Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Roblox Lebih Menarik dari Buku Pelajaran

Iklan Landscape Smamda
Ketika Roblox Lebih Menarik dari Buku Pelajaran
Oleh : Helmi Rohmanto Kamad MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Laren Lamongan,Mahasiswa Magister FSIP Umsura

Di era digital saat ini, pemandangan anak-anak yang asyik bermain game seperti Roblox bukan lagi hal yang asing. Bahkan, tidak sedikit siswa yang lebih antusias membuka game dibandingkan membuka buku pelajaran. Sekilas terlihat sepele, tetapi fenomena ini menyimpan persoalan yang cukup serius dalam dunia pendidikan.

Roblox menawarkan sesuatu yang sulit ditolak: dunia yang interaktif, bebas, dan penuh tantangan. Di dalamnya, anak-anak dapat berkreasi, bermain peran, hingga berinteraksi dengan pengguna lain dari berbagai belahan dunia. Pengalaman ini terasa hidup dan menyenangkan. Tidak heran jika mereka betah berlama-lama di depan layar, dibandingkan duduk membaca buku pelajaran yang sering dianggap kaku dan membosankan.

Di sisi lain, buku pelajaran kerap belum mampu “berbicara” dengan cara yang menarik bagi siswa. Materinya padat, penyajiannya monoton, dan sering kali terasa jauh dari realitas kehidupan sehari-hari. Akibatnya, siswa mudah merasa jenuh. Belajar pun dipandang sebagai kewajiban, bukan kebutuhan. Di titik inilah jarak antara dunia pendidikan dan dunia anak semakin melebar.

Ketika Roblox terasa lebih menarik daripada buku pelajaran, sesungguhnya yang perlu dipertanyakan bukan hanya keberadaan game, tetapi juga pendekatan dalam proses pembelajaran. Anak-anak masa kini tumbuh di lingkungan yang serba cepat, visual, dan interaktif. Jika metode belajar tidak mampu mengikuti ritme tersebut, maka wajar jika mereka mencari alternatif yang lebih menarik.

Namun demikian, bukan berarti Roblox sepenuhnya harus disalahkan. Justru dari fenomena ini, kita dapat belajar bahwa anak-anak menyukai tantangan, kebebasan, serta pengalaman yang membuat mereka merasa terlibat secara aktif. Artinya, pembelajaran perlu dikemas lebih hidup, kontekstual, dan tidak semata berpusat pada teori.

Meski begitu, penggunaan game secara berlebihan tetap menjadi perhatian serius. Tanpa kontrol yang tepat, siswa berisiko kehilangan waktu, menunda tugas, bahkan mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Di sinilah peran orang tua dan guru menjadi krusial—bukan untuk melarang secara kaku, tetapi untuk mengarahkan serta menetapkan batasan yang bijak.

Sebagaimana firman Allah SWT:

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan…”
(QS. Al-‘Asr: 1–3)

Ayat ini mengingatkan bahwa waktu adalah amanah yang sangat berharga. Jika tidak dikelola dengan baik, maka yang tersisa bukanlah manfaat, melainkan kerugian.

Pada akhirnya, fenomena ini bukan sekadar tentang game atau buku pelajaran. Ini adalah cerminan bagaimana dunia pendidikan merespons perubahan zaman. Anak-anak tidak bisa dipaksa kembali ke metode lama, tetapi juga tidak boleh dibiarkan tenggelam dalam dunia digital tanpa arah.

Yang dibutuhkan adalah keseimbangan. Game tetap dapat dinikmati sebagai hiburan dan sarana kreativitas, tetapi belajar tidak boleh ditinggalkan. Teknologi dapat dimanfaatkan, namun nilai, disiplin, dan tanggung jawab harus tetap menjadi fondasi.

Jika keduanya mampu berjalan beriringan, maka generasi yang lahir bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam menghadapi tantangan kehidupan di era digital.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡