
PWMU.CO – Dakwah menggembirakan merupakan pendekatan yang harus dilakukan dalam menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Metode ini merupakan sunah yang diajarkan dan dipesankan oleh Rasulullah Muhammad Saw.
Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Abdul Basith Lc MPdI, dalam Pengajian Sabtu Pagi (SaPa) yang diselenggarakan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Gresik Kota Baru (GKB) 4 dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) GKB 4 di Masjid At-Tanwir Randuagung, Sabtu (3/5/2025).
Dalam ceramahnya, Abdul Basith menyinggung peristiwa Perang Uhud. Ia menjelaskan bahwa pada awalnya umat Islam meraih kemenangan. Namun, pasukan pemanah yang ditempatkan di Bukit Rumat (atau Bukit Pemanah) turun dari posisinya untuk mengambil rampasan perang (ghanimah) yang ditinggalkan pasukan Quraisy. Melihat kelemahan ini, Khalid bin Walid—yang saat itu belum memeluk Islam—memutar dari arah belakang bukit untuk menyerang balik pasukan kaum Muslimin. Akibatnya, pasukan Islam menjadi kocar-kacir dan Rasulullah pun harus mengamankan diri dari kejaran musuh.
“Lalu, apakah Rasulullah marah kepada para sahabat yang melanggar perintah untuk tidak meninggalkan Bukit Rumat dalam kondisi apa pun?” tanya Ustadz Abdul Basith.
“Tidak,” jawabnya. Bahkan, lanjutnya, Allah memuji sikap Rasulullah tersebut sebagaimana termaktub dalam Surah Ali Imran ayat 159, yang artinya: “Maka, karena rahmat dari Allah, engkau (Muhammad) bersikap lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu.”
“Inilah ayat yang menjadi dasar dalam menjalankan dakwah Islam,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa ketegasan bukan berarti bersikap kasar. Jika ada orang yang berdiskusi dengan cara kasar, menurutnya, itu bukanlah ketegasan, melainkan ajakan untuk berkelahi.
Karena itu, dalam berdakwah hendaknya lebih mengedepankan Fikih Sosial yang mengandung empati terhadap objek dakwah. “Hal ini akan terasa ringan jika kita memegang prinsip bahwa dakwah adalah proses yang harus dijalani, bukan sekadar tujuan akhir agar masyarakat mengikuti apa yang kita sampaikan,” pesannya.
Ia juga mengutip Surah an-Nahl ayat 125 yang berbunyi: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Sikap lembut Rasulullah, lanjutnya, juga tampak ketika menghadapi seorang Badui yang kencing di pojok Masjid Nabawi. Alih-alih memarahi, Rasulullah meminta para sahabat untuk menyiram bekas air kencing tersebut. Peristiwa ini berdampak besar, karena orang Badui tersebut kemudian menyampaikan kelembutan dakwah Rasulullah kepada kaumnya. “Coba jika dihadapi dengan kasar, tentu yang ia sampaikan ke kaumnya adalah kekasaran para sahabat, bukan kesalahannya yang mengencingi masjid,” ujarnya.
Menurutnya, dalam konteks kekinian, cara dakwah yang dilakukan PRM GKB 4 dengan menyediakan soto dan sayur-mayur kepada jamaah sudah memenuhi kriteria dakwah yang menggembirakan.
“Kita harus selalu ingat pesan Rasulullah: Bashshiru wala tunaffiru, yassiru wala tu’assiru, yang artinya: Berikanlah kabar gembira, jangan menakut-nakuti. Permudahlah, jangan mempersulit,” pungkas tenaga pendidik di Ma’had Umar bin Al-Khattab ini. (*)
Penulis Aries Kurniawan Editor Amanat Solikah


0 Tanggapan
Empty Comments