Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketua Umum PP Muhammadiyah Sampaikan Pentingnya Sistem KHGT

Iklan Landscape Smamda
Ketua Umum PP Muhammadiyah Sampaikan Pentingnya Sistem KHGT
pwmu.co -
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir MSi menekankan pentingnya KHGT (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir MSi, turut memberikan orasi ilmiah pada pelaksanaan wisuda ke-45 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melalui saluran daring, Sabtu (26/7/2025).

Dalam orasinya, Prof Haedar menjelaskan inovasi terbaru Muhammadiyah, yaitu peluncuran Sistem Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).

“Hari ini Umsida melaksanakan wisuda ke-45. Kami atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan tahniah, selamat atas pelaksanaan wisuda ini,” ujarnya.

Ia berharap wisuda ini memperkuat keberadaan dan peran Umsida sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang berkemajuan, menghasilkan lulusan yang cerdas, berilmu, berakhlak mulia, serta mampu memberi kemaslahatan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.

“Wisuda ini bukan sekadar proses pelepasan, tapi juga peneguhan dan pengokohan. Para lulusan harus menjadi insan terbaik sesuai bidang ilmunya, dengan integritas dan keahlian yang memberi maslahat bagi orang banyak,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya menjadikan ilmu sebagai manfaat nyata, sesuai sabda Nabi Muhammad SAW: Khairunnas anfa’uhum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

KHGT sebagai Inovasi Peradaban Islam

Prof Haedar menjelaskan bahwa PP Muhammadiyah terus melaksanakan usaha pendidikan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu terobosan pentingnya adalah peluncuran Sistem Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).

Menurutnya, KHGT merupakan ijtihad Muhammadiyah untuk menjawab perbedaan penetapan awal Ramadan, Idulfitri, Iduladha, dan hari-hari besar Islam lainnya. Selama ini, umat Islam sering berbeda dalam menentukan awal bulan Hijriyah karena belum memiliki sistem kalender tunggal.

“Perbedaan itu bukan semata karena metode, tetapi karena kita belum memiliki satu kalender bersama, sebagaimana kalender Masehi yang digunakan secara global dan seragam,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa sistem kalender Hijriyah tunggal akan menjadi solusi jangka panjang yang mengedepankan kepastian dan akurasi. Dengan KHGT, umat tidak lagi berpikir secara parsial atau lokal.

KHGT mengacu pada hisab, yaitu perhitungan astronomi yang kekuatannya diakui dalam Al-Qur’an dan hadis. Dengan sistem ini, penentuan tanggal penting dalam Islam seperti 1 Ramadan, 1 Syawal, 1 Dzulhijjah, dan 1 Muharram dapat diketahui jauh hari, bahkan hingga 25, 50, atau 100 tahun ke depan.

Prof Haedar menyatakan, Islam mendorong penggunaan akal dan perhitungan sebagai bentuk penguatan ilmu pengetahuan dalam kehidupan. Dalam konteks itu, metode hisab dinilai lebih pasti dan tidak spekulatif.

“Dengan metode hisab, penentuan tanggal tidak lagi bersifat insidental, seperti menunggu H-1. Itu merupakan situasi waktu yang spekulatif: bisa iya, bisa tidak,” katanya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Ukhuwah Global dan Kepastian Ibadah

KHGT dinilai bukan hanya memberi kepastian waktu, tapi juga menjadi fondasi memperkuat ukhuwah Islamiyah secara global. Sistem kalender ini memudahkan umat Islam dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan, berbeda dengan kalender Masehi yang dimulai pukul 00.00, kalender Hijriyah dimulai sejak matahari terbenam, memberikan kejelasan antara siang dan malam.

“Ukhuwah dalam kehidupan sosial dan toleransi beragama sudah bisa kita lakukan. Namun ukhuwah untuk punya satu kalender di seluruh dunia Islam yang seragam dan tunggal, masih belum terwujud,” ujarnya.

KHGT, lanjutnya, tidak hanya berpijak pada akurasi ilmiah, tetapi juga pada syariat dan kearifan Islam. Dalam beragama, Al-Baqarah ayat 185 menegaskan bahwa Allah menghendaki kemudahan, bukan kesulitan.

Oleh karena itu, KHGT diyakini sebagai instrumen penting dalam menciptakan kemudahan beribadah dan kehidupan umat secara global.

Prof Haedar mendorong seluruh elemen umat Islam untuk membuka hati dan berdialog demi mewujudkan sistem kalender tunggal. “Perjalanan ini mungkin panjang. Tapi jika ada kemauan bersama, Islam akan menjadi rahmatan lil ‘alamin secara global lewat KHGT,” tandasnya.

Ia menutup orasinya dengan menegaskan bahwa membangun sistem kalender tunggal adalah bagian dari membayar utang peradaban umat Islam.

“Kalender Masehi sudah menjadi acuan global. Sayangnya, umat Islam masih tertinggal karena belum punya kalender Hijriyah yang tunggal. Ini menimbulkan kesulitan, tidak hanya dalam ibadah, tapi juga dalam transaksi muamalah duniawi,” ujarnya.

“Jika dunia bisa memakai satu kalender Masehi, maka umat Islam juga harus mampu memiliki sistem kalender Hijriyah yang tunggal, pasti, dan global,” pungkasnya. (*)

Penulis Romadhona S Editor Wildan Nanda Rahmatullah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡