Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ki Bagus Hadikusuma: Dari Pancasila Menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur

Iklan Landscape Smamda
Ki Bagus Hadikusuma: Dari Pancasila Menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur
Fathurrahim Syuhadi
pwmu.co -

Pancasila lahir dari pergulatan panjang para pendiri bangsa untuk menemukan dasar negara yang bisa diterima seluruh golongan. Dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), perdebatan antara kelompok nasionalis dan kelompok Islam sempat memuncak.

Ki Bagus Hadikusuma, tokoh Muhammadiyah dan ulama besar, menjadi salah satu figur yang berperan penting dalam mencari titik temu tersebut.

Sebagai anggota BPUPKI, Ki Bagus menegaskan bahwa dasar negara tidak boleh memisahkan nilai Ketuhanan dari kehidupan berbangsa. Ia memperjuangkan agar Pancasila memiliki ruh agama, karena menurutnya bangsa yang besar harus bertumpu pada moralitas dan akhlak.

Beliau pernah berkata, “Negara yang kita cita-citakan adalah negara yang di dalamnya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan dapat hidup subur.”

Al-Qur’an telah menggambarkan cita-cita negeri ideal dalam QS. Saba’ ayat 15 “Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): ‘Makanlah olehmu dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.'”

Ayat ini bukan sekadar gambaran kemakmuran fisik, tetapi negeri yang penuh keberkahan karena masyarakatnya bersyukur dan taat kepada Allah. Ki Bagus Hadikusuma meyakini, Pancasila harus membawa bangsa Indonesia menuju kondisi tersebut yakni baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Nilai-nilai Pancasila sejalan dengan ajaran Islam. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah wujud tauhid, sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sesuai sabda Nabi Saw “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain (HR. Ahmad).

Sila Persatuan Indonesia dan Kerakyatan mencerminkan prinsip ukhuwah dan syura, sedangkan sila Keadilan Sosial selaras dengan perintah Islam untuk berlaku adil terhadap semua.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Perjuangan Ki Bagus dalam sidang BPUPKI bukan sekadar mempertahankan frasa, tetapi menjaga fondasi moral bangsa. Ia menerima kompromi demi persatuan, namun tetap menekankan bahwa Pancasila tidak boleh dijalankan secara sekuler murni, melainkan berlandaskan etika Ketuhanan.

Kini, cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur masih relevan. Tantangan zaman seperti krisis moral, korupsi, dan perpecahan hanya bisa diatasi dengan menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila yang hidup, bukan sekadar dihafal. Pendidikan karakter, keteladanan pemimpin, penegakan hukum yang adil, dan kesadaran kolektif menjadi kunci.

Perjalanan dari Pancasila menuju negeri yang baik dan diridai Allah Swt adalah tugas bersama. Seperti yang diimpikan Ki Bagus Hadikusuma, Pancasila harus menjadi pedoman hidup yang membentuk bangsa beriman, bersatu, dan adil.

Dengan begitu, Indonesia akan menjadi negeri yang tidak hanya makmur secara lahir, tetapi juga damai secara batin. Sebuah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur di bumi Nusantara. (*)

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu