
Oleh dr Tjatur Prijambodo MKes (Kepala Unit Kedokteran Islam FAkultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya dan
Ketua Divisi Penelitian Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PWM Jawa Tmur)
PWMU.CO-Disampaikan di Masjid Al Hikmah Alun-alun Sumorame pada 10 Dzulhijah 1446 H / 6 Juni 2025 M
Allahu Akbar 2x Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Kumandang takbir kembali membahana di seluruh pelosok dunia, menyambut hari akbar bagi umat Islam, sebuah hari yang sarat dengan makna dan nilai. Inilah hari raya kurban atau Idul Adha yang jatuh pada hari ini, 10 Dzulhijah 1446 H, bertepatan dengan 6 Juni 2025. Untuk semua kenikmatan ini, sangat wajar jika kita mengucapkan syukur sambil memuji Allah Swt, Sang Khaliq Penguasa Alam Semesta, Yang Maha Kuasa dan Perkasa.
Musim haji 2025 menjadi tahun penuh ujian bagi ribuan jamaah haji furoda yang gagal berangkat ke Tanah Suci. Visa haji furoda, yang biasanya diberikan langsung oleh Pemerintah Arab Saudi, tidak diterbitkan tahun ini, menyebabkan ribuan jamaah batal berangkat meskipun telah membayar biaya yang tidak murah.
Selain itu, sistem Syarikah, yang diterapkan dalam penyelenggaraan haji, juga menimbulkan kebingungan bagi jamaah. Banyak calon haji yang merasa tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai mekanisme layanan dan akomodasi mereka selama di Arab Saudi.
Tak ada yang lebih patut bagi para hamba Allah Swt yang beriman kecuali semakin menundukkan kepala, merendahkan hati dan mengakui segala dosa, seraya bertaubat dan memohon ampunannua.
Semoga saudara-saudara kita yang gagal berangkat diberi kesabaran dan yang sedang menjalankan ibadah Haji diberi kemudahan, kelancaran, Kesehatan dan mendapatkan predikat Haji Mabrur. Aamiin
Allahu Akbar 2X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Kita mengenal Nabi Ibrahim sebagai pelopor Tauhid, yang mengajak umat manusia untuk kembali mengabdi kepada Allah yang Maha Kuasa. Namun tidak banyak yang mencoba memahami sosok beliau, sebagai seorang yang ahli di bidang ilmu kesehatan/pengobatan (Tabib).
Ada perkataan Nabi Ibrahim, yang cukup populer di dalam ayat al-Qur’an: “ alladzi kholaqoni fahuwa yahdin, walladzi huwa yuth’imuni wayasqin, waidza maridhtu fahuwa yasyfin, (yaitu) yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku. (Qs Asy-Syu’ara 78-80).
Ayat ini merupakan bentuk dari kepasrahan Nabi Ibrahim atas kehendak Allah, sekaligus juga menunjukkan keilmuan yang mumpuni dalam kehidupan duniawi.
Di dalam ajaran Islam, kepasrahan harus di-imbangi dengan ikhtiar (usaha), seorang yang tawakal akan rezekinya, ia juga harus tangguh dalam berusaha. Seorang yang pasrah akan kesehatannya, ia juga harus pandai menemukan solusi kesembuhan dari penyakitnya. Allah akan memberi sesuatu kepada hambaNya sesuai dengan apa yang diusahakannya, seperti yang tertera di Quran Surat An Najm 39:
“ Wa al laisa lil insani illa masa’a, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya”, dimana hal ini termasuk dalam rezeki lanjutan dari rezeki yang diberikan kepada seluruh alam semesta: “ Wama mindabbatin fil ardi illa alallohi rizquha, dan Tidak ada suatu binatangpun (termasuk manusia) yang bergerak diatas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya” (Surat Hud 6)
Allahu Akbar 2X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Paling tidak, ada 2 pelajaran penting terkait kesehatan yang terdapat dari kisah nabi Ibrahim AS dan keluarganya:
Pelajaran Pertama: Berbaik sangka kepada Allah Swt
Pada suatu hari, Ibrahim AS terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba dia memerintahkan kepada istrinya, Siti Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Singkat cerita, di padang Sahara, Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari.
Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia bertanya, ”Kami tidak akan tersia-siakan selagi Allah bersama kami. Dia-lah yang telah memerintahkan Ibrahim pergi”.
Subahanalloh, betapa lurusnya keluarga ini memandang perintah Allah. Betapa ringannya mereka melaksanakan titah agung ini. Mereka utamakan ketaatan daripada kesenangan pribadi. Lihatlah, bagaimana Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, mampu berbaik sangka kepada Allah Swt, mereka meyakini bahwa selagi mereka bersama Allah, maka tidak akan ada yang menyengsarakannya, tidak akan ada yang dapat mencelakainya, tidak akan ada yang dapat melukainya.
Bila kita lihat banyaknya manusia yang frustasi dalam kehidupan ini atau banyaknya manusia sengsara bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka akan tetapi karena sedikitnya husnudzon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah, padahal nikmat yang Allah berikan lebih banyak dari pada siksanya.
Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah, sebagaimana Allah menjelaskan dalam hadits qudsi bahwa Dia sesuai prasangka hambanya; Dari Abu Hurairah RA berkata, bersabda Rasulullah Saw: Allah berfirman: “ ana inda zhonni abdiibii, “Aku (Allah) tergantung pada prasangka hamba padaKu, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku; jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku dalam lintasan pikirannya, niscaya Aku akan mengingat-Nya dalam pikirannya kebaikan darinya (amal-amalnya); dan jika ia mendekat kepada-ku setapak, maka aku akan mendekatkannya kepada-Ku sehasta; jika ia mendekat kepada-ku sehasta, maka aku akan mendekatkannya kepada-ku sedepa; dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).
Positive Thinking, itulah kunci utamanya. Betapa banyak penyakit yang ditimbulkan akibat Negative Thinking. Stroke, Gastritis, Jantung, sebagian besar penyebabnya adalah negative thinking.





0 Tanggapan
Empty Comments