Suasana pagi di Masjid Nurul Islam Kalijudan terasa khidmat pada Ahad pagi, 25 Maret 2026. Selepas salat Subuh, para jamaah yang memenuhi masjid tersebut mengikuti kajian kuliah Subuh yang disampaikan oleh Muchamad Arifin.
Dalam kajian yang berlangsung hangat dan penuh renungan itu, Ustadz Arifin—yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah—mengajak jamaah menjadikan ibadah puasa sebagai jalan menuju ketakwaan sekaligus meraih ampunan Allah.
Menurutnya, Ramadan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah wadah besar yang di dalamnya terdapat sistem ibadah yang saling terhubung satu sama lain.
“Ramadan adalah wadah yang di dalamnya ada sistem. Setiap bagian dari sistem itu saling berkaitan dan harus dijalankan bersama,” ungkapnya di hadapan jamaah yang menyimak dengan penuh perhatian.
Ia menjelaskan bahwa dalam sistem ibadah Ramadan terdapat beberapa rangkaian amal utama yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Di antaranya adalah siyamu Ramadan (puasa Ramadan), qiyamu Ramadan (menghidupkan malam dengan salat dan ibadah), infak dan sedekah, serta menjaga akhlak dan perilaku.
Menurutnya, seluruh rangkaian itu harus dijalankan secara utuh agar tujuan Ramadan benar-benar tercapai.
“Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum. Puasa adalah proses membangun akhlak, menguatkan kepedulian sosial, serta mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah yang terus berkesinambungan,” jelasnya.
Namun suasana kajian yang semula penuh dialog ringan tiba-tiba berubah hening ketika Ustadz Arifin mulai menceritakan pengalamannya yang baru saja kembali dari perjalanan dakwah di wilayah timur Indonesia.
Dengan nada suara yang lebih dalam, ia mengisahkan perjalanannya ke Merauke, wilayah yang berada di batas timur Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di sana, katanya, dakwah menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan dengan wilayah perkotaan.
“Dakwah di daerah terpencil tidak semudah dakwah di kota metropolitan,” tuturnya perlahan.
Jika di kota besar berbagai fasilitas tersedia dengan lengkap—akses transportasi mudah, sarana pendidikan dan keagamaan memadai—maka di daerah pinggiran dan pedalaman justru sebaliknya. Para dai sering harus menempuh perjalanan panjang, melewati jalan yang sulit, bahkan terkadang menghadapi keterbatasan fasilitas dasar.
“Transportasi sulit, fasilitas terbatas, bahkan untuk menjangkau satu kampung ke kampung lain kadang membutuhkan waktu yang tidak singkat,” ungkapnya.
Cerita itu membuat jamaah terdiam. Pagi yang semula terasa ringan berubah menjadi momen refleksi yang menyentuh hati.
Ustadz Arifin kemudian mengajak jamaah untuk menyadari bahwa kemudahan beribadah yang dirasakan di kota adalah nikmat besar yang patut disyukuri. Di saat yang sama, umat Islam juga perlu memiliki kepedulian terhadap dakwah di wilayah-wilayah terpencil yang masih membutuhkan banyak dukungan.
“Di tempat-tempat yang jauh dari keramaian itu, dakwah tetap berjalan. Ada saudara-saudara kita yang terus berjuang menjaga cahaya Islam agar tetap menyala,” katanya.
Kajian kuliah Subuh itu pun ditutup dengan pesan sederhana namun mendalam: menjadikan Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, tetapi sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat kepedulian sosial, serta mendukung dakwah Islam hingga ke pelosok negeri.
Di tengah cahaya pagi yang mulai menerangi halaman masjid, para jamaah meninggalkan tempat kajian dengan hati yang terasa lebih hangat—membawa pulang bukan hanya ilmu, tetapi juga kesadaran bahwa dakwah dan kebaikan harus terus menjangkau hingga ke ujung negeri. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments