Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Sejarah Surabaya Ditentukan di Meja Rapat

Iklan Landscape Smamda
Ketika Sejarah Surabaya Ditentukan di Meja Rapat
Surabaya sebagai Resort Gemeente (Haminte) secara resmi mulai berdiri pada tanggal 1 April 1906. foto: Wikipedia
pwmu.co -

Pada 18 Maret 1975, sebuah keputusan penting lahir di Balai Kota Surabaya. Surat Keputusan Wali Kota Nomor 64/WK/75 menetapkan 31 Mei 1293 sebagai Hari Jadi Kota Surabaya. Sejak saat itu, tiap tahun warga Kota Pahlawan merayakan ulang tahunnya pada tanggal tersebut.

Kala itu, tak ada perdebatan besar yang muncul. Hasil kajian tim peneliti diterima bulat, seolah kebenarannya tak perlu digugat. Apalagi, tim itu terdiri dari orang-orang terkemuka: profesor hingga perwira militer aktif. Rakyat tentu percaya, mereka lebih paham soal sejarah.

Namun, waktu berjalan. Pada 2010, sebuah obrolan santai dengan almarhum sastrawan Jawa sekaligus pegawai Humas Pemkot Surabaya, Suparto Brata, membuka kembali lembaran kontroversi yang nyaris terlupakan.

Rapat Alot Pansus HJKS

“Justru kontroversi itu terjadi di kalangan peneliti sendiri,” ujar Suparto sambil tersenyum ketika ditemui di rumahnya di Rungkut, Surabaya.

Dia lalu bercerita, dirinya hanya menjadi juru tulis dalam serangkaian rapat Panitia Khusus Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) di DPRD Kotamadya Surabaya.

“Saya hanya mencatat hasil rapat. Lalu jadilah buku berjudul Hari Jadi Kota Surabaya, 682 Tahun Sura ing Baya. Tapi bukunya tidak pernah beredar,” kenangnya.

Rapat pansus itu bukan sekali-dua kali. Setidaknya delapan kali pertemuan digelar, mulai 8 Januari hingga 10 Februari 1975. Dari perdebatan yang alot itu, akhirnya diputuskan 31 Mei 1293 sebagai hari jadi kota.

Yang menarik, alasan pemilihan tanggal itu ternyata bukan semata berdasarkan bukti sejarah. Pertimbangan teknis juga ikut bermain.

Bulan Mei dipilih karena tidak berhimpitan dengan peringatan besar lainnya: Tahun Baru (1 Januari), Hari Kemerdekaan (17 Agustus), dan Hari Pahlawan (10 November). Dengan demikian, pemerintah punya jeda tiga bulanan untuk mengatur perayaan.

Ketika Sejarah Surabaya Ditentukan di Meja Rapat
Kanal sungai Jagir adalah kanal buatan tahun 1830-an. foto: fib.unair.ac.id

Empat Alternatif Tanggal

Padahal, sejak awal ada empat alternatif hari jadi yang diperdebatkan:

  • 31 Mei 1293, diajukan tim peneliti Heru Sukadri, Kolonel Laut Sugiyarto, dan Wiwiek Hidayat.
  • 11 September 1294, usulan Prof. Koentjoro Poerbopranoto.
  • 7 Juli 1358, berdasarkan Prasasti Canggu yang menyebut Surabaya sebagai Syurabhaya.
  • 4 November 1486, hasil kajian Suroso, meski dianggap “terlalu muda” untuk Surabaya.

Dari opsi-opsi tersebut, 7 Juli 1358 sebenarnya memiliki pijakan historis paling kuat. Prasasti Canggu jelas menyebut nama Surabaya sebagai wilayah di tepi sungai. Namun, pertimbangan itu kalah oleh alasan teknis: interval perayaan hari besar.

“Yang lebih logis sebenarnya 7 Juli 1358. Tapi akhirnya ya dipilih 31 Mei, alasan teknis lebih gampang,” ungkap Suparto Brata kala itu.

Mitos Pengusiran Tartar

Keputusan itu juga dikaitkan dengan kisah pengusiran Pasukan Tartar dari Jawa melalui Surabaya. Dalam buku Hari Jadi Kota Surabaya, 682 Tahun Sura ing Baya, disebutkan bahwa tentara Tartar hengkang lewat Sungai Jagir.

Namun, data sejarah justru berkata lain. Peta Surabaya tahun 1719 menunjukkan Sungai Jagir belum ada pada 1293. Kanal lurus itu baru digali pada 1830-an untuk mengatasi banjir.

Kanal itu kemudian dilengkapi pintu air bernama Bandjir Sluis. Jadi, klaim bahwa pasukan Tartar terusir lewat Jagir jelas diragukan kebenarannya.

Ketika Sejarah Surabaya Ditentukan di Meja Rapat
Peta tua Surabaya pada 1719 dimana belum ada sungai Jagir (pertatikan tanda silang) . Foto: kitlv.nl

Antara Sejarah dan Teknis

Dari kisah ini, kita belajar bahwa sejarah sebuah kota kadang ditentukan bukan semata oleh fakta, tetapi juga oleh pertimbangan teknis dan politis. Surabaya memilih 31 Mei bukan karena bukti paling kuat, melainkan karena “lebih praktis” bagi pemerintah.

Lalu, apakah salah? Tidak juga. Sebab sejak 1975 hingga 2025, warga Surabaya tetap merayakan hari jadinya dengan penuh semangat pada tanggal itu. Namun, di balik perayaan meriah setiap tahun, tersimpan kisah kompromi panjang antara pertimbangan historis dan teknis.

Seperti kata Suparto Brata dengan tawa kecilnya, “Ha… ha… ha… akhirnya dipilih 31 Mei, momen pengusiran Tartar dari Surabaya.”

Kisah ini mengingatkan kita: sejarah kota bukan hanya soal masa lalu, tapi juga tentang bagaimana masa lalu itu ditafsirkan—dan kadang, disederhanakan—demi kepentingan masa kini. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu