Membaca kisah sering kali mampu memberikan pelajaran tanpa terasa menggurui. Di dalamnya tersimpan hikmah yang dapat menggugah jiwa, bahkan memberi dorongan kuat untuk melakukan berbagai amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah-kisah teladan juga menghadirkan nilai yang dapat dijadikan bahan renungan. Misalnya kisah Nabi Sulaiman AS dan Ali bin Abi Thalib RA yang sama-sama menempatkan ilmu di atas harta, berbeda dengan Qarun yang dikenal sangat memuja kekayaan.
Selain itu, terdapat pula kisah tentang Mubarak, seorang penjaga kebun delima yang bekerja selama bertahun-tahun namun tidak mampu membedakan buah yang manis atau kecut. Ketika ditanya, ia menjawab bahwa tugasnya hanya menjaga kebun, bukan mencicipi buahnya. Sikap amanah itulah yang kemudian menjadi teladan, terlebih karena ia kelak dikenal sebagai ayah dari Ibnu Mubarak, seorang ulama ahli hadis terkemuka.
Kisah lain datang dari Khalifah Harun Al-Rasyid yang pernah berdialog dengan seorang ulama tentang nilai segelas air. Dalam dialog tersebut, sang khalifah sampai menyatakan bersedia menyerahkan seluruh kerajaannya demi mendapatkan segelas air dan dapat melepaskannya kembali melalui air seni. Kisah ini mengingatkan manusia bahwa kesehatan dan nikmat sederhana jauh lebih berharga daripada kekuasaan.
Pesan Mulia dari Kisah
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia juga mengajarkan pentingnya mengambil pelajaran dari kisah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS Yusuf: 111).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kisah merupakan sarana penting untuk memahami nilai kehidupan. Bahkan, sekitar dua pertiga isi Al-Qur’an memuat berbagai kisah yang sarat dengan pelajaran dan hikmah.
Penggunaan kisah juga menjadi salah satu metode pendidikan dalam Islam yang sangat efektif. Melalui kisah, nilai moral dan spiritual dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Tidak hanya anak-anak, kalangan pemuda hingga orang dewasa pun cenderung menyukai kisah. Oleh karena itu, kisah menjadi media pembelajaran yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Kisah yang disampaikan melalui tulisan dapat memberi dampak positif bagi pembacanya. Begitu pula kisah yang disampaikan melalui media audio maupun video, yang juga mampu memberikan inspirasi bagi pendengar dan pemirsanya.
Kisah yang dibaca tidak selalu harus berupa kisah nyata. Kisah fiksi juga dapat memberikan pelajaran berharga. Sebagai contoh adalah karya Buya Hamka seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah yang hingga kini masih dibaca dan bahkan telah diangkat ke layar film.
Kisah di Malam ke-27 Ramadan
Untuk melengkapi bahwa kisah bisa ditemukan di berbagai tempat, berikut sebuah kisah nyata yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin.
Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin lahir pada 17 April 1963 dan dikenal sebagai seorang doktor di bidang akidah. Ia merupakan profesor yang mengajar di Islamic University of Madinah pada program pascasarjana serta aktif mengajar di Masjid Nabawi.
Selain berdakwah melalui ceramah, ia juga aktif menulis dan memiliki puluhan karya buku. Dakwahnya tidak hanya di Arab Saudi, tetapi juga menjangkau berbagai negara, termasuk Indonesia.
Suatu malam ke-27 Ramadan, ia bersama dua sahabatnya hendak pergi ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat malam. Ketika keluar rumah menuju mobil, ia mendengar suara musik keras dari sebuah mobil yang berisi sejumlah pemuda.
Syaikh Abdurrozzaq kemudian mendekati mereka dan berkata, “Wahai para pemuda, jika kalian tidak sanggup mengisi malam ini dengan ibadah maka mohon dimatikan suara musik yang begitu keras ini.”
Para pemuda itu pun mematikan musik tersebut. Setelah itu, sang syaikh mengajarkan sebuah doa yang dianjurkan dibaca pada malam Lailatul Qadar, yaitu:
“Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku).
Salah satu pemuda mengaku belum hafal doa tersebut. Sang syaikh kemudian mengulanginya hingga pemuda itu mampu melafalkannya.
Peristiwa itu berlalu hingga sekitar lima tahun kemudian. Ketika Syaikh Abdurrozzaq memberikan ceramah di sebuah kota, seorang pemuda berjenggot mendatanginya.
Pemuda itu berkata bahwa ia adalah salah satu pemuda yang pernah dinasihati pada malam ke-27 Ramadan tersebut. Sejak malam itu, ia rutin membaca doa yang diajarkan sang syaikh hingga akhirnya Allah membimbingnya meninggalkan berbagai perbuatan maksiat.
“Alhamdulillah, akhirnya aku kembali ke jalan-Nya,” ujar pemuda itu.
Ibrah dari Kisah
Kisah tersebut memberikan sejumlah pelajaran penting bagi umat Islam. Di antaranya adalah pentingnya memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan, sebagaimana yang dilakukan oleh Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin.
Kisah itu juga mengajarkan bahwa seorang Muslim hendaknya peduli terhadap kondisi di sekitarnya serta berani menyampaikan nasihat dalam kebaikan.
Selain itu, setiap orang juga harus bersedia menerima nasihat, meskipun berasal dari orang yang sebelumnya tidak dikenal.
Dari kisah tersebut juga dapat dipahami bahwa tugas manusia hanyalah menyampaikan dakwah, sedangkan hasilnya sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Pada akhirnya, membaca kisah dapat menjadi sarana untuk memperkuat iman, memperbaiki akhlak, dan menambah semangat dalam melakukan kebaikan.






0 Tanggapan
Empty Comments