Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KH. Nadjih Ihsan Kupas Makna Syahadat dan Batasan Tawasul dalam Ibadah Umat Islam

Iklan Landscape Smamda
KH. Nadjih Ihsan Kupas Makna Syahadat dan Batasan Tawasul dalam Ibadah Umat Islam
KH. Nadjih Ihsan. Foto: tangkapan layar youtube
pwmu.co -

Ulama Muhammadiyah KH. Nadjih Ihsan menyampaikan penjelasan penting mengenai makna syahadat, tugas kerasulan Nabi Muhammad saw, serta kaidah bertawasul yang benar menurut tuntunan Al-Qur’an dan hadis.

Ceramah yang disampaikan dengan bahasa lugas itu, menekankan satu pesan penting: tidak dibenarkan menjadikan Allah sebagai perantara kepada makhluk, sebagaimana tertuang dalam pembahasan Bab 65 Kitab Tauhid.

Kiai Nadjih menegaskan bahwa dua kalimat syahadat bukan sekadar lafaz, tetapi penggambaran total mengenai hubungan manusia dengan Allah dan Rasul-Nya.

Kata dia, kalimat lā ilāha illallāh bermakna la ma‘buda bi haqqin illallah, yakni tidak ada satu pun yang berhak disembah selain Allah. Implikasi dari syahadat ini adalah wujubut ta‘zhim, kewajiban mengagungkan Allah dalam seluruh bentuk ibadah.

“Ibadah itu karakternya tadallul wa ta‘zhim. Fisik, harta, ilmu, jabatan, semuanya dipakai merendahkan diri di hadapan Allah sekaligus mengagungkan-Nya,” ujarnya seperti dikutip dalam kanal Youtube EnerLife dan EnerAction.

Sementara syahadat kepada Nabi Muhammad saw mencakup lima hal: meyakini beliau sebagai utusan Allah, membenarkan kabar yang dibawa, menaati perintahnya, meninggalkan larangannya, dan beribadah kepada Allah menurut syariat yang beliau ajarkan.

Menurut Kiai Nadjih, Al-Qur’an berulang kali menggambarkan reaksi orang-orang kafir terhadap dakwah tauhid, menunjukkan bahwa tugas utama Rasul adalah tashhīhul ‘aqīdah, meluruskan keyakinan kepada Allah.

“Mereka heran ketika Muhammad menjadikan Tuhan yang banyak itu hanya satu. Persoalan umat dari dulu sampai 2025 ini sama saja. Ketika Tuhan yang diyakini banyak, maka persoalan datang dari mana-mana,” beber pria yang juga anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim ini.

Tugas Nabi yang kedua, lanjut Kiai Nadjih, adalah taskhīlul ibādah, meluruskan tata cara ibadah agar sesuai dengan petunjuk Allah. Bagian utama ceramah kemudian memasuki pembahasan yang menjadi perhatian jamaah: larangan menjadikan Allah sebagai perantara kepada makhluk-Nya.

Kiai Nadjih menguraikan satu-satunya hadis dalam bab tersebut yang diriwayatkan Jubair bin Mut‘im ra. Hadis itu bercerita tentang seorang Arab Badui yang datang kepada Nabi Muhammad saw  di masa paceklik panjang, ketika manusia kepayahan, anak-anak kelaparan, dan harta benda rusak.

Orang itu meminta Nabi berdoa kepada Allah agar hujan turun. Permintaan seperti ini, kata KH Nadjih, termasuk tawasul yang dibolehkan karena dilakukan kepada orang yang masih hidup.

Namun, sang Badui kemudian melanjutkan ucapan kedua: “Dan sungguh kami menjadikan Allah sebagai perantara kepadamu.”

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Mendengar itu, Rasulullah saw langsung marah dan mengucap subhanallah berulang kali. Nabi memanggil orang tersebut dan berkata: “Celakalah engkau! Tahukah engkau siapa Allah itu? Sesungguhnya Allah jauh lebih agung dari yang demikian. Tidak dibenarkan menjadikan Allah sebagai perantara kepada makhluk-Nya.”

Kiai Nadjih menegaskan bahwa memohon kepada Allah adalah bentuk pengagungan. Namun ketika seseorang “menjadikan Allah” sebagai perantara antara manusia dan manusia, maka ia justru menurunkan keagungan Allah.

“Itu sebabnya Nabi sampai marah. Karena kedudukan Allah terlalu agung untuk dijadikan perantara,” tegasnya.

Kiai Nadjih kemudian menjelaskan jenis-jenis tawasul yang dibenarkan syariat, sebagaimana tertuang dalam Al-Maidah ayat 35: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan mendekatkan diri) kepada-Nya.”

Menurutnya, wasilah yang dimaksud adalah berbagai amal saleh yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Ia merinci beberapa jenis tawasul yang sah:

  • Tawasul dengan iman, sebagaimana doa kaum beriman dalam Al-Qur’an.
  • Tawasul dengan tauhid, sebagaimana doa Nabi Yunus dalam perut ikan, “La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin.”
  • Tawasul dengan Asmaul Husna.
  • Tawasul dengan sifat-sifat Allah.
  • Tawasul dengan amal saleh, seperti salat, sedekah, berbuat baik kepada orang tua, kejujuran, dan membaca Al-Qur’an.
  • Tawasul dengan meninggalkan maksiat.

KiaiNadjih juga menyinggung tentang selawat Nabi. Menurutnya selawat termasuk amal saleh dan menjadi salah satu bentuk tawasul.

Namun ia menegaskan bahwa yang dipakai adalah selawat yang diajarkan Nabi melalui hadis, bukan selawat yang tidak bersumber dari tuntunan Rasul.

Kiai Nadjih juga memberi pesan utama hadis yang dibahas: “Mengagungkan Allah itu dengan langsung meminta kepada-Nya. Tidak boleh memposisikan Allah sebagai perantara—itu tidak sesuai dengan tauhid.”

Ceramah ditutup dengan pembahasan ulang tentang permintaan orang Badui kepada Nabi dan bagaimana Rasulullah mengoreksi kesalahan cara bertawasul yang tidak memuliakan Allah. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡