Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Khutbah Idul Fitri: Nilai dan Implikasi Ketaqwaan dalam Membentuk Kesalehan Sosial

Iklan Landscape Smamda
Khutbah Idul Fitri: Nilai dan Implikasi Ketaqwaan dalam Membentuk Kesalehan Sosial
pwmu.co -
Khutbah Idul Fitri: Nilai dan Implikasi Ketaqwaan dalam Membentuk Kesalehan Sosial (republika.co.id)

Oleh: Syamsul Arifin (Guru Besar Sosiologi Agama Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, Wakil Sekretaris MTT PWM Jatim)

PWMU.CO

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ الله تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِي

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin Rahimakumullah

Setelah memulai ibadah puasa Ramadhan pada 1 Ramadhan 1446 H yang bertepatan dengan 1 Maret  2025 M, pada hari ini, 1 Syawal 1446 H, bertepatan dengan 31 Maret 2025, umat Islam di beberapa belahan dunia, termasuk di Indonesia, berbondong-bondong mendatangi tanah lapang dan masjid untuk melaksanakan “amaliah ‘ubudiah muakkadah”, yakni Shalat Idul Fitri sebagai perwujudan dari sikap pengagungan kepada  Allah (ta’dhimullah atau taqdisullah) dan tasyakkur atau bersyukur kepada Allah.

Pengagungan kepada Allah diwujudkan dengan kumandang takbir dan tahmid sejak kemaren petang hingga pada hari ini, serta Shalat ‘Id secara berjamaah di tanah lapang dan masjid pada pagi hari, hari ini. Kegiatan secara kolektif atau berjamaah umat Islam pada pagi ini, juga merupakan perwujudan syukur kepada Allah karena setidaknya dalam sebulan terakhir, terutama dimulai pada 1 Ramadhan, Allah telah menganugerahkan nikmat yang teramat berharga kepada kita berupa kesehatan, kekuatan, dan kemampuan sehingga kita dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh.

Puasa merupakan kewajiban individual bagi umat Islam yang sudah mencapai aqil baligh. Selama bulan Ramadhan kita tidak saja menahan diri dari aktivitas-aktivitas fisik pada siang hari  yang membatalkan puasa: minum, makan, dan berhubungan dengan suami-isteri, tetapi juga berupaya menjauhkan hati kita dari aktivitas-aktivitas yang dapat mengurangi kesempurnaan dan bahkan merusak ibadah puasa. Karena itu, puasa, di samping merupakan ibadah fisik, juga merupakan ibadah ruhani. Dan dengan mempertimbangkan muatan atau materi, aktivitas, nilai, dan tujuan yang menyertai puasa selama bulan Ramadhan, maka bisa dikatakan bulan Ramadhan merupakan “Madrasah Ruhaniah” atau “Sekolah Spiritual”.

Hadirin Rahimakumullah

Selama bulan Ramadhan, kita dengan penuh kesadaran yang ditandai dengan niat berpuasa, melakukan aktivitas ruhani berpantang dari larangan yang berakibat batalnya puasa kita, serta melakukan berbagai aktivitas ibadah baik ibadah regular yang menjadi kewajiban harian dan ditambah dengan ibadah sunnah, maupun ibadah yang biasa dilakukan pada bulan Ramadhan, salah satunya shalat tarawih. Semua aktivitas ini pada dasarnya merupakan aktivitas pendidikan, di mana kita merupakan pihak yang menerima pendidikan atau “mutarabbi”, sementara yang “mendidik” kita, atau sebagai “murabbi” adalah Allah  Semua kegiaatan ini berlangsung secara ruhaniah atau spiritual.

Dikatakan demikian, karena hubungan antara “mutarabbi” dengan “murabbi”, tidak terjadi dalam  ruang fisik yang kasat mata seperti di madrasah atau sekolah dalam pengertian konvensional. Karena berlangsung secara ruhani atau spiritual, maka untuk melaksanakan puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, meniscayakan keberimanan kepada Allah sebagaima ternyatakan secara eksplisit dalam surat al-Qur’an ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibakan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Q.S. al-Baqarah: 183)

Bagi kalangan tertentu, berpantang untuk tidak makan, minum, dan berhubungan suami-isteri pada siang hari, setidaknya selama 13 jam, merupakan larangan yang berat. Karena itu, kendati Islam merupakan agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk di Indonesia, tidak semua orang Islam bersedia melaksanakan puasa Ramadhan, sebagaimana juga kewajiban-kewajiban lainnya. Dalam al-Qur’an terdapat isyarat tentang kualitas ketaatan orang Islam terhadap ajaran Islam, seperti dapat dicermati pada surat Fathir ayat 32:

فَأَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ  ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ

“Kemudian Kami wariskan Kitab (Al-Qur’an) kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menzalimi dirinya sendiri, ada yang pertengahan, dan ada pula yang berlomba dalam kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (Q.S. Fathir: 32)

Menurut ayat ini, umat Islam merupakan umat yang mewarisi al-Qur’an. Namun sebagaimana digambarkan dalam ayat tersebut, terdapat tiga golongan umat Islam yang menunjukkan keragaman kualitas keberterimaan dan ketaatan kepada ajaran Islam, yaitu: yaitu:

  1. ظالم لنفسه: Orang yang menzalimi dirinya sendiri dengan meninggalkan beberapa kewajiban dan melakukan beberapa dosa.​
  2. مقتصد: Orang yang pertengahan dalam ketaatan, melaksanakan kewajiban dan menjauhi yang haram, tetapi tidak melakukan amalan sunnah.​
  3. سابق بالخيرات بإذن الله: Orang yang berlomba dalam kebaikan dengan izin Allah, rajin dalam ketaatan, melaksanakan kewajiban dan sunnah, serta menjauhi yang haram dan makruh.
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu