Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Remaja di Ambang Bahaya

Iklan Landscape Smamda
Ketika Remaja di Ambang Bahaya
pwmu.co -

Opini Mahasiswa

Oleh Nanda Alifia Laila Rahmaniamahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik

PWMU.CO – Kompleksitas gaya pergaulan remaja sekarang ini tidak sesederhana remaja tempo dulu. Dulu kenakalan remaja mungkin hanya seperti membolos atau kabur dari sekolah, atau sekedar nongkrong hingga larut malam. Namun saat ini kenakalan remaja tidak sesederhana itu. Remaja sekarang mengaktualisasikan kenakalannya yang berkecenderungan melanggar hukum, mulai dari balapan liar, tawuran hingga terlibat narkoba.

Hal ini merupakan fenomena terjadinya krisis identitas di kalangan remaja secara masif. Remaja yang rata-rata belum matang emosionalnya, sudah berhadapan dengan berbagai pilihan yang memaksa mereka harus seperti orang dewasa. Memprihatinkan — tanpa bimbingan yang tepat — pilihan itu sering kali berujung pada hal-hal yang justru membahayakan masa depan mereka sendiri.

Tak bisa dipungkiri, remaja sekarang berada dalam dunia yang bergerak cepat, terbuka dan serba ingin diakui. Ironisnya, pada umumnya mereka mencari pengakuan dengan cara yang salah. Mereka tersesat jalan ke arah pergaulan bebas, konten pornografi, kekerasan, hingga penyalahgunaan narkotika. Dan semua itu mereka  bungkus dengan dalih “kebebasan berekspresi”.

Padahal, kebebasan berekspresi seharusnya menjadi ruang bagi tumbuh kembang yang positif, bukan malah menjadi celah untuk penyimpangan. Tanpa pagar moral, edukasi nilai, dan arahan yang jelas, kebebasan justru bisa berubah menjadi bumerang. Tak sedikit remaja akhirnya kehilangan arah dan mencari pelampiasan melalui aktivitas ekstrim bahkan yang melanggar hukum.

Baru-baru ini, Polres Gresik berhasil menggagalkan rencana balap liar yang akan digelar di Jalan Raya Kedamean. Tim Raimas Kalamunyeng mengamankan enam pemuda dan empat sepeda motor yang disembunyikan di balik semak-semak. Yang mengejutkan, sebagian dari mereka masih berusia belasan tahun.

Balap liar bukan sekadar aksi adu nyali—ini adalah kegiatan yang sangat membahayakan dan merugikan banyak pihak. Korban jiwa akibat balap liar bukanlah hal baru di Indonesia. Jalan raya yang seharusnya menjadi ruang aman bagi masyarakat justru berubah menjadi sirkuit kematian. Lebih tragis lagi, banyak pelakunya bahkan belum cukup umur untuk memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), apalagi memahami aturan lalu lintas secara menyeluruh.

Perilaku ini bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan lainnya. Balap liar telah lama menjadi penyakit sosial di ruang publik. Sayangnya, fenomena ini terus berulang karena lemahnya kontrol sosial, minimnya edukasi tentang keselamatan berkendara, dan kurangnya alternatif kegiatan positif bagi remaja.

Lebih dari sekadar kenakalan, ini sudah masuk wilayah kriminal serius. Kasus-kasus yang melibatkan anak di bawah umur kini semakin memprihatinkan. Setelah Tim Raimas Kalamunyeng menggagalkan aksi balap liar di Kota Baru, mereka menemukan seorang anak laki-laki berusia 13 tahun dengan gerak-gerik mencurigakan. Saat didekati, anak tersebut panik dan melarikan diri, memicu aksi kejar-kejaran sejauh tiga kilometer. Di tengah pelarian, ia melemparkan sebuah dompet ke jalan. Isinya mengejutkan: uang tunai Rp 200.000 dan dua klip sabu yang siap diedarkan.

Kita tak lagi bicara soal kenakalan remaja biasa. Ini adalah wajah nyata dari kejahatan yang melibatkan anak-anak, dan sekaligus sinyal darurat bagi masa depan bangsa. Di usia yang seharusnya dihabiskan untuk belajar dan bermain, mereka justru terseret ke dalam pusaran gelap narkotika. Dampaknya sangat fatal: narkoba tak hanya merusak organ tubuh dan perkembangan otak, tapi juga menghancurkan mental serta nilai moral sejak usia dini.

Ada apa dengan remaja kita?

Kedua kejadian di atas tidak bisa dianggap sebagai sekadar kenakalan. Aparat polisi sudah mengambil tindakan tegas, tetapi kejadian tersebut justru menunjukkan bahwa masalahnya lebih mendalam. Mulai dari balap liar yang membahayakan masyarakat, hingga keterlibatan anak di bawah umur dalam penyalahgunaan narkoba.

Banyak anak muda yang mulai kehilangan arah. Ini bukan soal nakal biasa, tapi, alarm keras untuk semua pihak. Maka kini saatnya semua turun tangan. Keluarga, sekolah, lingkungan, bahkan media sosial. Edukasi harus hadir, pengawasan harus nyata, dan yang terpenting adalah perhatian. Karena sebagian besar dari mereka sebenarnya hanya ingin didengar, diakui, dan dicintai. Tapi karena tidak tahu caranya, mereka lari ke jalanan dan hal-hal yang salah.

Sudah saatnya kita buka mata. Anak muda bukan hanya aset masa depan, tetapi juga tanggung jawab masa kini. Jika hari ini kita abai, maka besok kita akan menghadapi generasi yang hilang arah.

Bagi para kalangan remaja, ingatlah bahwa hidup kalian sangat berharga. Alihkan energi dan rasa ingin tahu ke hal-hal yang bermanfaat: olahraga, seni, organisasi, relawan, atau kewirausahaan. Bangun jati dirimu dengan cara yang sehat, positif, dan membanggakan. Kalian layak untuk sukses, bukan untuk tersesat.***

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu