Hidup adalah rentang perjalanan yang panjang—penuh liku, penuh warna. Ada masa-masa bahagia yang membuat hati bersorak, namun ada pula ujian yang meneteskan air mata.
Dalam setiap fase itu, Islam mengajarkan keseimbangan: bersabar tanpa batas dan bersyukur tanpa henti. Dua sikap inilah yang menjadi fondasi ketenangan hati dan tanda kematangan iman seorang muslim.
Dalam pandangan Islam, tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Semua telah ditetapkan oleh Allah jauh sebelum alam semesta ini diciptakan. Segala hal, dari tetes hujan yang jatuh hingga langkah hidup manusia, telah tertulis di Lauh Mahfuzh.
Allah SWT berfirman: “Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)
Ayat ini bukan sekadar penjelasan tentang takdir, tetapi juga sumber ketenangan bagi hati yang beriman. Ketika seseorang memahami bahwa semua telah ditetapkan Allah, ia tidak akan mudah larut dalam penyesalan atau kegelisahan. Ia belajar menerima dengan sabar dan berprasangka baik kepada Tuhannya.
Sabar bukan berarti pasif atau menyerah pada keadaan. Sabar adalah keteguhan hati untuk tetap berjuang dalam ketaatan, meski jalan terasa berat. Rasulullah ﷺ menggambarkan hal ini dengan begitu indah:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.”(HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa seorang mukmin selalu berada dalam kebaikan, apa pun yang ia hadapi. Ujian bukanlah hukuman, melainkan sarana untuk menumbuhkan kesabaran dan memperkuat keyakinan.
Allah bahkan menjanjikan balasan tanpa batas bagi orang yang sabar: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Bayangkan, pahala yang tak terukur ini diberikan kepada mereka yang mampu menahan amarah, menahan lidah dari keluhan, dan tetap teguh dalam doa.
Lihatlah bagaimana sabar itu tampak nyata dalam kehidupan. Seorang ibu yang merawat anaknya yang sakit bertahun-tahun tanpa mengeluh. Seorang ayah yang tetap bekerja keras meski penghasilannya pas-pasan, sambil berkata, “InsyaAllah, Allah cukupkan.” Atau seorang mahasiswa yang menahan lelah bekerja sambil kuliah, yakin bahwa setiap tetes keringatnya bernilai ibadah.
Sabar bukan hanya kata indah di bibir, tetapi kekuatan yang menumbuhkan keteguhan di hati.
Jika sabar adalah keteguhan dalam menghadapi ujian, maka syukur adalah ekspresi kebahagiaan dalam menerima nikmat. Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”, tetapi juga pengakuan dalam hati dan penggunaan nikmat untuk kebaikan.
Allah SWT berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Syukur menambah nikmat bukan hanya secara materi, tetapi juga dalam bentuk ketenangan batin. Orang yang bersyukur akan lebih ringan hidupnya karena hatinya penuh rasa cukup.
Rasulullah saw juga memberi petunjuk praktis untuk menumbuhkan rasa syukur: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah kalian melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Maka itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim)
Dalam kehidupan modern, pesan ini amat relevan. Ketika media sosial menampilkan kesuksesan dan kemewahan orang lain, kita mudah merasa kurang.
Padahal, ada banyak orang di luar sana yang berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Dengan melihat ke bawah, hati kita akan lebih mudah bersyukur.
Seorang pedagang kecil yang selalu tersenyum walau dagangannya tidak habis, seorang guru di pelosok yang tetap mengajar meski gajinya minim, atau seorang lansia yang masih semangat ke masjid di tengah keterbatasan fisik — mereka adalah potret nyata dari syukur. Mereka tidak menunggu banyak untuk bahagia, karena hati mereka telah penuh dengan rasa terima kasih kepada Allah.
Dua Sayap Kehidupan
Sabar dan syukur adalah dua sayap yang membawa seorang mukmin terbang tinggi di atas badai kehidupan. Tanpa sabar, manusia mudah putus asa.
Tanpa syukur, manusia mudah sombong. Dua-duanya harus hadir bersama, sebagaimana siang dan malam yang saling melengkapi.
Ketika kehilangan, ucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un — tanda kesadaran bahwa semua milik Allah.
Ketika mendapat nikmat, ucapkan alhamdulillah — tanda pengakuan bahwa semua berasal dari-Nya.
Allah SWT berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya lah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)
Di era modern ini, di mana stres, ambisi, dan kecemasan begitu mendominasi, sabar dan syukur adalah terapi ruhani yang menyehatkan jiwa.
Sabar membuat kita kuat menghadapi kenyataan, sementara syukur membuat kita damai menjalani kehidupan.
Setiap hari, Allah memberi kesempatan untuk mempraktikkan keduanya:
- Saat rezeki datang, bersyukurlah.
- Saat ujian menimpa, bersabarlah.
- Saat gagal, berdoalah.
- Saat berhasil, bersujudlah.
Dengan begitu, hidup akan terasa seimbang dan bermakna.
Sabar dan syukur bukan bawaan lahir, melainkan latihan terus-menerus. Ketika hati mulai gelisah, ingatlah: semua sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Tidak ada yang luput dari pengaturan Allah.
Mari kita memohon agar Allah menghiasi hati kita dengan kesabaran yang luas tanpa batas, serta mensucikan lisan dan amal kita dengan syukur yang tak pernah berhenti.
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Semoga kita termasuk dalam golongan yang sedikit itu — hamba-hamba yang sabar dalam ujian dan bersyukur dalam kelapangan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments