PWMU.CO – Ketika mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) pertama kali tiba di Desa Ngampel, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, mereka menyadari satu hal penting: tidak adanya plang atau papan nama yang menunjukkan identitas wilayah.
“Kami sempat bingung saat pertama survei ke sini. Tidak ada penanda desa atau jalan, jadi tidak tahu apakah sudah sampai di Desa Ngampel atau belum,” ujar salah satu mahasiswa KKN, Jum’at (4/7/2025).
Berangkat dari permasalahan tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 15 kemudian menginisiasi program kerja utama berupa pembuatan plang nama desa, dusun, dan jalan. Program ini bertujuan untuk memperjelas identitas wilayah, mempermudah pendataan, serta memberikan kesan rapi dan terorganisir bagi lingkungan desa.
Gandeng UMKM Lokal untuk Pemberdayaan Ekonomi
Yang menarik, dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak bekerja sendiri. Mereka menggandeng pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal, yaitu pengrajin kayu milik Sulhan, warga setempat yang telah lama menekuni bidang pertukangan.
“Kerja sama seperti ini memberi semangat baru bagi usaha saya. Selain bisa bantu mahasiswa, saya juga bisa ikut berkontribusi dalam penataan desa. Harapannya, setelah ini makin banyak warga yang percaya bahwa usaha lokal punya kualitas yang tidak kalah,” tutur Sulhan saat ditemui di bengkel kayunya, Selasa (22/7/2025).
Keterlibatan UMKM dalam program ini tidak hanya mendukung pengadaan bahan dan pembuatan fisik plang, tetapi juga menjadi bentuk pemberdayaan ekonomi warga. Produk Pak Sulhan dikenal memiliki ketahanan dan kerapian tinggi, sehingga dipercaya untuk mengerjakan plang nama skala besar.
Proses Pembuatan dan Titik Pemasangan

Proses pengerjaan dimulai dengan pemesanan bahan kayu, pengukuran ukuran papan, hingga pengecatan dasar yang dilakukan secara bergotong royong. Tahap selanjutnya adalah penulisan nama-nama lokasi dan perakitan plang, yang dijadwalkan rampung dalam satu minggu.
Plang nama yang telah selesai dibuat dipasang pada hari Minggu sore di titik-titik strategis sebagai berikut:
- Sebelum masuk Karangpilang (meliputi RT 1, 2, 3, 4, Balai Desa, dan TPQ),
- Perempatan Kedondong (meliputi RT 1, 2, 3, 4) dan
- Batas wilayah Kedondong dan Tanah Landean (plang bertuliskan “Selamat Datang”).
Program ini menjadi contoh konkret bahwa pembangunan desa bisa dimulai dari hal sederhana namun berdampak luas. Kolaborasi antara mahasiswa dan warga desa tidak hanya menghasilkan plang nama, tetapi juga memperkuat rasa memiliki terhadap wilayah mereka sendiri.
Melalui program ini, mahasiswa KKN UMG berupaya menjadi jembatan antara kebutuhan desa dan potensi sumber daya lokal yang ada. Hasil akhir diharapkan dapat memperkuat identitas desa dan mendorong peningkatan kesadaran warga terhadap pentingnya penataan wilayah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments