Tulisan Asruri Muhammad berjudul “Pecahkan Cermin atau Operasi Wajah? Refleksi atas Kritik Salafisme dan Otokritik Muhammadiyah” (PWMU.CO, 15 Januari 2026) patut diapresiasi sebagai ikhtiar merawat diskusi sehat pascaterbitnya tulisan saya, “Bahaya Salafisme di Tubuh Muhammadiyah” (PWMU.CO, 14 Januari 2026).
Asruri tidak menutup mata terhadap problem Salafisme, tetapi mengajak Muhammadiyah bercermin secara jujur. Dari sinilah diskusi menjadi penting—bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk memahami akar persoalan.
Dari refleksi tersebut, setidaknya terdapat tiga faktor utama yang menjelaskan mengapa Salafisme relatif mudah masuk dan mengisi ruang-ruang dakwah Muhammadiyah.
Pertama, lemahnya penguasaan ruang dakwah digital.
Hari ini, medan utama dakwah telah bergeser ke linimasa digital. Dalam perspektif teori hegemoni Antonio Gramsci, ideologi bekerja melalui pembentukan persetujuan sosial, bukan semata-mata melalui otoritas formal. Salafisme hadir di ruang ini secara konsisten, disiplin, dan sederhana.
Ketika Muhammadiyah belum hadir secara terstruktur dan ideologis di media digital, ruang budaya tersebut diisi oleh narasi lain. Ini bukan soal kalah teknologi, melainkan kalah dalam perebutan hegemoni makna.
Kedua, narasi Islam Berkemajuan yang belum sepenuhnya membumi.
Islam Berkemajuan adalah gagasan besar dan visioner. Namun, sebagaimana dicatat Asruri, narasi ini lebih hidup di ruang akademik dan elite persyarikatan. Di tingkat jamaah akar rumput, konsep ini belum sepenuhnya menemukan bentuk praksis yang mudah dipahami.
Jika dahulu warga Muhammadiyah dengan cepat mengidentifikasi dirinya sebagai anti-TBC, anti-tahlilan, atau anti-ziarah kubur, hari ini Islam Berkemajuan belum memiliki penanda identitas yang sesederhana itu.
Dalam teori framing ideologi, gagasan hanya akan efektif jika dekat dengan pengalaman sehari-hari umat. Kekosongan bingkai inilah yang kerap diisi oleh Salafisme dengan tawaran identitas yang tegas dan instan.
Ketiga, meredupnya tradisi pengembangan pemikiran Islam.
Besarnya Amal Usaha Muhammadiyah merupakan kekuatan sekaligus tantangan. Fokus yang terlalu besar pada aspek manajerial dan pragmatis berisiko melemahkan tradisi pemikiran serta kaderisasi ideologis.
Dalam perspektif Pierre Bourdieu, kondisi ini menunjukkan menyusutnya modal simbolik Muhammadiyah di arena keagamaan. Ketika ruang produksi gagasan tidak dirawat, aktor lain akan masuk dan mendefinisikan “Islam yang benar” menurut versinya sendiri.
Tiga faktor ini menunjukkan bahwa Salafisme tidak sekadar menyusup, melainkan mengisi ruang-ruang dakwah dan ideologi yang kosong. Oleh karena itu, respons yang dibutuhkan bukanlah kecaman emosional, melainkan strategi dakwah ideologis yang sistematis.
Muhammadiyah perlu melakukan langkah-langkah konkret. Pertama, membangun ekosistem dakwah digital yang terkoordinasi—bukan sekadar konten individual, melainkan narasi kolektif Islam Berkemajuan yang konsisten.
Kedua, melakukan reframing Islam Berkemajuan ke dalam bahasa praksis: bagaimana sikap beragama warga Muhammadiyah dalam kehidupan sehari-hari, di keluarga, masjid, dan ruang sosial.
Ketiga, menghidupkan kembali forum-forum pengembangan pemikiran Islam di tingkat ranting dan cabang agar kaderisasi ideologis tidak berhenti di kalangan terpelajar Muhammadiyah semata.
Menghidupkan Intelektual Organik Muhammadiyah
Menggunakan bahasa Gramsci, Muhammadiyah harus kembali memainkan peran sebagai intelektual organik umat. Pertarungan ini adalah pertarungan narasi dan kesadaran.
Muhammadiyah tidak cukup hanya berbeda dari Salafisme, tetapi harus menang dalam perebutan ideologi.
Jika ruang kosong itu tidak segera direbut kembali, ia akan terus diisi. Dan pada titik itulah, Salafisme bukan hanya menjadi persoalan internal Muhammadiyah, melainkan ancaman serius bagi masa depan Islam moderat dan keindonesiaan.






0 Tanggapan
Empty Comments