Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kisah Zera, Mahasiswi Muhammadiyah yang Tembus Student Exchange ke Polandia

Iklan Landscape Smamda
Kisah Zera, Mahasiswi Muhammadiyah yang Tembus Student Exchange ke Polandia
Adzra Dielsya Aziza (kiri) bersama teman-temannya di di Adam Mickiewicz University. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Di tengah suhu dingin Poznań, kota di Polandia Barat yang tenang dan penuh sejarah, langkah seorang mahasiswi asal Yogyakarta mulai menorehkan jejaknya. Namanya Adzra Dielsya Aziza, atau akrab disapa Zera.

Mahasiswi International Program of International Relations (IPIREL) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2022 ini baru saja menyelesaikan program student exchange selama satu semester (Februari–Juli 2025) di Adam Mickiewicz University, salah satu kampus ternama di Polandia.

Bagi Zera, keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan akademik. Lebih dari itu, ia menganggapnya sebagai perjalanan keberanian, adaptasi, dan pembuktian jati diri sebagai muslimah berhijab di Eropa.

“Saya sempat khawatir, karena saya berhijab. Amankah untuk saya tinggal di Eropa? Apalagi saudara saya di Belanda sempat bilang, di Polandia ada stereotip rasis terhadap muslim,” kenangnya seperti dilansir di laman resmi UMY, Senin (25/8).

Namun, alih-alih mundur, Zera justru memilih melawan keraguan. “Saya ingin tahu sendiri, apakah benar seperti yang orang katakan. Akhirnya saya memberanikan diri. Bismillah,” katanya mantap.

Perjalanan Zera menuju Polandia tidaklah mulus. Proses pengurusan visa memakan waktu panjang, bahkan penuh cerita unik.

“Ada kejadian lucu. Saat foto di embassy, saya diminta memperlihatkan telinga. Padahal saya berhijab. Jadi bingung bagaimana caranya telinga terlihat tapi tetap berhijab,” ujarnya, lalu tertawa.

Selama sebulan penuh, Zera harus bolak-balik Jogja–Jakarta untuk melengkapi berkas. Tegangan makin tinggi ketika visa baru terbit empat hari sebelum keberangkatan.

“Rasanya lega sekali. Baru bisa beli tiket setelah itu,” ucapnya lega.

Setiba di Adam Mickiewicz University, Zera memilih mata kuliah seputar European Studies. Pengalaman akademik di sana membuka perspektif baru.

“Cara belajar berbeda, lebih banyak diskusi. Mahasiswa dituntut aktif, tidak hanya mendengarkan,” jelasnya.

Namun tantangan terbesar justru ada di luar kelas. Interaksi sosial dengan masyarakat Polandia terasa kaku di awal.

“Mereka kelihatan jutek. Tapi kalau kita duluan yang menyapa, mereka terbuka sekali,” ungkap Zera.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dia  menemukan cara unik menjembatani perbedaan budaya: memasak makanan Indonesia. “Saya sering bikin bakwan, nasi goreng, ayam goreng. Teman-teman dari berbagai negara suka sekali. Dari situlah kami jadi akrab,” tambahnya.

Kisah Zera, Mahasiswi Muhammadiyah yang Tembus Student Exchange ke Polandia
Adzra Dielsya Aziza di salah satu kawasan yang dihuni bangunan tua di Polandia. Foto; Istimewa

***

Sebagai muslimah, Zera merasakan pengalaman religius yang tak terlupakan saat Ramadan. Di Poznań, ia menemukan kehangatan di Muslim Cultural Center. “Ada masjid kecil, bisa untuk tarawih, buka bersama, bahkan menginap,” tuturnya.

Tantangan tetap ada, terutama soal makanan halal. “Saya lebih sering masak sendiri. Kalau makan di luar biasanya pilih menu vegan atau seafood,” jelasnya.

Urusan ibadah pun penuh perjuangan. “Kadang bingung cari tempat shalat kalau sedang di luar. Untungnya awal-awal masih bisa jamak dan qashar,” katanya.

Meski tantangan tidak sedikit, Zera merasakan penghargaan besar dari pihak universitas maupun masyarakat. Mahasiswa internasional mendapat banyak kemudahan: diskon transportasi, tiket museum, hingga potongan harga kereta 50 persen.

“Rasanya benar-benar dihormati,” ucapnya dengan mata berbinar.

Enam bulan di Polandia terasa begitu cepat. Namun bagi Zera, pengalaman ini adalah bukti bahwa identitas berhijab bukanlah penghalang untuk menembus dunia.

“Justru menjadi ruang pembuktian diri. Kalau ada kesempatan exchange, jangan takut. Jangan terjebak stereotip. Kita belajar bukan hanya soal akademik, tapi juga soal diri sendiri,” pesannya untuk mahasiswa lain.

Saat pesawat yang ditumpanginya mendarat kembali di tanah air, Zera membawa pulang lebih dari sekadar catatan kuliah. Ia membawa cerita tentang keberanian, ketekunan, dan keyakinan bahwa dunia bisa menjadi ruang tumbuh bagi siapa saja yang berani melangkah.

“Betah banget, saya masih ingin di sana. Pulang rasanya berat,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu