Di antara tepuk tangan dan wajah-wajah bahagia dalam pelantikan profesi perawat Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), berdirilah seorang perempuan muda dengan senyum yang tampak lembut namun sarat makna. Namanya Alawiyah.
Baginya, hari itu bukan sekadar seremoni kelulusan. Itu adalah garis finish dari sebuah maraton sunyi. Perjalanan panjang melawan lupus, penyakit autoimun yang sempat mengancam masa depannya.
Padahal beberapa tahun lalu, dunia Alawiyah tak pernah jauh dari kuas dan cat minyak. Jari-jemarinya luwes menari di atas kanvas. Ia bermimpi menjadi pelukis profesional. Namun dorongan orang tua, serta latar belakang pendidikannya di SMK Kesehatan, mengarahkan langkahnya ke D3 Keperawatan pada 2022.
“Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa membanggakan orang tua,” katanya, mengingat masa-masa awal perkuliahannya.
Hingga semester lima, hidup berjalan seperti skenario terbaik. Nilai bagus. Praktik lancar. Teman-teman dekat. Dosen-dosen menyukainya karena disiplin dan etos belajarnya. Tak ada tanda bahwa tubuhnya sedang menyimpan badai, diam-diam mengumpulkan amarah yang suatu hari akan pecah.
Semester enam—fase akhir yang seharusnya ia isi dengan persiapan sidang—justru menjadi awal guncangan. Mual hebat dan pusing yang tak biasa membuatnya dilarikan ke IGD RS Universitas Airlangga. Ia dirawat seminggu, pulang, dan sempat berharap semuanya baik-baik saja.
Namun lima hari kemudian tubuhnya kembali menyerah. Kali ini lebih berat. Di RSUD Dr. Soetomo, setelah serangkaian pemeriksaan menyakitkan, ia menerima vonis yang mengubah segalanya: lupus.
Penyakit autoimun yang bisa menyerang organ vital, merusak sistem kekebalan tubuh, dan mengancam nyawa. Seolah belum cukup, dua minggu kemudian ia kembali mengalami serangan lanjutan. Nyeri punggung tajam membuatnya hampir tak bisa bergerak, hingga akhirnya ia harus menjalani cuci darah.
Sementara teman-temannya sedang menyelesaikan tugas akhir, Alawiyah justru berjuang untuk sekadar bertahan.
Banyak orang mungkin pasrah. Banyak pula yang memilih mengulang semester. Tapi tidak Alawiyah.
“Saya sudah sejauh ini. Saya harus selesai. Untuk diri saya, untuk orang tua saya,” ujarnya pelan, namun penuh tekad.
Dengan tubuh yang naik turun, nyeri yang datang tanpa aba-aba, dan infus yang tak pernah jauh dari lengan, ia meminta satu hal kepada kampus: kesempatan. Dan kesempatan itu dijawab dengan dukungan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Teman-temannya menjadi bahu yang selalu siap menahan runtuhnya semangat. Para dosen hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai penjaga moral, memastikan bahwa Alawiyah tidak berjalan sendirian.
Hingga tibalah hari yang membuat banyak orang yang menyaksikannya sulit melupakan momen itu.
Alawiyah menjalani sidang tugas akhir di atas ranjang rumah sakit. Dengan infus terpasang, suara melemah sesekali, tetapi tatapan yang tetap yakin, ia mempresentasikan hasil belajarnya. Ruangan itu hening.
Ada air mata, ada kekaguman, ada rasa hormat yang sulit dijelaskan. Di hadapan mereka, seorang perempuan muda sedang membuktikan bahwa semangat manusia kadang jauh lebih kuat dari tubuhnya sendiri.
Ketika akhirnya hari pelantikan itu tiba, kondisi Alawiyah jauh membaik. Ia berjalan memasuki aula dengan langkah yang mantap. Berdiri di antara teman-temannya, ia tampak seperti lulusan lain, tapi sesungguhnya tidak ada yang biasa dari perjalanan yang membawanya sampai ke titik itu.
Ia kini resmi menyandang gelar Ahli Madya Keperawatan.
Meski kini profesional di dunia kesehatan, Alawiyah masih menyimpan mimpi masa kecilnya. Ia ingin tetap melukis. Suatu hari ia berharap bisa membuka galeri seni. Baginya, keperawatan dan seni tidak saling bertentangan.
“Keduanya sama-sama tentang menyentuh hati orang lain,” ujarnya.
Dan Tuhan menjawab ketekunannya. Atas kegigihan dan prestasinya, Alawiyah menerima beasiswa untuk melanjutkan studi Sarjana Keperawatan di U MSurabaya.
Sebelum menutup ceritanya, ia meninggalkan pesan sederhana namun kuat:
“Jangan menyerah pada impianmu. Rintangan itu pasti ada, tapi kita punya kekuatan yang mungkin belum kita sadari. Percaya pada diri sendiri. Percaya pada Tuhan.”
Kisah Alawiyah bukan hanya tentang lupus, bukan hanya tentang kelulusan, dan bukan hanya tentang seorang mahasiswa yang menolak menyerah.
Ini adalah cerita tentang tekad seorang anak untuk membahagiakan orang tuanya. Tentang keberanian seorang perempuan melawan rasa sakit yang tak terlihat. Tentang mimpi yang tetap menyala, bahkan ketika tubuh hampir padam.
Dan tentang bagaimana kemenangan paling indah sering lahir dari pertarungan yang paling sunyi. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments