Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Krisis Identitas Akibat TikTok

Iklan Landscape Smamda
Krisis Identitas Akibat TikTok
Oleh : Athaya Hanun Sasmitha Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) Universitas Ahmad Dahlan
pwmu.co -

Platform media sosial (medsos) seperti TikTok menawarkan peluang yang sangat luas dalam mencapai jangkauan audiens.

Namun kebiasaan yang didorong oleh tuntutan algoritma menyebabkan personal branding mengalami pergeseran fungsi.

Krisis identitas pada individu, terutama pada remaja seringkali salah dalam memahami personal branding.

Mereka melihatnya sebagai upaya membangun persepsi publik semata, tetapi tidak dengan dukungan kebenaran yang nyata.

Aktivitas scrolling tanpa jeda untuk terus mengonsumsi atau memproduksi konten dapat menghambat proses pengenalan diri sendiri.

Individu yang terlalu bergantung pada standar TikTok cenderung kehilangan kemampuan untuk membentuk jati diri yang sesuai dengan pengalaman hidup mereka.

Validasi eksternal menggantikan makna diri

Individu cenderung mencari perhatian dan apresiasi orang lain melalui pembuatan konten, seperti konten negatif atau konten yang relevan dengan perasaan pengguna media sosial, demi mendapatkan umpan balik (feedback).

Karena terlalu fokus pada validasi eksternal, harga diri individu menjadi sangat tidak stabil atau berubah-ubah.

Mereka selalu merasa tidak cukup atau kurang puas, dan masih ingin mendapatkan perhatian lebih banyak melalui konten yang dibuat, sehingga akan terus-menerus menciptakan konten yang semakin menghilangkan jati dirinya.

Keterlibatan berlebihan dalam lingkungan digital yang tidak stabil terbukti merusak kesehatan mental sebagian orang.

Penelitian di Wuhan, Cina, pada tahun 2020 menunjukkan tingkat kemunculan depresi mencapai 48% dan kecemasan 23% di antara pengguna media sosial.

Bahkan di kalangan mahasiswa, sekitar 30% melaporkan merasa depresi akibat penggunaan media sosial.

Selain depresi dan kecemasan umum, media sosial memicu Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kekhawatiran seseorang agar tidak ketinggalan suatu momen atau informasi berharga.

Konsumsi konten yang berlebihan adalah dorongan utama dalam memicu kecemasan.

Mengikuti standar media sosial secara konstan memicu kecemasan dan kelelahan mental yang parah.

Tekanan untuk memproduksi konten menarik dan konsisten menyebabkan burnout yang berdampak pada fisik dan mental.

Akibatnya, upaya mengejar validasi eksternal ini mengarah pada kondisi mental yang tidak stabil.

Dimensi Krisis Identitas

Tekanan performa di TikTok serta obsesi terhadap penampilan yang sempurna berpotensi besar memicu keretakan identitas seseorang.

Bagi remaja, media sosial menawarkan tempat ideal untuk bereksperimen dan mengeksplorasi identitas baru.

Kemampuan untuk mengganti karakter dengan mudah dan interaksi yang sangat luas membuat para remaja lebih nyaman menggunakan ‘karakter palsu’ daripada ‘diri sejati’ (real self) mereka.

Hal ini menciptakan jarak yang lebar antara karakter palsu dengan diri mereka yang sesungguhnya.

Ketidakselarasan antara karakter palsu dengan ideal self dapat menimbulkan beban pikiran yang meningkat secara signifikan.

Individu harus terus-menerus bekerja keras untuk menyembunyikan kekurangan dan mempertahankan citra sempurna agar tidak kehilangan pengikut (following).

Ketika personal branding yang ditampilkan palsu dan tidak sesuai dengan nilai serta kepribadian yang sesungguhnya, para remaja akan terjebak dalam kepura-puraan yang mudah rapuh.

Kepura-puraan yang rapuh ini sangat tidak berkelanjutan dan merupakan akar dari krisis identitas.

Menurut kritik psikolog media Sherry Turkle, untuk mengembangkan diri yang stabil dan menemukan solusi kreatif, individu perlu memperlambat diri, membiarkan pikiran mengembara, dan mengambil waktu untuk menyendiri (take time alone).

Namun, lingkungan TikTok yang sangat adiktif dan didorong oleh algoritma For You Page (FYP) secara sistematis meniadakan kesempatan ini.

Krisis identitas dan kekosongan jiwa merupakan hal yang wajar terjadi ketika menjadikan personal branding di TikTok sebagai ajang pamer dan mencari perhatian orang lain.

Ideal self berubah menjadi liquid self, artinya identitas seseorang terus-menerus dibentuk ulang untuk menyesuaikan kondisi yang berubah-ubah sesuai tuntutan algoritma.

Jika kita terus-menerus mengejar tren TikTok tanpa adanya tujuan yang stabil untuk membatasi diri dengan dunia sosial, kita berisiko menjalani kehidupan yang kosong atau tanpa pikiran (mindless existence).

Untuk mengatasi hal tersebut, kita perlu memastikan apa yang ditampilkan di media sosial sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini dalam kehidupan sehari-hari.

Mulailah fokus untuk mengembangkan diri dan memberi manfaat, bukan sekadar mencari popularitas semata.

Lakukan kegiatan di luar dunia digital yang mampu membantu kita lebih mengenal diri sendiri.

Hal-hal sederhana seperti melakukan kegiatan hobi  atau sekadar makan makanan kesukaan dapat membantu mengenal diri kita lebih dalam, sehingga kita tahu cara menyadarkan diri sendiri jika sudah terlalu jauh di media sosial.

Membangun personal branding berarti sukses memegang kendali terhadap citra diri sendiri.

Namun, kendali yang kita ciptakan harus sesuai dengan kejujuran dan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Bijaklah dalam menggunakan TikTok untuk berekspresi tanpa harus mengorbankan jati diri kita demi kekosongan dalam jiwa.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu