
PWMU.CO – Tema yang diambil dalam Kajian Ramadan 1446 H kali ini adalah hal yang tak bisa ditawar-tawar, karena ini berkaitan dengan komitmen Muhammadiyah membentuk negeri yang ideal sebagaimana disifatkan dalam al-Qur’an, yakni Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Syafiq A Mughni MA, ketika memberikan Keynote Speech dalam Kajian Ramadan 1446 H yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Dome Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) pada Sabtu (8/3/2025).
Prof Syafiq menuturkan bahwa Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur merujuk pada negeri Saba’, sebuah negara yang berdiri di masa Nabi Sulaiman. “Karena bagusnya negeri itu, makanya disifati Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur,” ungkapnya.
Namun, kata dia, dalam pemikiran Muhammadiyah, baik asbabun nuzul maupun secara bahasa, kita harus mengambil makna yang lebih luas. Yakni, itu adalah gambaran negara yang ideal yang harus diimpikan orang Islam jika memiliki peluang membentuk negara seperti itu. “Tetapi perlu disadari bahwa ini adalah negara yang ideal dan dicita-citakan, yang mungkin tidak akan terwujud nyata secara persis sebagai negara baldah thayyibah,” ujar Prof Syafiq.
Ia menyebut bahwa mungkin gambaran ini belum terwujud. Namun, yang terpenting adalah proses bagaimana membentuk negara yang dicita-citakan. “Ini adalah kondisi state of becoming, yakni kondisi yang terus berupaya menjadi lebih baik. Itulah visi menjadi baldah thayyibah,” kata Prof Syafiq.
“Maka, Muhammadiyah berkomitmen untuk terus berupaya menjadi lebih baik lagi, agar negeri ini, Indonesia, bisa dikategorikan sebagai baldah thayyibah karena mengalami state of becoming atau terus berkembang, bukan dalam kondisi stagnan,” tuturnya. (*)
Penulis Wildan Nanda Rahmatullah Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments