
Oleh Prof Dr H Biyanto MAg (Guru Besar UIN Sunan Ampel dan Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur)
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحِسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Hadirin, jamaah rahima kumullah
PWMU.CO- Allah Swt menegaskan bahwa menunaikan ibadah haji ke tanah suci itu merupakan kewajiban bagi orang yang sudah memiliki kemampuan (istitha’ah). Tetapi penting dipahami bahwa pelaksanaan ibadah haji bukan hanya berkaitan dengan kemampuan membayar biaya dan kekuatan fisik. Ibadah haji juga mensyaratkan kesiapan mental spiritual.
Yang juga tak kalah penting adalah jaminan keamanan dari pelayan dua kota suci (khadimul haramain), yakni Kerajaan Saudi Arabia. Tiadanya jaminan keamanan akan mempengaruhi kewajiban ibadah haji. Karena persyaratan yang begitu ketat, maka Allah menekankan bahwa ibadah haji hanya diwajibkan bagi orang yang mampu melaksanakan perjalanan ke Baitullah (Qs Ali ‘Imran: 97).
Allah SWT juga memberikan pesan sekaligus perintah yang tegas agar setiap jamaah haji membawa bekal yang terbaik. Dan, bekal terbaik dalam pandangan Allah adalah bertakwa (Qs al-Baqarah: 197). Modal ketakwaan itulah yang akan menjamin setiap jamaah mampu meneladani karakter tokoh-tokoh yang diperankan tatkala menunaikan ibadah haji.
Hadirin, jamaah rahima kumullah
Keutamaan Ibadah Haji
Bagi setiap muslim, menunaikan ibadah haji ke tanah suci merupakan dambaan. Bahkan bagi mereka yang sudah berhaji sekalipun, hasrat untuk beribadah ke tanah suci tetap tinggi. Pergi ke tanah suci juga memberikan kesempatan setiap jamaah untuk berziarah ke tempat-tempat bersejarah. Selain untuk menyempurnakan rukum Islam, ibadah haji senantiasa memberikan pengalaman keagamaan yang begitu mendalam.
Karena itulah dapat dipahami jika gairah umat untuk menjalankan ibadah haji selalu menggelora. Semangat umat menunaikan rukun Islam kelima itu pula yang menjadikan antrean Calon Jamaah Haji (CJH) terus mengular. Daftar tunggu CJH mencapai puluhan tahun. Antrean CJH di sejumlah daerah berkisar 20-30 tahun. Bahkan beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan antrean CJH mencapai 45-50 tahun.
Antrean CJH yang begitu panjang menandakan dua hal. Pertama, gairah umat untuk beribadah sangat tinggi. Kedua, antrean panjang dari CJH itu juga menunjukkan bahwa kesejahteraan umat semakin membaik. Itu karena untuk memperoleh porsi antrean ibadah haji seseorang harus mendaftarkan diri melalui bank-bank mitra pemerintah dan menyetor uang puluhan juta.
Menghadapi antrean yang panjang itu rasanya tidak ada pilihan lain, semua CJH yang mengantri selama puluhan tahun harus bersabar. Pada saatnya mereka akan benar-benar dipanggil sebagai tamu Allah (wafdullah). Rasulullah bersabda:
الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنْ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ
“Jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, Allah memenuhi permintaan mereka dan jika mereka meminta ampun kepada-Nya, niscaya Allah mengampuni mereka” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
Panggilan sebagai tamu Allah itu jelas sangat menyentuh hati nurani. Dengan panggilan itu berarti Allah yang akan menjadi tuan rumah perjumpaan jutaan jamaah haji di tanah suci. Karena itu dikatakan bahwa jamaah haji berkunjung ke Baitullah. Sebagai tuan rumah, Allah yang akan menyambut, melayani, dan memberikan rasa aman bagi jamaah haji. Bangunan Kakbah (Baitullah, rumah Allah) yang menghadap ke semua penjuru juga melambangkan bahwa Allah akan menjamu siapapun yang datang dan dari negara manapun, tanpa melihat latar belakang sosial ekonominya.
Keutamaan lain dari ibadah haji juga dapat dipahami dalam beberapa hadis Nabi SAW. Misalnya, Nabi bersabda bahwa ibadah haji yang diterima Allah (mabrur) itu pahalanya tiada lain kecuali surga. Rasul juga menegaskan bahwa haji yang dilakukan dengan benar (tidak berbuat rafats dan tidak pula fasiq), maka ia akan bersih dari dosa-dosanya laksana baru dilahirkan dari rahim ibu masing-masing. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
اَلحَجُ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاء إِلَّا الجَنَّةَ
“Haji yang mabrur itu tiada balasan baginya kecuali surga” (HR. Malik, Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Asbihani).
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa pun yang berhaji, lalu tidak berkata keji dan tidak berbuat dosa, niscaya ia pulang (suci) seperti hari dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasai, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Hadirin, jamaah rahima kumullah
Menangkap Pesan Spiritual
Pemikir asal Iran, Ali Shariati (1933-1977), dalam buku berjudul Hajj/Pilgrimage (2005), mengilustrasikan ibadah haji laksana sebuah pertunjukan. Pernyataan Shariati jelas tidak berlebihan jika kita memperhatikan protokoler ibadah haji. Jika diamati secara seksama, maka jelas sekali bahwa pelaksanaan rukun Islam kelima itu memang laksana sebuah pertunjukan. Tetapi bukan pertunjukan biasa, melainkan pertunjukan akbar karena melibatkan jutaan orang.
Dalam pertunjukan akbar itu, Allah SWT menjadi sutradara. Tokoh-tokoh yang harus diperankan adalah Adam, Ibrahim, Hajar, dan Syetan. Lokasi utamanya di sekitar Masjid Haram, Masjid Nabawi, Tanah Haram, Ka’bah, Shafa, Marwah, Arafah, Muzdalifah, Mina, dan tempat bersejarah lainnya. Simbol-simbol yang penting diperhatikan adalah siang, malam, matahari terbit, matahari tergelincir, matahari terbenam, berkurban, tahallul (mencukur rambut), dan berhala.
Baju kebesaran yang harus dipakai adalah pakaian ihram. Dan, pemain utama dari seluruh pertunjukan akbar itu adalah setiap jamaah haji sendiri. Setiap pemain dituntut untuk memainkan peran dengan penuh penghayatan. Apabila dihayati dengan seksama, maka prosesi ibadah haji pasti dapat mengantarkan setiap pribadi dalam kehidupan yang diwarnai kesadaran mengenai keberadaan Allah.
Rumah Allah (Baitullah, Ka’bah) yang mengarah ke semua penjuru melambangkan bahwa Allah berada di mana saja. Tatkala kesadaran itu muncul, maka setiap jamaah haji termotivasi untuk mencium batu hitam (hajar aswad), atau minimal melambaikan tangan ke arah Ka’bah. Saat itulah setiap jamaah haji merasakan kedekatannya dengan Allah. Tanpa disadari air mata pun tumpah sebagai wujud rasa syukur karena dapat memenuhi panggilan Allah untuk berkunjung ke Ka’bah.
Pertanyaannya, dapatkah setiap jamaah haji menghayati peran yang dimainkannya? Untuk menjawab pertanyaan ini memang tidak mudah. Tetapi umumnya jamaah haji sukses memainkan peran dalam pertunjukan akbar itu. Salah satu indikatornya, tidak ada jamaah haji yang merasa “kapok” berangkat ke tanah suci. Yang terjadi justru keinginan untuk senantiasa dipanggil sebagai tamu-tamu Allah (wafdullah).
Setiap tamu Allah pasti selalu teringat tatkal melaksanakan prosesi ibadah haji. Selalu terbayang tatkala ia mengelilingi Ka’bah (thawaf), berjalan mondar-mandir antara Bukit Shafa dan Marwa (sa’i), berkumpul dan bermunajat di hamparan yang luas padang Arafah (wuquf), bermalam (mabit) di Muzdalifah dan Mina, melontar dengan batu-batu kecil (jumrah), menggunting atau mencukur rambut (tahalul), dan mencium batu hitam (hajar aswad).
Khusus jamaah haji laki-laki juga ada ketentuan yang harus dipatuhi. Misalnya, kewajiban menggunakan pakaian ihram, dua helai kain putih yang tidak berjahit. Pada saat tertentu juga tidak diperkenankan untuk menggunakan alas kaki yang menutup mata kaki. Jika pakaian ihram telah dikenakan, maka tidak boleh lagi bersolek. Bersisir, menggunting kuku, dan mencabut bulu, apabila dilakukan saat berpakaian ihram, akan dikenai denda. Terlebih lagi jika bercumbu, membunuh binatang, dan mencabut tanaman.
Semua larangan itu harus dijauhi karena Allah semata. Hanya dengan menyerahkan diri seutuhnya pada Allah, para jamaah akan memahami peran yang dimainkan dalam keseluruhan prosesi ibadah haji. Itulah makna spiritual yang sulit dilupakan sekaligus menjadi pengalaman keagamaan terpenting dari siapa pun yang diundang sebagai tamu Allah untuk menunaikan ibadah haji.






0 Tanggapan
Empty Comments