Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Jiwa Lelah, Tasawuf Menjadi Jalan Pulang

Iklan Landscape Smamda
Ketika Jiwa Lelah, Tasawuf Menjadi Jalan Pulang
Foto: nextcenturyfoundation.org
Oleh : Anisa Rahmawati Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo
pwmu.co -

Masyarakat Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis spiritualitas yang kian nyata. Tekanan ekonomi, banjir informasi digital, serta menurunnya kualitas interaksi sosial sehari-hari menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.

Berbagai survei nasional menunjukkan meningkatnya angka stres, depresi ringan, hingga kasus kekerasan yang dipicu oleh ketidakstabilan emosi individu.

Banyak pakar sosiologi menyebut fenomena ini sebagai moral fatigue, yakni kelelahan moral yang membuat masyarakat kehilangan kendali diri dan arah hidup.

Kondisi ini semakin diperparah oleh rendahnya kemampuan mengelola emosi serta menjaga keseimbangan batin di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.

Dalam situasi demikian, muncul kebutuhan mendesak akan pendekatan yang tidak hanya menenangkan hati, tetapi juga membentuk perilaku yang lebih manusiawi.

Tasawuf, sebagai tradisi penyucian jiwa dalam Islam, menjadi salah satu solusi yang relevan karena mengajarkan pengendalian diri, keikhlasan, dan kedamaian batin.

Oleh sebab itu, pembahasan mengenai tasawuf penting dikemukakan kembali sebagai respons atas problematika moral masa kini.

Pernyataan Posisi

Pemerintah Indonesia sejatinya telah mendorong penguatan moral melalui kurikulum pendidikan karakter, program moderasi beragama, serta kampanye literasi digital.

Namun, berbagai upaya tersebut masih cenderung bersifat struktural dan belum sepenuhnya menyentuh dimensi terdalam manusia, yakni ketenangan batin.

Berdasarkan kondisi tersebut, tulisan ini berpandangan bahwa tasawuf perlu diposisikan sebagai pendamping kebijakan moral pemerintah karena menawarkan pendekatan spiritual yang menyentuh akar permasalahan.

Tasawuf bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan metode pembinaan jiwa yang terbukti mampu menenangkan pikiran dan menumbuhkan perilaku yang lebih stabil.

Nilai-nilai tasawuf mampu menjembatani kekurangan pendekatan pemerintah yang selama ini lebih menitikberatkan pada aturan formal, bukan pada perbaikan batin individu.

Dengan demikian, tasawuf dapat menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkarakter.

Posisi ini semakin relevan mengingat meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pendekatan spiritual yang aplikatif dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dampak Positif Penerapan Tasawuf

Tasawuf membawa dampak positif ketika diterapkan secara konsisten, terutama dalam penguatan mental dan pembentukan karakter.

Ajaran mujahadah dan muraqabah, misalnya, membantu individu mengontrol emosi sehingga tidak mudah tersulut konflik sosial.

Kajian psikologi modern juga menunjukkan bahwa praktik kesadaran diri seperti zikir dan tafakur dapat menurunkan tingkat stres hingga dua puluh persen dalam penelitian tertentu.

Selain itu, tasawuf menumbuhkan kepekaan sosial sehingga seseorang lebih peka terhadap penderitaan orang lain dan tidak terjebak pada sikap individualistik.

Penerapan nilai tasawuf mampu menciptakan iklim sosial yang lebih damai karena setiap tindakan didasarkan pada kesadaran hati, bukan sekadar reaksi spontan.

Lingkungan yang dipengaruhi nilai tasawuf juga cenderung lebih stabil secara emosional karena masyarakat terbiasa mengendalikan diri dalam berbagai situasi. Oleh karena itu, tasawuf memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan moral masyarakat di tengah tantangan modernitas.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ketidakhadiran tasawuf dalam kehidupan sosial dapat menimbulkan dampak negatif yang cukup besar terhadap stabilitas masyarakat.

Tanpa kontrol batin, individu lebih mudah terjebak dalam perilaku konsumtif, kompetisi berlebihan, serta kecenderungan menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi.

Kondisi ini tercermin dalam berbagai laporan tahunan yang menunjukkan peningkatan kasus intoleransi, perundungan, dan kriminalitas yang dipicu oleh luapan emosi.

Tidak adanya pembinaan jiwa juga berpotensi menimbulkan kekosongan batin yang memicu stres berat, kecemasan berkepanjangan, serta menurunnya kualitas hubungan antarmanusia.

Masyarakat yang tidak mengenal nilai tasawuf akan semakin rapuh secara emosional karena kehilangan pedoman dalam menghadapi tekanan hidup.

Situasi ini pada akhirnya dapat melemahkan persatuan sosial dan memperbesar potensi konflik dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, tasawuf menjadi kebutuhan mendesak yang tidak dapat diabaikan dalam konteks pembangunan karakter bangsa.

Perbandingan dengan Pendapat Lain dan Bantahannya

Sebagian pengamat berpendapat bahwa tasawuf tidak lagi relevan karena dianggap terlalu pasif dan tidak sesuai dengan dinamika masyarakat modern.

Mereka beranggapan bahwa persoalan moral cukup diselesaikan melalui regulasi hukum dan penguatan pendidikan formal.

Namun, pandangan tersebut kurang tepat. Berbagai penelitian sosial menunjukkan bahwa regulasi tidak selalu mampu mengubah perilaku apabila tidak dibarengi pembinaan batin.

Data dari Pusat Kajian Karakter Nasional menyebutkan bahwa sekitar delapan puluh persen perilaku menyimpang bersumber dari ketidakmampuan mengendalikan diri, bukan semata-mata lemahnya aturan.

Kritik terhadap tasawuf juga mengabaikan fakta bahwa generasi muda saat ini menghadapi tekanan psikologis yang tinggi.

Tasawuf justru menawarkan keseimbangan antara kesadaran batin dan tindakan sosial yang konstruktif. Dengan demikian, anggapan bahwa tasawuf tidak relevan perlu ditinjau ulang berdasarkan bukti empiris yang ada.

Berdasarkan pemaparan di atas, tasawuf terbukti memiliki relevansi yang kuat sebagai pendekatan pembinaan moral di tengah krisis spiritualitas modern.

Tasawuf tidak hanya menawarkan ketenangan batin, tetapi juga membantu membentuk karakter yang stabil, empatik, dan berdaya tahan.

Integrasi nilai tasawuf sebagai pendamping kebijakan moral pemerintah dapat memperkuat upaya pembangunan karakter bangsa secara berkelanjutan.

Kritik terhadap tasawuf terbukti tidak sepenuhnya tepat karena mengabaikan kompleksitas kebutuhan spiritual manusia modern.

Dengan pendekatan yang tepat, tasawuf dapat menjadi solusi strategis untuk memperbaiki kualitas moral masyarakat Indonesia.

Kesadaran spiritual yang tumbuh melalui tasawuf berpotensi mendorong lahirnya masyarakat yang lebih damai, harmonis, dan matang secara emosional. Oleh karena itu, tasawuf layak memperoleh ruang yang lebih luas dalam diskursus publik mengenai pembinaan moral nasional. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu