Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kisah Haedar Nashir di Balik Ipad yang Tertinggal di Kereta

Iklan Landscape Smamda
Kisah Haedar Nashir di Balik Ipad yang Tertinggal di Kereta
Prof. Haedar Nashir
pwmu.co -

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir sempat diliputi kecemasan setelah iPad mini berisi bahan kuliah dan dokumen penting tertinggal di Kereta Api Gajayana saat tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta, Selasa (10/2/2026) dini hari. Peristiwa yang terjadi tanpa disadarinya itu berubah menjadi pengalaman berkesan tentang pelayanan dan integritas petugas kereta api. Berikut pengalaman yang ditulis Haedar Nashir.

 

SELASA dini hari, 10 Februari 2026. Tepat pukul 01.24 WIB saya turun di Stasiun Tugu Yogyakarta dengan Kereta Api Gajayana jurusan Malang. Turun dari Kereta terasa normal, tidak ada sesuatu yang bermasalah. Lalu, dengan santai menuju parkiran mobil untuk kemudian menuju rumah.

Namun, baru sampai sepertiga perjalanan barulah sadar, ada masalah. Ipad mini yang biasa dipakai mengetik tertinggal di kereta. Mau kembali ke stasiun jelas tidak mungkin. Kereta Api sekarang tertib sekali saat turun dan naik, sekitar 3 sampai 5 menit.

Akhirnya, kami dibantu Mas Ratmoyo dari tim Media Komunikasi (Medkom) Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah membikin laporan.

Petugas yang menerima laporan sigap sekali dan detail merespons aduan. Menananyakan jenis, warna, dan casing Ipad. Diminta pula nomor seat.

Kehilangan Ipad tentu sangat merisaukan. Bukan bendanya, tapi isinya. Di dalamnya banyak data dan dokumen penting, lebih-lebih tulisan.

Malam, ketika awal naik di Stasiun Gambir pukul 18.50 WIB, saya memang mengeluarkan Ipad kesayangan. Agendanya menulis bahan kuliah untuk esok hari bagi mahasiswa S3 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) prodi Politik Islam.

Selesai mengetik, tidak terasa kantuk menerpa kuat. Maklum seharian acara, agak kelelahan. Perjalanan kereta rupanya sudah sampai Purwokerto. Tertidurlah sejenak, sampai jelang tiba di Stasiun Yogyakarta. Ipad rupanya jatuh di pinggiran tempat duduk. Maka, ketika mau turun, terlupakanlah sang Ipad yang jatuh itu.

Karena menyangkut barang sangat berharga, setelah bikin laporan resmi, saya teringat nama Pak Raja Husein Pandapotan Harahap, Wakil Kepala Satasiun Gambir yang kini menjadi Kepala Stasiun Yogyakarta.

Ketika ada situasi-situasi darurat pertiketan, suka minta bantuan Pak Raja dan juga Mas Dr. Endang Tirtana yang masih menjabat Komisaris di PT KAI. Kemarin pun saya minta tolong keduanya untuk dapat tiket ke Yogyakarta yang memang sedang padat penumpang.

Kisah Haedar Nashir di Balik Ipad yang Tertinggal di Kereta
Prof. Haedar Nashir megaar tanpa menggunakan PPT. Foto: Istimewa

Maka, seketika terpaksalah kirim pesan WhatsApp ke Pak Raja Husein. Di luar dugaan, ternyata beliau langsung membalas. Jam saat itu menunjukkan pukul 01.49 WIB. Rasanya tidak nyaman mengganggu Pak Raja yang tentu sudah istitahat, tapi apa boleh buat. Respons Pak Raja “bermahkota KAI” itu, sungguh baik. “Siap Bapak”, katanya. Baru kali ini saya menjumpai sang Raja bersiap-tegap seakan menerima dawuh. Padahal Raja biasanya mengirim perintah.

Maka, mulailah saya tenang, karena ada Raja nan bijaksana. Tapi pukul 02.15, beliau kirim pesan mengejutkan. Ipad belum ditemukan oleh petugas di atas gerbong kereta. Agak gundah juga di hati, bagaimana kalau betul-betul tidak ditemukan. Lalu mulailah ragu, jangan-jangan tertinggal di Kantor Menteng Jakarta. Tapi saya haqul-yakin, karena semalam betul-betul sadar menulis bahan kuliah.

Namun Pak Raja berjanji akan terus mengusahakan sampai ketemu. Saya pun senang, sekaligus pasrah. Sudahlah, kalau memang rizkinya, Ipad akan kembali. Kalau pun tidak, semoga ada yang menemukan dan berkenan mengembalikan.

UM SURABAYA

Iklan Landscape UM SURABAYA

Isi Ipad memang tidak ada “rahasia negara”, semua penuh dari tulisan ke tulisan maupun bahan-bahan materi kuliah dan ceramah. Tapi, sang Ipad seolah melekat jadi satu jiwa, karena selalu bersama bepergian di kala “suka” dan “duka”. Menjadi teman perjalanan ke manapun.

Akhirnya tibalah kabar baik yang sangat menggembirakan. Pukul 06.15 Pak Raja memberi kabar bahagia, Ipad sudah ditemukan di perjalanan terakhir di Stasiun Kota Malang. Sambil menunjukkan foto Ipad yang “wanted” itu, Pak Raja kemudian menelpon bila komputer tablet layar sentuh itu baru bisa dikembalikan nanti setelah siang terkirim dari Kota Apel. Alhamdulillah, hati lega seakan menerima anugerah baru.

Pukul 10.00 pun saya mengajar dan mengabarkan kalau kali ini kuliah tanpa tayangan powerpoint. Saya kabarkan kalau bahan kuliah ada di Ipad yang sedang “jalan-jalan” dengan Kerata Api Gajayana ke kota Malang. Para mahasiswa pun kaget, setelah saya ceritakan. Kuliah tetap berjalan baik, tentu sepenuhnya menggunakan papan tulis Whiteboard. Kembali ke kuliah konvensional, tapi malah leluasa bisa menjelaskan banyak hal tanpa terganggu tayangan layar sentuh.

Kisah Haedar Nashir di Balik Ipad yang Tertinggal di Kereta
Perwakilan manajemen PT KAI mengembalikan ipad milih Haedar Nashir. Foto: Istimewa

Sekitar pukul 14.25 Pak Raja mengabarkan bila Ipad sudah sampai di kantor Stasiun Yogyakarta. Beliau rencana mau menyampaikan langsung ke saya di Kantor PP Muhammadiyah di Jl. Cikditiro 23 Yogyakarta. Tapi saya baru saja meninggalkan kantor untuk acara lain.

Maka, Ipad itu diambil Mas Ratmoyo ke Stasiun Tugu Yogyakarta. Terjadilah serahterima Ipad dari Pak Raja ke Mas Moyo, lengkap dengan foto keduanya. Tampak resmi seperti pose dua pejabat sedang MOU mewakili instansi masing-masing.

Sungguh lega dan bahagia, Ipad kembali ke “pangkuan ibu pertiwi”. Lantas saya kirm pesan WA ke pak Raja: “Alhamdulillah, terimakasih banyak Pak Raja, mohon maaf sejak dinihari merepotkan dan mengganggu tugasnya. Jazakumullah khair.”.

Dengan sigap Pak Raja membalas, “Siap Bapak, kami dengan senang bisa membantu Bapak.”. Di ujung pesan disertai emoji dua telapang tangan terlipat, tanda minta maaf. Padahal, sayalah yang harus minta maaf.

Setelah tiba di rumah, saya kirim pesan kepada Pak Raja: “Alhamdulillah Ipad sudah saya terima dengan baik di rumah, Pak Raja. Terimakasih untuk seluruh kru KAI atas pelayanan dan bantuan terbaiknya, sehingga Ipad saya kembali dengan utuh.”. Lagi-lagi Pak Raja membalas “Siap Pak”, disertai emoji dua telapak tangan terlipat. Serasa suasana idulfitri, saling bermaaf-maafan.

KAI saat ini makin baik dan luar biasa pelayanannya. Bukan hanya karena Ipad saya kembali dari perjalanan panjang ke Kota Malang. Tetapi untuk banyak pelayanannya yang kian smart. Ketepatan waktu, kebersihan, keramahan petugas pelayanan di stasiun hingga di atas kereta, hingga banyak pilihan jenis kereta api untuk perjalanan. Tandanya manajemen KAI kian berkembang modern.

Sukses dan terimakasih kepada Pak Raja serta seluruh kru Kereta Api. Semoga ke depan Kereta Api Indonesia menjadi moda transportasi terbaik yang makin merata di seluruh kepulauan di Indonesia. Tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Berharap moda transportasi lain di Indonesia makin baik, tidak banyak delay dan membatalkan penerbangan. Terimakasih, Kereta Api Indonesia!

Sumber: Muhammadiyah.or.id

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu