Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kisah Awal Rizky Ridho yang Tertangkap Mata Eks Gelandang Niac Mitra

Iklan Landscape Smamda
Kisah Awal Rizky Ridho yang Tertangkap Mata Eks Gelandang Niac Mitra
Rizky Rido dan Yusman Mulyono. Foto: Wikipedia/Istimewa
pwmu.co -

Di balik gemerlapnya panggung sepak bola profesional, tersimpan cerita sederhana tentang seorang bocah yang kemampuannya ditemukan di lapangan kampung.

Itulah kisah Rizky Ridho Ramadhani, bek tangguh andalan Timnas Indonesia dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), yang ditemukan bakatnya oleh Yusman Mulyono, mantan gelandang klub legendaris Niac Mitra.

Cerita bermula di sebuah Lapangan Simo Rukun. Lapangan ini kerap menjadi ajang turnamen antardaerah, dulu dikenal dengan sebutan turnamen galadesa.

Meski berskala lokal, turnamen semacam ini sering diikuti pemain “bon-bonan”, sebutan untuk pemain profesional yang berlaga di ajang amatir demi tetap mengasah kemampuan.

Suatu hari, Yusman mendapat informasi dari seoarng wartawan. Katanya ada pemain muda potensial. Dia kerap main dengan kaum STW alias setegnah towo, sebutan orang Surabaya kepada para pesebakbola senior.

Yusman datang lalu datang ke Lapangan Simo Rukun saat latihan rutin. Di antara deretan pemain muda dan para senior, matanya tertumbuk pada sosok seorang anak muda. Posturnya tinggi dan agak kurus.

Yusman memperhatikan permainan anak muda itu: dari cara dribbling, passing, hingga kemampuannya covering lawan.

Di mata Yusman, anak muda itu menunjukkan teknik olah bola yang baik dibandingkan anak-anak seusianya. Bisa dibilang di atas rata-rata.

“Padahal dia main sama pemain senior. Kok saya lihat nggak canggung. Berani juga,” kenang Yusman kepada PWMU.CO, Rabu (3/9/2025).

Usai latihan, Yusman lalu menghampiri anak muda itu. Dia menyalami dan menanyakan namanya.

“Rizky Ridho,” ucapnya, lalu mencium tangan Yusman, yang kala itu masih membela Sekolah Sepak Bola (SSB) Simo.

“Saya langsung lihat ada potensi besar pada anak ini,” ujar Yusman “Ini aset nasional,” cetus dia.

***

Kisah Awal Rizky Ridho yang Tertangkap Mata Eks Gelandang Niac Mitra
Yusman Mulyono (saat) saat melatih klub Hizabul Wathan FC di Lapangan Unesa. Foto: Istimewa

Sejak memutuskan gantung sepatu dari kariernya sebagai pemain, Yusman Mulyono tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia sepak bola.

Dia justru semakin aktif melibatkan diri dalam kegiatan kepelatihan dan pembinaan. Baginya, sepak bola bukan hanya sekadar pertandingan di lapangan, tetapi juga ruang untuk mendidik generasi muda agar bermental kuat, disiplin, dan berkarakter.

Semangat inilah yang mendorongnya untuk terus berkiprah di dunia pembinaan usia dini hingga level profesional.

Salah satu kiprah penting Yusman pasca-pensiun adalah keterlibatannya di Hizbul Wathan Football Club (HWFC). Klub yang dimiliki oleh Muhammadiyah Jawa Timur ini cukup dikenal karena mengusung semangat dakwah dan nilai-nilai moral dalam sepak bola.

HWFC menjadi wadah yang menggabungkan prestasi olahraga dengan pembinaan akhlak, sebuah kombinasi yang sejalan dengan visi hidup Yusman. Bergabung di klub ini menjadi langkah yang penuh arti bagi dirinya.

Di HWFC, Yusman mendapat kepercayaan untuk mengisi posisi asisten pelatih. Tugas tersebut membuatnya berada dalam lingkaran inti tim pelatih yang bertanggung jawab mengembangkan strategi permainan, membina pemain, sekaligus menjaga kekompakan tim.

Posisi ini menuntut Yusman untuk banyak belajar sekaligus berbagi pengalaman dengan para pemain muda yang berjuang meniti karier di Liga 2.

Sementara itu, posisi pelatih kepala dipegang oleh sosok legendaris Yusuf Ekodono. Nama besar Yusuf yang dikenal luas di dunia sepak bola nasional memberi pengaruh kuat terhadap arah tim.

Kehadiran Yusman sebagai asisten sekaligus rekan kerja membuat tim pelatih HWFC semakin solid. Keduanya bekerja sama dalam menyusun strategi, memimpin latihan, dan mengelola dinamika tim di tengah persaingan ketat kompetisi Liga 2.

Selain Yusuf dan Yusman, HWFC juga diperkuat oleh tiga pelatih lain yang berpengalaman. Ada Nugroho Mardianto, mantan pemain Persebaya yang dikenal dengan ketegasan dan kedisiplinannya.

UM SURABAYA

Iklan Landscape UM SURABAYA

Lalu, M. Khusen yang pernah membela Deltras, membawa pengalaman berharga dari klub yang juga punya sejarah panjang di Jawa Timur.

Tak ketinggalan, Agam Haris Pambudi yang berperan sebagai pelatih fisik, yang sempat melatih tim putri Liga Arab Saudi, Al Wehda, tahun 2024.

“Satu lagi adalah Hanafing, legenda Timnas Indonesia yang sarat pengalaman. Mantan andalan Niac Mitra ini dipercaya menjabat sebagai Direktur Teknik HWFC.

Kehadiran tim pelatih yang komplet dan berpengalaman tersebut membuat HWFC memiliki fondasi yang cukup kuat.

Peran Yusman di dalamnya menjadi bagian dari proses panjang membangun klub yang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga membina karakter pemain.

Dengan pengalaman bermain yang pernah ia miliki, Yusman mampu menularkan semangat, kedewasaan, serta nilai-nilai kebersamaan yang penting bagi perjalanan sebuah tim sepak bola profesional.

***

Kisah Awal Rizky Ridho yang Tertangkap Mata Eks Gelandang Niac Mitra
Hanafing bersama Yusman Mulyono saat melatih Klub Hizbul Wathan FC di Lapangan Jambangan. Foto: HWFC

Yusman Mulyono kemudian mengajak Rizky Ridho bergabung dengan Arsenal Soccer School Surabaya, yang saat itu berlatih di Lapangan Brawijaya, tahun 2017. Di sana, Ridho mulai digembleng secara lebih serius. Teknik dan fisiknya dipoles dengan intensif.

“Kami fokus membentuk dasar-dasar sebagai bek modern,” ujar Yusman.

“Posisi awal Rizky Ridho di Arsenal Soccer School Surabaya adalah sebagai gelandang,” tambahnya.

Sayangnya, Arsenal Soccer School Surabaya hanya bertahan setahun . Sekolah sepak bola tersebut akhirnya bubar karena terkendala masalah finansial, tahun 2018.

Setelah itu, Yusman diajak bergabung oleh Mat Hali, legenda Persebaya sekaligus pemilik klub El Faza.

Kata Yusman, selama satu musim dia tidak pernah bertemu. Kemudian dia bertemu lagi setelah Ridho bergabung dengan El Faza. Bersama El Faza, Ridho ikut bersaing di Kompetisi Internal Persebaya, jalur klasik bagi pemain muda menuju level profesional.

Periode 2018 hingga 2019 menjadi masa penting bagi Ridho. Ia masuk ke akademi Persebaya U-20 dan tampil di ajang Elite Pro Academy (EPA). Di bawah asuhan pelatih Uston Nawawi, Rizky dipercaya sebagai pemain inti dan berhasil mengantarkan Persebaya menjuarai EPA U-20.

Performa gemilangnya membuka jalan ke tim senior. Rizky menjalani debut profesional bersama Persebaya pada 13 Maret 2020, saat menghadapi Persipura Jayapura di Liga 1.

Namun jauh sebelum itu, namanya sudah dikenal di level nasional. Ia menjadi bagian dari skuad Timnas Indonesia U-19 pada 2019, di bawah arahan pelatih Fakhri Husaini. Bersama Garuda Muda, Ridho turut mengantar Indonesia lolos ke Piala Asia U-19 2020.

“Saat di Timnas, Fakhri yang menggeser posisi Rizky Ridho dari gelandang menjadi center back (bek tengah). Keputusan itu terbukti tepat, karena Ridho justru lebih bersinar dengan kemampuan long passing-nya,” tutur Yusman.

Pada 2021, Rizky sempat masuk radar HWFC, yang ingin meminjamnya bersama Marselino Ferdinan dan Akbar Firmansyah. Namun, Persebaya tak memberi lampu hijau. Ketiganya dinilai punya masa depan cerah dan menjadi proyek jangka panjang pelatih Aji Santoso.

Dan terbukti, Rizky Ridho kini menjadi salah satu bek utama tim nasional dengan bayaran tinggi. Marselino bahkan melanglang ke Eropa, membela KMSK Deinze di Belgia.

Sementara Yusman Mulyono, sosok yang kali pertama mengenali bakat Ridho, terus menekuni pekerjaannya membina talenta-talenta muda lainnya.

Dari Lapangan Simo Rukun hingga stadion-stadion besar di Asia, kisah Rizky Ridho menjadi bukti bahwa jalan menuju bintang bisa dimulai dari tempat yang sederhana — asalkan ada mata tajam yang jeli, dan tangan-tangan yang sabar membimbing. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu