Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Khutbah Idul Fitri: Nilai dan Implikasi Ketaqwaan dalam Membentuk Kesalehan Sosial

Iklan Landscape Smamda
Khutbah Idul Fitri: Nilai dan Implikasi Ketaqwaan dalam Membentuk Kesalehan Sosial
pwmu.co -

Hadirin Rahimakumullah

Adanya situasi yang kontras atau paradoks pada beberapa aspek kehidupan sosial kita dengan kehidupan keagamaan merupakan petunjuk penting bahwa nilai-nilai keagamaan belum terinternalisasi. Datangnya bulan Ramadhan yang dikenal juga sebagai syahrus shiyam seharusnya merupakan momentum untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan dengan pengertian taqwa yang sebenar-benarnya, yakni terbentuknya kesadaran yang kuat dan mendalam bahwa Allah merupakan zat mutlak yang senantiasa hadir dan mengawasi kehidupan kita. Praktik “memerkaya diri dan orang-orang di sekitarnya” mengindasikan masih rendahnya kesadaran ilahiah tersebut. Ketaqwaan dalam arti yang sebenar-benarnya yang melekat pada diri seseorang mengondsikan hati yang bersih (alqalb al-salim).[1] Kondisi hati semacam inilah yang menjadi tempat meminta pertimbangan etik terhadap perbuatan yang kita lakukan, sebagaimana hadist berikut ini:

اسْتَفْتِ قَلْبَكَ، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ

“Mintalah fatwa kepada hatimu! Kebajikan adalah apa yang menenangkan jiwa dan menenangkan hati, sedangkan dosa adalah apa yang membuat jiwa ragu dan bimbang di dalam dada.”

Penjelasan Nabi yang disampaikan kepada Wabishah pada hadist di atas, terkandung makna yang mendalam bahwa sejatinya hati manusia merupakan sumber petunjuk kebenaran bagi setiap manusia; pemberi pertimbangan terhadap perbuatan yang buruk dan baik. Seseorang yang melakukan perbuatan dosa atau kejahatan, sejatinya mengetahui bahwa tindakan tersebut tidak boleh dilakukan karena bertentangan dengan hati nurani, dan karena itu bertentangan pula dengan agama.

Supaya hati tetap dalam kondisi bersih atau sehat, terhindar dari hati yang sakit (al-qalb al-marid)[2], apalagi menjadi hati yang mati (al-qalb al-mayyit)[3], diperlukan suatu “lelaku” yang dilakukan secara rutin, di antaranya puasa Ramadhan. Tindakan “memerkaya diri” merupakan indikasi nyata ketamakan, salah satu penyakit hati, atau pantulan dari “hati yang sakit” (al-qalb al-marid). Puasa Ramadhan pada dasarnya merupakan sarana melatih diri untuk merasakan kehadiran Tuhan sehingga kita mencapat predikat manusia taqwa—sekali lagi—dalam pengertian taqwa yang sebenar-benarnya. Pihak yang paling tahu terhadap pelaksanaan puasa adalah pelaku sendiri dan Allah. Bisa jadi tanpa sepengetahuan orang lain, kita membatalkan puasa, lalu kita mengakui masih berpuasa. Tetapi karena memiliki kesadaran Allah sebagai “God- consciousness”, meskipun dalam kondisi haus dan lapar, puasa tetap dipertahankan hingga berbuka dan dilaksanakan selama sebulan penuh.

Latihan merasalan “kehadiran Allah” secara ruhani atau spiritual selama bulan Ramadhan perlu kita rawat dan ditransformasikan dalam keseharian di luar bulan Ramadhan. Puasa selama sebulan dalam  bulan Ramadhan, menurut Abdul Qadir Jailani adalah “puasa syariat”, puasa yang terikat dengan ketentuan formalism fiqih terkait waktu dan tata caranya. Etos yang dipupuk selama bulan Ramadhan perlu ditransformasikan menjadi “etos puasa thariqat”. Kita akhiri khutbah ini dengan doa:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ

يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمـُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمـُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ فيَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ.

اللّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسلِمِين وَاجْمَعْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَلَمِينَ.

اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَاوَتُبْ عَلَينَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ  وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Catatan:

[1] Hati yang bersih dari segala syahwat (keinginan yang melampaui batas) dan syubhat (keraguan), hati yang tidak memiliki kehendak kecuali hanya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Di dalamnya hanya ada kecintaan kepada Allah, rasa takut kepada-Nya, pengharapan kepada-Nya, kembali kepada-Nya, ridha terhadap-Nya sebagai Rabb, ridha dengan ketetapan-Nya, dan tawakal kepada-Nya. الْقَلْبُ السَّلِيم

وَهُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَلِمَ مِنْ جَمِيعِ الشَّهَوَاتِ وَالشُّبُهَاتِ، وَسَلِمَ مِنْ كُلِّ إِرَادَةٍ تُخَالِفُ أَمْرَ اللهِ وَرَسُولِهِ، وَلَيْسَ فِيهِ إِلَّا مَحَبَّةُ اللهِ، وَخَشْيَتُهُ، وَرَجَاؤُهُ، وَالإِنَابَةُ إِلَيْهِ، وَالرِّضَا بِهِ رَبًّا، وَالرِّضَا بِقَضَائِهِ، وَالتَّوَكُّلُ عَلَيْهِ.

[2] Hati yang di dalamnya ada kehidupan sekaligus ada penyakit. Ia memiliki keimanan dan cinta kepada Allah serta Rasul-Nya, tetapi juga diuji dengan syahwat dan keraguan. Terkadang ia tertarik kepada kebenaran, namun terkadang condong kepada hawa nafsu. Hati ini berada di antara sehat dan sakit. الْقَلْبُ الْمَرِيضُ

وَهُوَ قَلْبٌ فِيهِ حَيَاةٌ وَمَرَضٌ، فِيهِ إِيمَانٌ وَمَحَبَّةٌ لِلهِ وَرَسُولِهِ، وَلَكِنَّهُ مُبْتَلًى بِالشَّهَوَاتِ وَالشُّبُهَاتِ. مَرَّةً يَنْجَذِبُ إِلَى الْحَقِّ وَمَرَّةً يَمِيلُ إِلَى الْهَوَى. فَهُوَ بَيْنَ الصِّحَّةِ وَالْمَرَضِ.

[3] Hati yang telah mati karena kekufuran, maksiat, dan kebodohan. Ia tidak mengenal Tuhannya, tidak beribadah kepada-Nya sesuai perintah-Nya, tidak mencintai apa yang dicintai Allah, tidak membenci apa yang dibenci Allah. Hati ini hanya mengikuti hawa nafsu, tunduk kepada syahwat. Hati yang gelap, jauh dari Allah, dan menjadi tempat bagi setan. الْقَلْبُ الْمَرِيضُ

وَهُوَ قَلْبٌ فِيهِ حَيَاةٌ وَمَرَضٌ، فِيهِ إِيمَانٌ وَمَحَبَّةٌ لِلهِ وَرَسُولِهِ، وَلَكِنَّهُ مُبْتَلًى بِالشَّهَوَاتِ وَالشُّبُهَاتِ. مَرَّةً يَنْجَذِبُ إِلَى الْحَقِّ وَمَرَّةً يَمِيلُ إِلَى الْهَوَى. فَهُوَ بَيْنَ الصِّحَّةِ وَالْمَرَضِ.

Editor Wildan Nanda Rahmatullah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu