Di sebuah rumah sederhana di Desa Nagrak, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, suasana haru bercampur bahagia menyelimuti keluarga kecil Abdul Razzaq.
Putra sulung mereka, Zayyan Abdul Razzaq (18), baru saja membawa kabar besar: ia resmi diterima sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan beasiswa penuh jalur sepak bola.
Bagi keluarga ini, berita tersebut bukan sekadar tiket pendidikan tinggi, melainkan bukti nyata bahwa kerja keras, doa, dan tekad kuat mampu menembus batas keterbatasan.
Sejak kecil, sepak bola sudah menjadi bagian dari hidup Zayyan. Ia kerap diajak sang ayah—seorang sopir mobil antar kota—menonton pertandingan bola, baik di stadion kecil lokal hingga laga besar nasional. Dari bangku tribun penonton, benih cinta pada sepak bola tumbuh subur dalam dirinya.
Saat duduk di kelas 2 SD, Zayyan mulai berani menurunkan mimpinya ke lapangan dengan bergabung ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Saint Prima Bandung.
Bagi bocah seusianya, sepak bola memang hobi, tapi bagi Zayyan kecil, bola adalah jalan hidup. Sejak itu, ia terbiasa bangun pagi, berlatih dengan disiplin, dan menjadikan keringat di lapangan sebagai bagian dari kesehariannya.
Selepas SMP di pesantren, Zayyan tidak hanya mengasah diri dalam ilmu agama, tapi juga memperkuat langkahnya di dunia sepak bola.
Dia melanjutkan pembinaan di Safin Pati Football Academy, sebuah akademi sepak bola yang dikenal mencetak pemain muda berbakat.
Selama tiga tahun di akademi itu, Zayyan menorehkan sejumlah prestasi yang makin memantapkan langkahnya. Ia ikut mengantarkan timnya meraih juara tiga Piala Suratin tingkat provinsi dan tampil di Jateng Premier League (JPL) 2024–2025.
Prestasi tersebut menjadi modal penting untuk menggapai mimpi lebih tinggi.
***
Kesempatan emas datang saat guru di SMA Muhammadiyah 1 Pati memberi informasi tentang beasiswa sepak bola UMY.
Tanpa ragu, Zayyan mendaftar. Perjalanannya tidak mudah: ia harus melalui seleksi berkas, uji lapangan di Stadion UMY, hingga tahap akhir berupa wawancara.
“Alhamdulillah, semuanya lancar sampai tahap terakhir, dan saya lolos seleksi beasiswa penuh sepak bola UMY ini,” ungkap Zayyan, seperti dilansir di laman UMY, Selasa (2/9/2025).
Ketika kabar kelulusan itu sampai di rumah, sang ayah yang terbiasa menghabiskan waktu di jalan raya dengan setir mobil, bersama sang ibu yang kini tidak lagi bekerja, hanya bisa terisak haru. Putra mereka berhasil membuka jalan baru, jauh lebih luas dari yang pernah mereka bayangkan.
Kini, Zayyan resmi menjadi mahasiswa baru Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMY.
Namun, beasiswa penuh yang ia dapatkan bukan berarti tanpa tanggung jawab. Ada syarat ketat yang harus ia jaga: mempertahankan IPK minimal 2,75 dan aktif membela PS Hizbul Wathan (PSHW), klub resmi di bawah naungan Muhammadiyah.
“Insya Allah bisa, asal pintar-pintar mengatur waktu,” katanya dengan penuh keyakinan.
Bagi Zayyan, beasiswa ini bukan sekadar bebas biaya kuliah. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa pendidikan dan sepak bola bisa berjalan beriringan.
Meski kini sibuk beradaptasi sebagai mahasiswa, Zayyan tak melupakan cita-citanya di lapangan hijau.
Dia menargetkan suatu saat bisa bermain di Liga 1, bahkan berkarier di level internasional. Namun ia menegaskan, pendidikan tetap menjadi prioritas.
“Harus seimbang, antara sepak bola dan akademik,” ujarnya tegas.
Di balik semangatnya, terselip pesan sederhana untuk generasi muda yang ingin menapaki jalan serupa.
“Kerja keras, disiplin, jangan lupa ibadah, dan selalu libatkan orang tua,” pungkasnya.
***
Kisah Zayyan adalah potret nyata bagaimana sepak bola tidak hanya soal mengejar bola di lapangan, tapi juga jalan yang bisa membuka masa depan.
Dari anak sopir di desa kecil Bandung, kini ia melangkah ke Yogyakarta membawa harapan besar: membanggakan orang tua, sukses di akademik, dan meraih mimpi sebagai pesepakbola profesional.
Sepak bola, bagi Zayyan, bukan sekadar permainan. Ia adalah doa, perjuangan, dan jalan menuju masa depan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments