menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak pernah menjadikan dakwah sebagai alat pemaksaan keyakinan.
“Tugas mubaligh bukan mengislamkan orang, tetapi menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang membahagiakan. Soal hidayah, itu hak prerogatif Allah,” ungkapnya.
Ia mencontohkan praktik dakwah komunitas Muhammadiyah yang hadir dengan pendekatan kemanusiaan; membangun masjid, mendampingi masyarakat, membantu kebutuhan dasar, serta merawat hubungan sosial lintas iman. Ketika ada yang kemudian tertarik memeluk Islam, barulah mubaligh berperan sebagai pendamping dan pendidik.
Dalam konteks mahasiswa IMM, Arifin menegaskan pentingnya kemampuan komunikasi. Dakwah yang baik, menurutnya, bukan hanya benar secara isi, tetapi juga tepat dalam cara penyampaian. Bahasa harus membumi, mudah dipahami, dan sesuai dengan konteks audiens, baik di mimbar masjid, komunitas masyarakat, maupun ruang digital.
“Berbuat baik itu belum cukup kalau tidak dikomunikasikan dengan baik. Dakwah itu soal pesan, medium, dan ketepatan sasaran,” ujarnya.
Melalui Studium Generale ini, kader IMM diajak memahami bahwa era AI adalah era peluang. Dakwah bisa hadir lewat kajian daring, konten kreatif, media sosial, hingga pendampingan komunitas virtual. Namun, satu hal yang tak boleh tergantikan adalah ketulusan hati dan kekuatan spiritual. (*)



0 Tanggapan
Empty Comments