Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Keadilan Telah di Nodai

Iklan Landscape Smamda
Ketika Keadilan Telah di Nodai
Oleh : Endaryani akademisi
pwmu.co -

Mengikuti gaya berbicara dan bertindak Buya Anwar Abbas (panggilan akrab sang penulis), mengingatkan kembali Saya kepada salah satu tokoh Muhammadiyah Profesor Dr Ahmad Syafi’i Ma’arif, MA.

Gaya bicaranya yang berani, tegas dan tidak kenal kompromi jika apa yang disampaikan diyakini sebagai kebenaran yang harus disuarakan.

Mungkinkah karena kedua-duanya berdarah Minang, yang masyarakatnya tumbuh dengan budaya Islam yang kuat?

Buku berjudul “Respons Anak Kampung untuk Umat, Bangsa dan Dunia” yang telah meluncur pada puncak Milad Muhammadiyah ke-112 di Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan kumpulan tulisan Buya Anwar yang berserakan.

Karena itu, buku ini tidak tersusun secara sistematis yang fokus pada pemikiran dan atau tema tertentu.

Buku ini dapat disebut sebagai bunga rampai dengan menyuguhkan pikiran-pikiran kritis Buya Anwar Abbas yang tajam dan tidak bertele-tela.

Buku ini menyiratkan perhatian, keprihatinan dan kepedulian Buya Anwar Abbas selama ini.

Namun buku ini masih berisi sebagian saja dari apa yang ada dalam benak, angan-angan, harapan, ekspektasi Buya Anwar Abbas terkait dengan banyak hal di negeri ini.

Baik menyangkut hal agama, masyarakat, bangsa dan dunia internasional.

Membaca buku ini, mulai dari awal hingga akhir, kita akan menemukan pergulatan keresahan dan kecemasan Buya Anwar Abbas atas berbagai persoalan yang sedang mendera bangsa ini.

Ada 9 bab pada buku ini yang berisi tentang pikiran beliau, mulai dari berkaitan dengan pemikiran tentang keagamaan, kebangsaan dan kenegaraan, serta dunia internasional.

Khusus berkaitan dunia internasional, hanya tersedia 1 bab, namun justru paling banyak sub bab yang disuguhkan.

Pada bab ini, yang paling disorot oleh penulis adalah kebiadaban Israel – Amerika atas bangsa Palestina.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Secara tegas, pada bab 9 ini, Buya Anwar Abbas mengatakan bahwa “Israel benar-benar telah sempurna menjadi negara penjajah dan negara teroris”.

Dan ada “Peran AS di balik genosida/pembunuhan massal rakyat Palestina”.

Sehingga Buya pun mempertanyakan “Kemana tokoh-tokoh HAM dan para pembela Hak-hak Kaum Perempuan dan Anak-anak yang dari Barat dalam kasus Israel-Palestina?”

Dalam konteks kebangsaan, pada bab 3 Buya Anwar Abbas mengatakan ada 2 tipologi pemimpin, yaitu problem solver dan problem maker.

Jika pada tipe pertama, memunculkan sosok pemimpin yang dinantikan dan diharapkan karena untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul dengan pemikiran-pemikiran yang realistis dan rasional.

Maka pada tipe kedua lebih sering tampil dan hadir untuk membuat gaduh masyarakat karena sering melanggar konstitusi dan ketentuan yang ada (hal. 39).

Dalam pembahasan masalah negara dan bangsa ini, Buya banyak menghadirkan pemikiran almarhum Prof Dr. Nurcholish Madjid, intelektual muslim yang perguruan dengan Buya Syafi’i Ma’arif sebagai pisau.

Perlu diketahui, Buya Anwar Abbas merupakan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Beliau dikenal sebagai sosok intelektual yang berani dan lugas dalam menyuarakan kebenaran.

Kini yang menjadi pertanyaan, jika Buya Anwar Abbas yang setua itu masih bernyali untuk bersuara lantang, bagaimana dengan kaum muda?

Buku ini layak menjadi referensi dan penggugah energi keberanian kalangan muda.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu