
Oleh Moh. Ernam
Khutbah Pertama
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى نَبِيِّنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. أَمّا بَعْدُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ! أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Segala puji bagi Allah, yang mengundang hamba-hamba-Nya untuk mendekat ke Rumah-Nya, bukan berdasarkan kuota, bukan berdasarkan jabatan, tetapi murni karena kasih sayang dan kehendak-Nya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ada sebuah kisah nyata, dari negeri Libya yang gersang, namun menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Kisah ini bukan cerita fiksi, bukan pula dongeng dari mimbar-mimbar motivasi. Ini kisah tentang seorang hamba yang ingin berhaji, dan ketika Allah menghendaki, langit dan bumi pun menuruti.
Namanya Amir Al-Mahdi Al-Qaddafi, bukan kerabat dekat Kolonel Qaddafi, tetapi cukup membuat petugas imigrasi di Bandara Sebha, Libya, menjadi waspada. Ketika calon jamaah haji lain bersiap dengan pakaian ihram, Amir justru disuruh pulang, hanya karena nama belakangnya.
Petugas berkata, “Belum ditakdirkan.” Tapi Amir menjawab, penuh keyakinan, “Ana nawaitul hajj—aku sudah berniat. Dan kalau Allah sudah memanggil, kalian tak bisa menghalangi.”
Kalimat itu mungkin terdengar berani. Tapi apa yang terjadi? Pesawat lepas landas — tanpa Amir. Belum jauh, rusak. Balik ke bandara. Diperbaiki. Terbang lagi. Rusak lagi. Hingga akhirnya pilot berkata, “Panggil Amir. Pesawat ini tidak akan bisa berangkat tanpa dia.”
Subhanallah…
Ketika Allah sudah mengundang, daftar tunggu tak berlaku. Sistem bisa macet. Langit bisa bereaksi. Burung besi yang dibuat manusia pun patuh pada perintah Tuhan.
Ma’asyiral Muslimin…
Kisah ini memberi pelajaran dalam, bahwa haji bukan soal uang, bukan soal koneksi, bukan soal cepat daftar, tapi soal undangan. Undangan dari Allah, Pemilik Rumah-Nya, Baitullah.
Jika engkau sudah berniat, dengan hati bersih, dengan niat tulus, maka yakinlah: “Apa pun bisa terjadi. Karena Allah tak pernah salah memilih tamu-Nya.”
Mari kita pejamkan sejenak hati kita. Tanyakan: sudahkah kita bersungguh-sungguh ingin berhaji? Ataukah sekadar mimpi tanpa niat?
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.






0 Tanggapan
Empty Comments