
PWMU.CO – Rumah sederhana bercat merah muda itu tampak sepi. Seorang ibu paruh baya sedang melayani pembeli bakso dagangannya. Tampak pula seorang laki-laki di teras rumah bersalaman dengan enam teman yang mengunjunginya. Nur Ardiansyah, Nama lelaki itu. Dia merupakan alumni SD Muhammadiyah 1 Gresik angkatan 1997.
Teman-teman yang menjenguk Ardian merasa kaget melihat kondisinya. Tubuh Ardian tampak lemah, wajahnya tampak sayu.“Gimana, Ar, kondisimu? Bagaimana ceritanya kok bisa seperti ini?” Tanya salah seorang temannya, Diki, saat mereka mengobrol di ruang tamu.
Ardian pun menceritakan sakitnya yang mengakibatkan kelumpuhan pada tangan kirinya hingga saat ini. Beberapa waktu yang lalu, ia sempat dirawat di rumah sakit karena peradangan pada otak. Terapi yang rutin ia lakukan juga untuk melatih kakinya yang hanya mampu berjalan perlahan.
“Ya, kalau pas ada uang, saya belikan obat Cina itu di Surabaya. Satu butirnya seharga Rp 1.700.000,” jelas ibunda Ardian sambil menunjukkan kemasan obatnya. Sudah 4 tahun ini, Ardian berjuang melawan sakitnya. Terapi demi terapi ia lalui dengan sabar. Berbagai tempat pengobatan alternatif dan herbal juga ia usahakan. Konsultasi ke dokter di rumah sakit juga dilakukan untuk mendapat penyembuhan saraf otaknya.
(Baca: Memberi Tak Harap Kembali: Kisah Nyata Ketika Din Syamsuddin Bertemu Seorang Ibu di Pesawat dan Mengharukan! Kisah Seorang Tunanetra Mencari Kiblat Shalat)
Usaha orangtuanya yang tidak sesukses dulu membuat Ardian terpaksa harus menunda pengobatan di luar tanggungan BPJS. Konveksi kecil yang disambi dengan jualan bakso di depan rumah menjadi pemasukan orangtua Ardian. Hasil usaha itu ditabung sedikit demi sedikit untuk mengobatkan Ardian ke Surabaya sebagai biaya terapi dan pembelian obat Cina yang telah dirasakan ampuh itu.
Ivan, Yoshi, Taufiq, Huda, Diki, dan Lisa adalah teman Ardian waktu di SD Muhammadiyah 1 Gresik. Mereka menyempatkan untuk menjenguk Ardian, kemarin (17/8), mewakili seluruh teman Ardian di SD Muhammadiyah 1 Gresik angkatan 1997. Teman-temannya tersebut mengumpulkan donasi sejak dua minggu lalu. Kemudian diberikan kepada Ardian untuk meringankan biaya pengobatannya.
Bagi alumni SD Muhammadiyah 1 Gresik angkatan 1997, jarak bukanlah halangan. Kesibukan yang menyelimuti bukanlah alasan. Demi Ardian, rupiah demi rupiah disisihkan dengan ikhlas. Koordinasi via online di grup WA mendekatkan mereka. Kepedulian satu sama lain menjadikan mereka sebagai satu keluarga besar.
Tepat pada Hari Kemerdekaan Republik INdonesia, tanggal 17 Agustus 2017, mereka berikan Kemerdekaan kecil untuk Ardian. Semoga dia segera diberikan kesembuhan. Semoga Allah mengganti kesabaran dan ketabahannya dengan kesembuhan di kemudian hari. Amiiin… (ria eka lestari/ilmi)






0 Tanggapan
Empty Comments