Rangkaian Kajian Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur bertempat di Universitas Muhammadiyah Jember terus bergulir. Pada sesi Kuliah Subuh di Masjid Al-Qolam, Universitas Muhammadiyah Jember, hadir sebagai pembicara Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bondowoso, M. Malik, M.Ag.
Dalam ceramahnya, M. Malik menyoroti tantangan dakwah modern yang seringkali hanya berkutat di lingkungan internal (umat yang sudah taat), namun abai dalam menyebarkan nilai-nilai Islam kepada pihak eksternal atau mereka yang berbeda keyakinan.
Meluruskan Distorsi Sejarah dan Pernikahan Rasulullah
Membuka kajiannya, M. Malik mengutip pemikiran dari buku karya Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA. mengenai “Islam yang Disalahpahami: Menepis Prasangka, Mengikis Kekeliruan Islam yang Disalahpahami”.
Ia menjelaskan bahwa seringkali pihak luar mengkritik Islam karena ketidaktahuan mereka terhadap konteks sejarah, terutama mengenai kehidupan pribadi Nabi Muhammad SAW.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy. M. Malik menjelaskan bahwa pernikahan tersebut bukanlah didasari oleh keinginan personal semata, melainkan perintah Allah untuk meruntuhkan budaya jahiliyah yang menyetarakan anak angkat dengan anak kandung.
“Pernikahan ini adalah salah satu ujian terberat bagi Rasulullah. Beliau harus menghadapi kritik tajam dari masyarakat saat itu demi menegakkan hukum Allah bahwa status anak angkat tidak sama dengan anak kandung dalam urusan syariat dan waris,” jelas M. Malik.
Kritik Internal: Dari Masalah Nasab hingga Kebersihan
Tak hanya menjawab kritik eksternal, M. Malik juga memberikan teguran keras kepada umat Islam sendiri. Ia menyinggung fenomena pengkultusan nasab yang berlebihan yang terkadang menimbulkan rasa sombong atau diskriminasi di tengah masyarakat.
Menurutnya, kesetaraan dalam Islam adalah prinsip utama. Selain itu, ia menyentil perilaku kurang terpuji sebagian umat terkait kebersihan lingkungan, seperti membuang puntung rokok atau sampah sembarangan.
“Jika kita membuang sampah sembarangan, seolah-olah kita menganggap seluruh muka bumi ini adalah tempat sampah. Ini adalah bentuk pelecehan terhadap upaya menjaga lingkungan yang seharusnya menjadi cerminan iman,” tegasnya.
Dakwah Inklusif
Di akhir ceramah, Ketua PDM Bondowoso ini mengajak jamaah untuk memperluas jaringan dakwah. Ia mendorong para dai untuk berani berinteraksi dengan kelompok-kelompok di luar Muhammadiyah maupun orang yang berbeda keyakinan dengan cara yang santun dan edukatif.
“Dakwah kita jangan hanya kepada orang yang sudah khusyuk di masjid. Kita harus mulai mengenalkan nilai Al-Qur’an kepada mereka yang belum paham, membangun kawan, dan menghindari sikap mudah mengkafirkan sesama,” tutupnya.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut diakhiri dengan pesan agar warga Muhammadiyah senantiasa menjadi teladan dalam toleransi dan kebersihan, serta terus memperluas syiar Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments