Kru Askara dari siswa-siswi SMA Muhammadiyah 2 (SMA Muha) Genteng Banyuwangi meraih juara harapan 2 pada kategori lomba senematografi di ajang SMA Award 2025 tingkat Jawa Timur.
Puncak penganugerahan SMA Award 2025 dilaksanakan pada Kamis (23/10/2025) di Dyandra Convention Center Surabaya bersama seluruh pemenang lomba siswa-siswi SMA/SMK/MA se-Jawa Timur.
Dalam ajang SMA Award 2025 memperlombakan empat mata lomba yang terdiri dari pertama bidang Seni meliputi cipta cerpen, cipta puisi dan baca, cita lagu, gitar solo, senematografi, desain poster, tari kreasi tradisional pencak silat dan kata karete.
Kedua bidang Sains dan Penelitian meliputi kompetisi sains matematika, kimia, fisika dan kompetisi Penelitian Siswa Indonesia. Ketiga bidang Digital terdiri dari e-Sport, mobile legends. Keempat bidang Pengembangan Karakter dan ketrampilan meliputi duta pelajar, debat bahasa Inggris, fotografi dan kategori khusus berupa toilet bersih, perpustakaan dan School Food Care.
ASKARA
Dari sekian cabang lomba yang dipertandingkan di ajang SMA Award 2025. Tim senematografi SMA Muha Genteng yang mengambil tema Askara lolos masuk 10 besar.
Setelah diseleksi lebih lanjut akhirnya masuk lima besar serta menjadi juara harapan 2. Yang kemudian meraih kehormatan untuk menghadiri acara penganugerahan para pemenang bersama Kepala Cabang Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur.
Kru sinematografi SMA Muha Genteng terdiri dari siswa-siswi kelas X,XI dan XII dengan susunan sebagai berikut, Penulis; Avi Sofiana dan Ezzar Awaludin A, Sutradra; M.Adiansyah, aktor; Hulul Helga DW, Zidan Al-Abukhori, Aswin P, Avi Sofiana, Juwita Cahya, Nazilatur Rohmah, Winar, Maha, Tama, Panasea, Syahila dan Zila, Penata Artistik; M.Yusuf Alfiandi, Kameramen; Tarish Zahirah Najmah, Anisa Sholekhah, Ezzar Awwaludin Editor; Chica Edistya M, Audrey Syahila H dan Junior.
Penulis ASKARA, Avi Sofiana menjelaskan bahwa ASKARA berasal dari bahasa sansekerta yang artinya cahaya atau sinar. Kami mengambil judul tersebut sesuai dengan tema yang kami ketengahkan yakni dengan bertemunya dua sosok anak muda gen Z.
“Mereka sama-sama mempunyai pengetahuan luar biasa, namun salah satunya memiliki ketergantungan pada AI (Artificial Intelligence) dan yang lain belajar menggunakan sumber ajar secara umum. Dari pengalaman kecerdasan kedua insan tersebut untuk menghasilkan pengetahuan yang lebih sempurna bisa mengkolaborasikan antara keduanya,” terangnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments