Khutbah Kedua
الحمد لله، الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله…
Ma’asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah,
Haji adalah ibadah puncak. Puncak ketundukan. Puncak pengorbanan. Tapi lebih dari itu, ia adalah puncak undangan ilahi.
Allah berfirman:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا…
“Dan serukanlah kepada manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu…”
(Surah Al-Hajj: 27)
Yang datang adalah mereka yang diundang. Yang benar-benar diseru dalam jiwa. Bukan sekadar mampu, tapi dipilih.
Kisah Amir Al-Qaddafi adalah pengingat bahwa ketika niat sudah bulat, dan tekad sudah lurus, maka seluruh sistem dunia ini pun bisa Allah ubah. Jangan putus asa hanya karena belum dapat kuota. Jangan putus harap hanya karena rekening belum cukup. Karena Allah Maha Tahu kesiapan hati kita.
Amir tidak membuat video viral, tidak membuka donasi, tidak menepuk dada. Ia hanya berkata, “Apa yang terjadi padaku bukan keajaiban, tapi karunia. Allah tidak pernah salah memilih tamu-Nya.”
Maka mari kita jaga hati ini… tetap bersih. Tetap berniat. Tetap berseru:
“Labbaik Allahumma labbaik…”
Semoga suatu hari, suara itu keluar dari lisan kita di Tanah Suci, dan dunia pun diam ketika seorang hamba berseru dari dasar jiwanya.
اللهم ارزقنا حجًّا مبرورًا، وسعيًا مشكورًا، وذنبًا مغفورًا…
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ…
أقم الصلاة…
Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments