Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KH Ja’far Yasa’, Ulama Sederhana dari Rahim Persyarikatan

Iklan Landscape Smamda
KH Ja’far Yasa’, Ulama Sederhana dari Rahim Persyarikatan
KH Ja'far Yasa' bersama istri, Nanik Mariani. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Terinspirasi dari sosok Ja’far bin Abu Thalib, sahabat Nabi yang gugur dalam Perang Mu’tah, pasangan suami istri Yasa’ dan Munta’dillah memberi nama putra mereka: Ja’far Yasa’. Lahir di Desa Tunggul, Paciran, Lamongan pada 6 Maret 1957, Ja’far kecil tumbuh dalam asuhan keluarga yang sarat nilai keagamaan. Sejak dini, ia mendapat tempaan pendidikan agama yang dalam dari kedua orang tuanya.

Ditempa dengan Pendidikan Muhammadiyah yang Kokoh

Desa Tunggul merupakan salah satu titik awal persebaran dakwah Muhammadiyah di Lamongan. Tak heran bila pendidikan Ja’far Yasa’ sangat kental dengan kultur persyarikatan. Sang ayah, Yasa’, adalah alumni Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem Paciran. Sedangkan ibunya, Munta’dillah, merupakan lulusan Sekolah Rakyat. Gaya pendidikan Muhammadiyah yang diperoleh ayahnya diteruskan dalam pola asuh keluarga, termasuk kepada Ja’far.

Sejak kecil, Ja’far dikenal haus ilmu. Ia menempuh pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Blimbing Paciran, lalu melanjutkan ke PGA (Pendidikan Guru Agama) Muhammadiyah Paciran pada tahun 1971. Selama belajar di PGA, Ja’far juga nyantri secara kalong di Pesantren Muhammadiyah Karangasem Paciran di bawah asuhan KH Abdurrahman Syamsuri. Enam tahun lamanya ia belajar di sana hingga lulus pada tahun 1977.

Setahun kemudian, ia menimba ilmu di tingkat aliyah di Pesantren Ar-Raudhatul Ilmiyah Kertosono, yang saat itu diasuh KH Mustain Kastam, alumni Karangasem Paciran. Di pesantren inilah Ja’far banyak belajar keilmuan Islam dari berbagai guru. Salah satu yang pernah mendidiknya adalah almarhum Abdul Fatah Wibisono, tokoh Muhammadiyah yang kelak menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2010–2015.

Sosok Tegas nan Sederhana

Usai menyelesaikan pendidikan, Ja’far mengajar balaghah di Pesantren Ar-Raudhatul Ilmiyah Kertosono. Di hadapan santrinya, ia dikenal sebagai sosok yang tegas. Ia tak segan menegur kesalahan dalam membaca maupun menerjemahkan kitab kuning. Meski begitu, ketegasannya selalu dibarengi kelembutan. Ia akrab dengan para santri, bahkan tak jarang ikut memasak bersama mereka.

Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Sholikh Al Huda, M.Fil.I, yang pernah menjadi santrinya, mengenang:

“Beliau sosok kharismatik, tegas, namun teduh. KH Ja’far Yasa’ bukan hanya mengajarkan ilmu agama dari kitab kuning, tetapi juga akhlak, kemandirian, dan pengabdian kepada umat.”

Di masa pengabdiannya, Ja’far menikah dengan salah satu santriwati asal Jombang, Nanik Mariani. Dari pernikahan itu lahirlah lima anak: Muhammad Ibadur Rahman, Muhammad Mujahidur Rahman, Sayyidah Mubarokah, Muhammad Nur Ali Mubarok, dan Sayyidul Umam Mubarok, yang kini aktif di IMM Ciputat.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Menjadi Pengasuh

Tahun 1994 menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Wafatnya KH Musta’in Kastam membuat pesantren mengadopsi sistem trimurti, serupa dengan Pondok Modern Gontor. Tiga pengasuh ditunjuk: KH Ali Manshur Kastam (pengasuh utama), KH Ali Hamdi Muda’im, dan KH Ja’far Yasa’.

Di masa inilah pesantren mulai memiliki lembaga pendidikan formal sendiri, mulai MTs hingga MA dengan jurusan IPA dan IPS. Pada tahun ajaran 2010/2011, ditambahkan jurusan keagamaan. KH Ja’far Yasa’ terlibat aktif membesarkan pesantren, dengan gaya kepemimpinan yang sederhana namun penuh keteladanan.

Di mata para santri, beliau adalah teladan hidup. Mereka kerap melihatnya makan sepiring berdua bersama sang istri, Nanik Mariani—sebuah simbol kesederhanaan yang melekat dalam kesehariannya. Ia ikhlas dalam mengajar, menekankan bahwa ilmu harus diamalkan demi kemaslahatan masyarakat.

Dr. Sholikh kembali menuturkan, “Beliau memiliki pola kepemimpinan sederhana namun tegas. Doa-doanya yang mustajab menjadi bekal spiritual bagi kami dalam menempuh hidup. Sosok teladan itu akan selalu hidup dalam jiwa kami.”

Kepergian Sang Teladan

Pada 24 Mei 2025, kabar duka itu datang. KH Ja’far Yasa’ berpulang di RSUD Kertosono Nganjuk, pukul 22.30 WIB. Kepergiannya menyisakan luka mendalam, terutama bagi keluarga dan santrinya. Namun, warisan ilmu dan teladan kehidupannya tak akan pernah hilang.

KH Ja’far Yasa’ mungkin telah tiada secara jasmani, namun ruh perjuangan dan keteladanannya tetap hidup dalam setiap santri yang pernah disentuh oleh ilmunya. Ia bukan hanya guru, tetapi juga bapak yang menuntun, sahabat yang mendampingi, dan teladan yang terus menyalakan cahaya di hati umat. Dari rahim persyarikatan, lahirlah seorang ulama sederhana yang karyanya abadi: KH Ja’far Yasa’. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu