Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Drs KH Shodikin M.Pd, mengajak warga Muhammadiyah untuk menggembirakan dakwah dan berdakwah dengan penuh kegembiraan saat membuka Festival Drumband Muhammadiyah Lamongan (FDML) 2025 di Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla), Sabtu (13/12/2025).
Dalam sambutannya, KH Shodikin menegaskan bahwa FDML bukan sekadar ajang pertunjukan seni, tetapi juga media silaturahmi dan penguatan dakwah kultural Muhammadiyah. Melalui seni drumband, warga persyarikatan dapat mengasah keterampilan sekaligus menyampaikan nilai-nilai Islam dengan cara yang menggembirakan.
“Melalui FDML ini, warga Muhammadiyah bisa bersilaturahmi sekaligus mengasah keterampilan seni budaya, khususnya drumband, yang bagi Muhammadiyah merupakan media dakwah yang efektif,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pesan dan amanat KH AR Fachruddin agar dakwah dilakukan dengan bahagia serta membahagiakan, bukan untuk saling bersaing apalagi bermusuhan.
“Tujuan inti FDML yang pertama kali digelar oleh LSBO PDM Lamongan ini adalah menumbuhkan semangat drumband di ranting-ranting. Kegiatan ini digelar dalam rangka Milad ke-113 Muhammadiyah, bukan untuk bersaing secara serius, tetapi untuk berteman dan berlomba dalam kebaikan, fastabiqul khairat,” tuturnya.
Usai secara resmi membuka FDML 2025 dengan membaca basmalah, sambutan Ketua PDM Lamongan ditutup dengan yel khas “Lamongan Megilan” yang disambut meriah oleh 32 grup drumband yang memadati Dome UMLA pagi itu.
Tampilan Inspiratif dari Aisyiyah
Dari 32 korps drumband yang tampil, dua di antaranya sukses mencuri perhatian dan menginspirasi bangkitnya drumband di tingkat ranting, yakni korps drumband Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Sendangagung dan PRA Blimbing.
Dua PRA dari wilayah Pantura, PCA Paciran, ini tampil penuh semangat dan percaya diri, seolah tak mau kalah dengan peserta dari tingkat SMP/MTs maupun SMA/MA. Meski para anggotanya bukan lagi usia muda, antusiasme mereka begitu terasa sepanjang penampilan.
Ketua PDM Lamongan pun tampak terkesima menyaksikan penampilan korps drumband emak-emak tersebut. Setiap alunan lagu diiringinya dengan tepukan kedua telapak tangan sebagai bentuk apresiasi.
Penampilan ini juga mengundang respons spontan dari Maratus Sholihah, anggota Aisyiyah Takerharjo, Solokuro. Ia mengaku terinspirasi untuk menghidupkan kegiatan Aisyiyah di rantingnya melalui drumband.
“Ini menginspirasi saya untuk memantik semangat ibu-ibu Aisyiyah di Takerharjo agar bermain drumband. Saya paham, ini kegiatan yang menarik sekaligus membahagiakan dakwah,” ujarnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments