
PWMU.CO – KKN UMG (Universitas Muhammadiyah Gresik) disambut Camat Brondong dan Presiden Komisaris Kelola Grup saat pertemuan Kantor Kecamatan Brondong, Lamongan, Selasa (1/8/2023).
Camat Brondong Drs Moch.Mahfud MM mengatakan, wilayah ini memiliki topografi laut dan pertanian. Terletak di sepanjang pantai utara (Pantura). Juga memiliki tambang galian C di Desa Sedayu Lawas, Lembor, dan Desa Sidomukti.
Dia bercerita hasil pertanian ada yang khas. ”Kita ada produk semangka inul,” tutur Camat Mahfud. Semangka lazimnya berbentuk bulat. Semangka inul berbentuk bulat lonjong.
‘”Ada yang berwarna merah atau kuning. Ini terdapat di beberapa desa di antaranya Sedayu Lawas,” papar Mahfud.
Mahfud menambahkan, menjadi pekerjaan rumah adalah mencari sumber air di Desa Sumberagung.
”Nama desanya bagus yakni Sumberagung tapi desa ini tidak memiliki sumber air seperti namanya, sehingga untuk memenuhi kebutuhan air bersih mengambil air dari tetangga desa,” ungkapnya.
Upaya pencarian sumber air pernah dilakukan pada kegiatan KKN yang dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2019 sebelum pandemi. Saat pandemi proses ini terhenti.
”Kami harap perguruan tinggi dapat melanjutkan proses ini sehingga harapan warga untuk memiliki sumber air terwujud,” harapnya.
Di Sedayu Lawas, Brondong, Labuhan dan Lohagung penghasil ikan laut segar. Bahkan, di Kelurahan Brondong terdapat pelabuhan dan tempat pelelangan ikan (TPI).
”Para nelayan yang datang bukan hanya berasal dari Kecamatan Brondong melainkan juga dari berbagai daerah seperti Tuban, Madura atau Gresik,’’ ujarnya.
Potensi tangkapan ikan di pelabuhan ini mencapai 300 ton per hari. Tangkapan ikan para nelayan diupayakan dapat dijual dalam keadaan hidup.
”Beberapa jenis ikan seperti kerapu, bawal, dan sejenisnya yang dijual dalam keadaan hidup dipasarkan hingga ke Bali dengan harga Rp.150 ribu per kilo,” paparnya.
Sementara Presiden Komisaris Kelola Grup yang membawahi PT Kelola Mina Laut, Ir Zainul Wasik, MM menyampaikan empat tingkatan kualitas barang dan harga dalam industri perikanan.
Pertama, ikan hidup. Tingkatan ini memiliki harga tertinggi dikarenakan mulai proses penangkapan ikan hingga pemasaran ke konsumen kondisi ikan dalam keadaan hidup.
Kedua, ikan segar sampai di konsumen. Untuk tingkatan ini para nelayan menggunakan es batu untuk membuat ikan tetap segar atau hasil tangkapan dijual pada hari yang sama.
”Tingkatan ketiga, ikan yang melalui proses pengasinan atau penggaraman. Tingkat keempat, ikan dalam kaleng. Tingkatan ini ikan yang digunakan adalah ikan yang memiliki nilai ekonomis tidak tinggi,’’ ujar pria asal Gresik ini.
Penulis Aries Kurniawan Editor Sugeng Purwanto






0 Tanggapan
Empty Comments