Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PWM Jawa Timur, Dr Hasan Ubaidillah, M.M, menjadi pemateri dalam Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah (PM3) Tahun 2025 yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Lamongan, Sabtu (27/12/2025) malam. Kegiatan tersebut berlangsung di SMA Muhammadiyah 1 Babat, Lamongan.
Dalam materinya yang bertajuk “Ideologi Muhammadiyah”, Hasan Ubaidillah menegaskan bahwa ideologi Muhammadiyah tidak boleh dipahami secara sempit sebagai kumpulan ajaran teologis atau aturan organisasi semata.
“Ideologi Muhammadiyah bukan hanya seperangkat ajaran teologis atau aturan organisasi. Ia adalah cara pandang terhadap Islam, kemanusiaan, kebangsaan, dan peradaban,” tegasnya di hadapan peserta PM3.
Ia menjelaskan, ideologi Muhammadiyah memiliki akar yang kuat, mulai dari tauhid, ikhtiar, hingga empat pilar ideologi Muhammadiyah. Namun, yang lebih penting dari sekadar menghafal konsep tersebut adalah memahami relevansinya dalam konteks zaman yang terus berubah.
“Ideologi Muhammadiyah memang tidak berubah sejak dirumuskan oleh KH Ahmad Dahlan, tetapi cara pandangnya harus dinamis. Ideologi itu harus terus didialogkan dengan realitas sosial dan perkembangan zaman,” ujarnya.
Menurut Hasan, anak muda—termasuk kader IMM—justru menjadi kelompok paling tepat untuk membicarakan dan mendiskusikan ideologi. Sebab, ideologi berperan penting dalam membentuk kerangka berpikir, orientasi moral, dan kompas etis dalam bertindak.
“Ideologi itu seperti kompas. Ia memberi arah apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas dilakukan. Dalam berorganisasi, bahkan dalam menyikapi persoalan sosial dan politik, ideologi menjadi dasar pijakan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ideologi Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada loyalitas emosional, tetapi harus diperkuat dengan pemahaman rasional.
“Cinta kepada Muhammadiyah itu penting, tetapi tidak cukup. Loyalitas emosional harus dibarengi dengan pemahaman rasional. Jika ideologi tidak pernah didiskusikan, maka kader bisa tertinggal secara pemikiran,” tandasnya.
Ubaid juga mengingatkan tantangan kader IMM ke depan akan semakin kompleks, terutama di tengah perubahan sosial, budaya, dan percepatan teknologi yang begitu cepat.
“Belum selesai kita memahami satu persoalan, sudah muncul persoalan baru. Karena itu, ideologi Muhammadiyah harus terus dikontekstualisasikan agar tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman,” pungkasnya.
Melalui materi ini, peserta PM3 diharapkan mampu memahami ideologi Muhammadiyah secara lebih mendalam, kritis, dan kontekstual, sehingga mampu menjadi mubaligh yang tidak hanya militan secara emosional, tetapi juga matang secara intelektual dan ideologis. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments