PWMU.CO – Konferensi Mufassir Muhammadiyah (KMM) III yang dinantikan akhirnya terlaksana dengan penuh semarak di Hotel Ibis–Novotel Bandara Yogyakarta Internasional Airport, Kamis (28/08/2025) hingga Sabtu (30/08/2025).
Forum ilmiah ini menjadi momentum penting bagi para mufassir Muhammadiyah untuk mempertemukan gagasan, dan memperkuat silaturahmi intelektual. Sekaligus mempertegas arah tafsir kolektif Muhammadiyah yang harapannya segera lahir dalam bentuk Tafsir At-Tanwir.
Acara perdana pada Kamis (28/08/2025) berlangsung khidmat sekaligus meriah. Menteri Agama Republik Indonesia, Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA hadir langsung memberikan sambutan kunci (keynote speech).
Kehadirannya menegaskan betapa pentingnya peran Muhammadiyah dalam pengembangan tafsir Al-Qur’an di Indonesia.
Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa tafsir bukan hanya kegiatan akademik. Tetapi juga sebuah ikhtiar membumikan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan sosial, politik, dan kebudayaan umat.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir MSi turut membuka konferensi.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern tidak boleh berhenti hanya pada ranah praksis amal usaha. Melainkan juga harus memberi warisan keilmuan yang mendalam melalui tafsir Al-Qur’an.
Menurut Haedar, lahirnya tafsir kolektif Muhammadiyah akan menjadi tonggak baru dalam perjalanan persyarikatan. Karena selama ini belum ada tafsir yang secara resmi dikodifikasi dan berdiri utuh atas nama Muhammadiyah.
Peran Prof Dr KH Syamsul Anwar MA
Hari berikutnya, Jumat (29/08/2025), forum semakin padat dengan diskusi panel. Prof Syamsul Anwar, Ketua PP Muhammadiyah sekaligus salah satu tokoh penting dalam bidang fikih dan ushul, tampil memberikan materi yang sangat mendalam.
Dalam pemaparannya, Syamsul menegaskan bahwa urgensi tafsir dan mufassir Muhammadiyah tidak dapat ditunda lagi.
Muhammadiyah, katanya, harus mampu melahirkan tafsir jama’i—yakni tafsir yang ditulis secara kolektif dan kolegial oleh para mufassir Muhammadiyah, sehingga menjadi produk resmi persyarikatan.
Ia menggarisbawahi, meskipun banyak kader dan cendekiawan Muhammadiyah yang menghasilkan karya tafsir pribadi, hingga kini Muhammadiyah belum memiliki tafsir yang diakui secara institusional.
Karena itu, momentum KMM III ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melahirkan karya besar kolektif. Sebagai wujud keseriusan Muhammadiyah dalam membumikan Al-Qur’an.
Kehadiran Kader Sidoarjo
Yang menarik, dalam KMM III ini turut hadir kader terbaik Muhammadiyah dari Sidoarjo, yakni Bilad Tajdidul Islahi SPd dan Tri Febriandi Amrullah MAg.
Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa kader Muhammadiyah dari daerah juga memiliki kontribusi nyata dalam forum ilmiah nasional ini.
Bilad, yang kini mengabdikan diri sebagai tenaga kependidikan di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, menyampaikan makalah tafsir yang ia tulis tentang Surat Al-Ma’arij pada juz 29.
Dalam pemaparannya, ia menekankan nilai-nilai kesabaran, tanggung jawab, dan moral sosial yang terkandung dalam surat tersebut.
Menurut Bilad, surat Al-Ma’arij memberi gambaran jelas tentang kondisi manusia yang tergesa-gesa. Namun pada saat yang sama Allah menegaskan pentingnya akhlak dan keteguhan iman dalam menghadapi ujian dunia.
Bagi Bilad, keikutsertaan dalam konferensi ini adalah pengalaman berharga. “Saya sangat menikmati suasana diskusi ilmiah yang hangat, sekaligus penuh nuansa ukhuwah. Di sini kita belajar bahwa tafsir bukan sekadar ilmu, tetapi juga ruang untuk meneguhkan jati diri sebagai kader Muhammadiyah yang ingin memberi makna bagi umat” ujarnya di sela-sela acara.
Sementara itu, Tri Febriandi Amrullah MAg alumni Magister UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang kini berdomisili di Sidoarjo, juga menyampaikan apresiasi mendalam terhadap forum ini.
Baginya, KMM III bukan hanya ajang akademik, melainkan juga wadah silaturahmi keluarga besar Muhammadiyah lintas daerah.
“Saya berharap silaturahmi kekeluargaan peserta KMM III ini bisa terjalin selamanya. Lebih dari itu, saya berharap Tafsir At-Tanwir yang sedang digarap Muhammadiyah dapat segera diterbitkan. Karena warga persyarikatan sudah sangat menantikan tafsir karya mufassir Muhammadiyah” ungkapnya penuh semangat.
Harapan Lahirnya Tafsir At-Tanwir
KMM III ini disebut-sebut sebagai konferensi terakhir dalam rangkaian proses panjang lahirnya Tafsir At-Tanwir.
Sebelumnya, Muhammadiyah telah menggelar KMM I dan II sebagai tahap pengumpulan gagasan, perumusan metodologi, serta penyusunan struktur tafsir.
KMM III hadir sebagai forum pemantapan sekaligus penutup, di mana hasil diskusi diharapkan segera diwujudkan dalam bentuk publikasi resmi.
Tafsir At-Tanwir sendiri bermaksud sebagai tafsir jama’i yang merepresentasikan pemikiran kolektif para mufassir Muhammadiyah.
Metode ini terpilih agar tafsir tidak hanya bersifat individual, melainkan benar-benar mencerminkan pandangan persyarikatan.
Dengan demikian, warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia akan memiliki rujukan resmi ketika ingin memahami ayat-ayat Al-Qur’an sesuai manhaj tarjih dan tajdid.
Suasana Konferensi
Suasana konferensi terasa hangat, penuh dialog dan semangat kebersamaan. Para peserta datang dari berbagai daerah, mewakili universitas, majelis tarjih, pesantren, hingga sekolah Muhammadiyah.
Diskusi tidak hanya terjadi di dalam ruang panel, tetapi juga berlangsung cair di sela-sela waktu istirahat, makan bersama, hingga saat shalat berjamaah.
Di hotel tempat acara berlangsung, suasana akademik berpadu dengan keakraban kekeluargaan. Banyak peserta saling bertukar buku, artikel, hingga ide-ide penelitian baru.
Beberapa dosen muda Muhammadiyah bahkan menjadikan forum ini sebagai kesempatan untuk memperluas jejaring dan memperkuat kolaborasi lintas daerah.
Refleksi Peserta
Bilad, dalam refleksinya, menyebut bahwa konferensi ini menjadi momentum penting bagi kader muda Muhammadiyah untuk mengasah kemampuan menulis tafsir sekaligus memperdalam pemahaman Al-Qur’an.
Ia berharap, generasi muda Muhammadiyah bisa semakin berani menulis karya ilmiah, karena tafsir membutuhkan keberanian intelektual sekaligus keikhlasan spiritual.
Sementara Tri Febriandi menekankan pentingnya menjaga semangat kekeluargaan yang lahir dari forum ini.
“Tafsir itu bukan hanya soal ilmu, tetapi juga soal persaudaraan. Semoga dari Yogyakarta, semangat ini bisa kita bawa pulang ke daerah masing-masing dan menjadi energi baru untuk menghidupkan kajian Al-Qur’an di lingkungan kita” tuturnya.
Penutup
Konferensi Mufassir Muhammadiyah III di Yogyakarta menjadi saksi penting lahirnya kesadaran kolektif akan urgensi tafsir jama’i dalam tubuh persyarikatan.
Kehadiran tokoh-tokoh nasional seperti Menteri Agama, Ketua Umum PP Muhammadiyah, hingga para ulama tarjih memberikan legitimasi kuat bagi kelanjutan proyek besar Tafsir At-Tanwir.
Lebih dari itu, partisipasi kader daerah seperti Bilad Tajdidul Islahi dan Tri Febriandi Amrullah MAg. menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukan hanya milik pusat. Melainkan milik seluruh kader di pelosok negeri yang siap berkontribusi dengan cara masing-masing.
KMM III akhirnya berakhir dengan doa dan harapan besar: semoga dalam waktu dekat, Tafsir At-Tanwir benar-benar terbit, menjadi penuntun bagi warga persyarikatan, dan menjadi warisan intelektual Muhammadiyah untuk umat dan bangsa.






0 Tanggapan
Empty Comments