
Oleh: Moh. Ernam MPd (Wakil Sekretaris MPKSDI PWM Jatim)
Khutbah Pertama
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صلِّ وسلِّم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
PWMU.CO – Jama‘ah Jumat rahimakumullah, di antara jargon yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari adalah: “Yang penting halal.” Kalimat itu sudah menjadi semacam pembelaan suci — dari mi instan, sabun muka, sampai air galon isi ulang. Asal ada label halal, kita langsung merasa aman.
Namun, mari kita renungkan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 168:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
“Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.”
Kata halal dan thayyib datang dalam satu tarikan nafas — satu ayat, satu perintah. Artinya, keduanya tidak bisa dipisah. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis ke-10 dari Al-Arba’in An-Nawawiyah:
اِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ اِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu Thayyib (Maha Baik) dan tidak menerima kecuali yang thayyib.”
Lalu Nabi menceritakan kisah seorang lelaki yang berdoa penuh harap kepada Allah: lusuh, dekil, tangannya menengadah ke langit sambil berkata, “Yaa Rabb… Yaa Rabb…” Namun, Allah tidak mengabulkan doanya. Kenapa? “Makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dari yang haram.”
Subhānallāh… Lengkap sudah kehancurannya. Bagaimana doa bisa menembus langit jika bahan bakarnya berasal dari sumber yang kotor?
Jama‘ah yang dimuliakan Allah,
Apa itu thayyib? Secara bahasa, thayyib berarti baik, bersih, suci, berkualitas, dan layak. Dalam konteks makanan: ia harus bergizi, higienis, sehat secara medis.
Contohnya, kasus ayam goreng di kota sebelah yang digoreng dengan minyak bab 1 — meski ayamnya disembelih secara halal — itu belum tentu thayyib.
Maka ingatlah:
• Halal adalah soal hukum: boleh atau tidak.
• Thayyib adalah soal mutu: baik atau buruk.
Bayangkan restoran berlabel halal, tapi menyajikan ayam yang disuntik formalin, sayuran penuh pestisida, dan minyak goreng generasi keempat. Mau?
Nabi ﷺ sudah mencontohkan bahwa menjadi saleh bukan berarti hidup kumuh dan menolak dunia. Beliau bersabda:
أَمَا وَاللهِ إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ
“Demi Allâh! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.”
Jama‘ah Jumat yang dirahmati Allah, kita harus sadar bahwa thayyib bukan hanya konsep spiritual, tapi harus bisa diuji secara nyata. Di negeri ini, kita punya BPOM, SNI, hingga lembaga internasional seperti WHO dan FDA yang menetapkan standar kualitas makanan, obat, kosmetik, hingga air minum.
Maka jika ada produk berlabel halal, tetapi memakai bahan pewarna tekstil atau pemanis sintetis berbahaya, itu tidak bisa disebut thayyib. Jika mushaf Al-Qur’an dicetak dengan kertas dan tinta beracun, walaupun diniatkan untuk ibadah, itu tetap mencederai prinsip thayyib.
Kita memerlukan:
- Ulama yang paham laboratorium,
- Insinyur yang mengerti fikih,
- Regulator yang jujur dan berintegritas.
Jama‘ah yang dirahmati Allah…
Mari kita awali perbaikan amal dan kehidupan dari hal paling dasar: apa yang kita masukkan ke mulut kita. Karena Allah itu Tayib — Mahasuci dan Maha Baik — dan Dia tidak menerima apa pun kecuali dari sumber yang juga suci dan baik.
Semoga kita semua menjadi muslim yang bukan hanya halal, tapi juga thayyib: dari niat, harta, makanan, hingga amal perbuatan.






0 Tanggapan
Empty Comments