Pengajian Keluarga Sakinah yang rutin diadakan setiap bulan sukses digelar pada Ahad (7/9/2025) di Masjid Al Huda, Babadan Rukun 77, Surabaya.
Acara yang mengangkat tema Kisah Tiga Sahabat yang Sangat Mencintai Rasulullah ini diselenggarakan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan, Surabaya.
Pengajian ini menghadirkan Ustadz Dr H M Arfan Mu’ammar MPdI sebagai penceramah.
Ustadz Arfan memulai kajian dengan menanyakan seberapa besar cinta umat Islam kepada Rasulullah SAW. Ia menekankan pentingnya mengetahui tanggal lahir dan wafat Rasulullah, jumlah istri, serta jumlah anaknya.
Menurutnya, salah satu tanda cinta seseorang kepada orang lain adalah dengan mengenal profil dan latar belakangnya.
Ia menjelaskan bahwa hikmah Rasulullah lahir dan wafat pada hari Senin adalah agar tidak ada hari yang dianggap sial.
“Hikmah Rasulullah lahir dan wafat pada hari Senin adalah supaya tidak ada hari yang dianggap sial. Hikmah wafatnya putra Rasulullah lebih dulu adalah agar khalifah tidak ditentukan berdasarkan keturunan Rasulullah,” ujar Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik itu.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam Surat ali Imran ayat 14, Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
Sementara itu, dalam Surat al-Baqarah ayat 165, Allah berfirman yang artinya: “Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan bagi-Nya, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, cinta mereka kepada Allah sangat kuat. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat azab pada hari Kiamat, niscaya mereka akan mengetahui bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, sehingga mereka menyesal.”
Dari kedua ayat tersebut terlihat bahwa manusia cenderung mencintai berbagai hal di dunia. Namun, orang-orang yang beriman memiliki cinta yang sangat kuat kepada Allah. Salah satu contoh keimanan tersebut dapat dilihat dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya, di mana Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah Allah meskipun ia sangat mencintai anaknya.
Peristiwa tersebut diabadikan dalam Surat ash-Shaffat ayat 102, yang artinya: “Ketika anak itu sampai pada usia yang sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu! InsyaAllah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.”
“Dalam sejarah Islam, banyak sahabat yang menunjukkan bukti cinta dan pengabdiannya kepada Rasulullah. Tiga di antaranya adalah Abu Bakar, Abu Dujanah, dan Bilal bin Rabah,” jelasnya.
Abu Bakar, lanjutnya, adalah sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah. Ayah Aisyah RA ini merupakan orang pertama yang mempercayai kisah Isra Mi’raj. Saat itu, Abu Jahal dan warga Mekkah lain meragukan cerita perjalanan Rasulullah karena dianggap tidak logis pada masa itu.
Namun, Rasulullah mampu menggambarkan ciri-ciri Masjidil Aqsha beserta kafilah yang akan datang, menjadi bukti tak terbantahkan bahwa kisah tersebut benar. Begitu kuatnya cinta Abu Bakar kepada Rasulullah sehingga meskipun Rasulullah menceritakan hal yang sulit diterima akal sehat, ia tetap mempercayainya.
Selanjutnya, Ustadz Arfan menyampaikan kisah kedua yakni pengorbanan luar biasa Abu Dujanah. Saat Perang Uhud, Rasulullah terjebak dalam lubang jebakan dan diserang panah oleh orang-orang kafir. Abu Dujanah pun melindungi Rasulullah dengan membiarkan panah-panah itu menancap di punggungnya sendiri.
“Kisah ketiga menggambarkan kecintaan luar biasa Bilal bin Rabah. Setelah Rasulullah wafat, Bilal enggan kembali mengumandangkan adzan karena selalu teringat kepada beliau,” tuturnya.
Suatu ketika, sambungnya, Bilal didesak untuk mengumandangkan adzan. Saat ia melakukannya, seluruh aktivitas warga terhenti seakan teringat saat Rasulullah masih hidup. Bahkan Bilal sampai tidak kuat menyelesaikan adzan karena rasa sedih yang mendalam. Rasulullah bersabda bahwa seseorang akan bersama orang yang dicintainya.
Sekretaris LP2 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur itu menambahkan bahwa mencintai Rasulullah akan membuat kita dapat bersamanya di surga.
“Maka cintailah Rasulullah agar kita dapat bersamanya di surga,” pesannya.
Menurutnya, ada beberapa cara untuk mencintai Rasulullah. Pertama, mengenalnya dengan membaca kisah hidup dan meneladani akhlaknya. Kedua, mengunjungi Mekah dan Madinah. Ketiga, menaati Allah dan Rasul-Nya. Keempat, menjalankan sunnahnya, serta yang Kelima, sering membaca shalawat.
Ustadz Arfan kemudian menjelaskan bahwa dalam Surat al-Ahzab ayat 56, Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
Dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya tersebut menegaskan agar tidak meremehkan shalawat.
“Jangan meremehkan shalawat. Misalnya, jika kita pergi ke showroom, lalu menyentuh mobil dan menshalawatinya, itu tidak sama. Bershalawat dilakukan karena kita mencintai Rasulullah dan memang perintah Allah,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments