Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumulloh
Penggunaan waktu yang tidak produktif menjadi permasalah dalam dunia digital.
Padahal dalam Al-Qur’an menekankan pentingnya menghargai waktu dan menggunakan waktu dengan bijaksana.
Surah Al-Asr ayat 1-3 menyatakan, “Demi masa! Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling menasehati dengan kebenaran dan saling menasehati dengan kesabaran.” Kaum muslimin harus bijaksana dalam menggunakan waktu dan tidak menghabiskan waktu secara tidak produktif di media sosial atau dalam konsumsi konten yang tidak bermanfaat.
Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya memanfaatkan waktu dengan baik. Beliau bersabda, “Ada dua nikmat yang banyak manusia lalai dalam mensyukurinya: sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari).
Dari hadis ini, kita diajarkan untuk menggunakan waktu dengan bijaksana dan menghindari pemborosan waktu yang tidak produktif.
Kehidupan di Era Digital: Tantangan Kesadaran Ruang dan Waktu
Hadirin yang dirahmati Allah, sekarang ini kita hidup di zaman di mana realitas tidak hanya ada di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital. Kesadaran akan ruang dan waktu kita telah dibentuk bahkan dikendalikan oleh layar teknologi. Kita merasa ada yang kurang jika belum update status, belum menonton berita viral, atau belum berpartisipasi dalam tren terbaru.
Inilah abad entertainment, abad di mana pencitraan lebih berharga dari substansi. Orang pandai membangun citra, bukan kebaikan. Masyarakat lebih suka melihat bungkus daripada memahami isi. Mereka lebih tertarik pada kemasan daripada esensi.
Allah ﷻ berfirman:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, sedangkan tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”
(QS. Ar-Rum: 7)
Kita hidup di zaman di mana manusia takut kepada atasan, tetapi tidak takut kepada Allah. Mereka dekat dengan penguasa, tetapi jauh dari Allah. Kita lebih sibuk mencari pengakuan di media sosial daripada mencari ridha Allah.
Masyarakat seperti daun kering:
Gampang dikumpulkan, sulit diikat,
Berisik, tetapi tidak memiliki makna,
Gampang terbakar oleh isu dan provokasi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا
“Janganlah kalian menjadi orang yang ikut-ikutan (tanpa pendirian), yang berkata: ‘Jika orang berbuat baik, kami pun berbuat baik. Jika mereka berbuat zalim, kami pun ikut berbuat zalim.’ Tetapi tetapkanlah prinsip, jika orang lain berbuat baik, kalian pun berbuat baik. Jika mereka berbuat buruk, maka janganlah kalian ikut berbuat zalim.”
(HR. Tirmidzi)
Di mana ruang dan waktu kita sekarang? Sebelum menjawabnya, kita perlu memahami virus infodemik—penyakit informasi yang menyebabkan manusia mabuk pencitraan dan kehilangan nilai serta makna hidup.
Manusia di era digital mengalami split decision mentality, terjebak antara dunia nyata dan dunia maya. Seolah tanpa eksistensi di media sosial, seseorang merasa tertinggal, tak terlihat, tak terdengar.
Padahal, yang terpenting bukanlah bagaimana dunia melihat kita, tetapi bagaimana kita dilihat oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِن يَنظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Solusi Islam di Era Digital
Hadirin yang dimuliakan Allah, bagaimana kita menghadapi tantangan ini?
1. Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman utama.
2. Gunakan media untuk kebaikan, bukan sekadar hiburan tanpa manfaat.
3. Jadilah bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi.
4. Tanamlah kebaikan, bukan sekadar konsumsi.
5. Dekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar kepada manusia.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah
Islam memberikan pedoman yang jelas dalam etika jurnalistik dan bermedia sosial. Kita harus selalu berhati-hati dalam menyebarkan informasi, memastikan kebenarannya, serta menjaga akhlak dan kehormatan sesama. Jangan sampai kita menjadi bagian dari penyebar hoaks, fitnah, atau kebencian. Sebaliknya, mari kita manfaatkan media sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan dan menegakkan keadilan.
Semoga Allah ﷻ membimbing kita semua agar selalu berkata benar, menyebarkan informasi yang baik, dan menjadikan media sebagai sarana dakwah yang bermanfaat. Mari kita bangun bangsa ini dengan semangat kebersamaan, gotong royong, dan kerja keras. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadi pribadi yang berakhlak dan memberikan manfaat bagi kemajuan bangsa dan agama.
Dalam suasana ‘idul Fithri ini marilah kita saling memaafkan, saling mendoakan agar semua amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَلَّلهُمَّ اِنَّا نَسْاءَلُكَ سَلَمَتً فِي الدِّيْنِ وَعَافِيَتَ فِي الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ وَبَرَكَهً فِي الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يآاَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
ربَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار
سُبْحَانَ رَبكَ رَبّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمُ عَلىَ الْمُرْسَلِيْن وَالحَمْدُ ِللهِ رَبّ ِاْلعآلَمِيْنَ
Barakallahu lii wa lakum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1446 H.
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَجَعَلَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ، كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Editor Wildan Nanda Rahmatullah





0 Tanggapan
Empty Comments