Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kimiyaus Sa’ādah dan Psikologi Positif

Iklan Landscape Smamda
Kimiyaus Sa’ādah dan Psikologi Positif
Oleh : Riki Purnomo, S.Sos. M.Psi Mahasiswa S3 Studi Islam FAI UAD & Anggota Majelis Tabligh PWM Jateng
pwmu.co -

Kebahagiaan sering dibayangkan sebagai puncak nun jauh di balik kabut.

Sesuatu yang hanya bisa diraih oleh mereka yang sudah menuntaskan pertarungan hidup.

Padahal, sumbernya justru datang dari proses yang sangat manusiawi.

Al-Ghazali, melalui Kimiyaus Sa’ādah, menawarkan peta batin yang lembut namun tegas tentang bagaimana manusia dapat menemukan keteduhan sejati di tengah hiruk-pikuk kehidupan.

Pembacaan modern K.H. A. Mustofa Bisri Gus Mus) menambahkan lapisan kebijaksanaan: kebahagiaan bukan sekadar hasil akhir, melainkan perjalanan sunyi mengenali diri dan menyucikan hati (Bisri, 2020).

Psikologi kontemporer ikut masuk dalam percakapan panjang itu. Melalui psikologi positif, ilmuwan menelaah kebahagiaan dengan perangkat empiris mengukur emosi positif, kekuatan karakter hingga kualitas hubungan antar manusia (Seligman, 2011).

Ketika tradisi klasik Al-Ghazali bertemu dengan temuan ilmiah mutakhir, keduanya membentuk paduan yang bukan hanya logis, tapi juga mudah diamalkan.

Gus Mus menekankan bahwa inti dari Kimiyaus Sa’ādah terletak pada pemahaman terhadap struktur jiwa: akal, hati, dan nafsu (Bisri, 2020).

Tiga poros ini menentukan bagaimana manusia merasakan dan merespons hidup.

Di dunia psikologi, konsep serupa hadir melalui self-regulation —kemampuan mengelola pikiran dan emosi demi mencapai kesejahteraan jangka panjang.

Keduanya menunjukkan pesan yang sama: manusia bahagia bukan karena hidupnya mudah, melainkan karena batinnya tertata.

Dalam penjelasan Gus Mus, Al-Ghazali melihat kebahagiaan sebagai buah dari tazkiyatun nafs, penyucian hati yang lahir dari kesadaran mendalam tentang diri.

Proses ini tak pernah instan, tapi lebih mirip latihan panjang: menertibkan pikiran, menghaluskan perilaku, dan menyingkirkan racun batin yang selama ini mengaburkan pandangan.

Psikologi positif mengkonfirmasi hal itu lewat penelitian tentang kebiasaan mental seperti rasa syukur dan refleksi diri yang terbukti mampu mengubah pola pikir secara signifikan (Emmons & McCullough, 2003).

Di titik paling sunyi dalam Kimiyaus Sa’ādah, kebahagiaan sejati tidak bertaut pada pencapaian duniawi, melainkan kejernihan hati ketika dekat dengan Tuhan.

Gus Mus menggambarkannya sebagai keadaan ketika hati manusia menyala terang, selaras dengan nilai-nilai kebaikan (Bisri, 2020).

Kebahagiaan semacam ini bertahan lebih lama dari sekadar euforia; ia tumbuh menjadi ketenangan yang tak mudah goyah.

Psikologi positif memberi fondasi ilmiah bagi gagasan itu. Martin Seligman menyebut makna sebagai salah satu komponen utama kebahagiaan; manusia yang memiliki tujuan hidup yang jelas cenderung lebih tahan terhadap tekanan (Seligman, 2011).

Ketika hidup ditempatkan dalam bingkai makna yang lebih luas, beban hidup tidak hilang, tetapi terasa lebih teratur.

Gus Mus mengutip Al-Ghazali yang memandang manusia sebagai cermin.

Bila cermin itu bersih, cahaya Tuhan memantul sempurna. Bila berdebu oleh nafsu dan ambisi, manusia kehilangan arah meski menguasai banyak pengetahuan (Bisri, 2020).

Psikologi modern menyebutnya cognitive distortion: kesalahan berpikir yang membuat seseorang memandang dunia secara menyimpang (Beck, 2011).

Dua bahasa berbeda untuk satu kenyataan: ketidakjernihan batin membuat manusia salah membaca hidup.

Pembersihan hati —melalui muhasabah, latihan moral, dan pengendalian diri— menjadi cara Al-Ghazali merawat batin manusia.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Praktik ini selaras dengan mindfulness, salah satu temuan efektif dalam psikologi positif untuk memperbaiki kejernihan mental dan meredakan stres.

Baik tradisi klasik maupun sains modern sepakat bahwa manusia memerlukan jeda untuk melihat dirinya sendiri.

Relasi sosial juga menjadi pilar penting dalam Kimiyaus Sa’ādah. Manusia, menurut Al-Ghazali, hidup dalam jaringan kehangatan dan tanggung jawab sosial.

Akhlak baik lahir dari kebahagiaan batin yang merembes dalam tindakan (Bisri, 2020).

Psikologi positif membuktikan bahwa hubungan yang kuat—dengan keluarga, sahabat, maupun komunitas—adalah salah satu prediktor kebahagiaan paling konsisten (Seligman, 2011).

Al-Ghazali mengingatkan bahaya hati yang dikuasai iri, kebencian, dan kerakusan.

Emosi negatif kronis semacam itu bukan hanya merusak ketenangan batin, tetapi juga kesehatan fisik.

Penelitian modern memperlihatkan bahwa stres emosional yang tak terkelola memengaruhi tubuh secara nyata (Goleman, 2015).

Tradisi spiritual dan sains kembali bertemu: racun batin tak cuma menggerogoti jiwa, tetapi juga tubuh.

Menurut Gus Mus, kebahagiaan adalah titik temu antara ikhtiar manusia dan limpahan rahmat  Tuhan (Bisri, 2020).

Sikap rendah hati menjadi pintu bagi keduanya. Dalam bahasa psikologi positif, kualitas ini identik dengan growth mindset—keyakinan bahwa manusia selalu bisa belajar dan berkembang.

Kerendahan hati mencegah seseorang terperangkap dalam ego yang menghentikan pertumbuhan.

Pertemuan gagasan antara Kimiyaus Sa’ādah dan psikologi positif memperlihatkan bahwa kebahagiaan bersifat multidimensi: perpaduan antara kejernihan pikiran, kebeningan hati, dan tindakan yang selaras.

Ketika tiga unsur itu bekerja dalam harmoni, kebahagiaan tidak lagi menjadi tujuan yang jauh, tetapi keadaan yang tumbuh pelan-pelan dalam keseharian.

Ajaran Al-Ghazali bertahan lebih dari delapan abad karena ia berbicara langsung kepada inti pengalaman manusia.

Gus Mus menunjukkan relevansinya bagi zaman ini, ketika orang sering tersesat dalam tekanan hidup modern.

Dalam kekacauan itu, pemikiran Al-Ghazali tentang Kimiyaus Sa’ādah dan temuan ilmiah psikologi positif justru makin berharga. Keduanya mengundang manusia untuk menemukan kembali keteduhan.

Karena itu, kebahagiaan memang bukan suatu ganjaran, melainkan proses panjang yang memerlukan ketekunan.

Perjalanan itu mungkin tidak selalu rata, tetapi setiap langkah kecil memperkuat fondasi batin.

Al-Ghazali menyebutnya kimia kebahagiaan—reaksi batiniah yang pelan-pelan mengubah manusia dari dalam.

Dan setiap manusia, pada hakikatnya, sedang belajar menjadi alkemis bagi jiwanya sendiri.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu