Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Surabaya menggelar kuliah tamu bertajuk “Pendekatan Molekuler dalam Mengungkap Rahasia Biodiversitas Vertebrata” pada Jumat (5/12/2025).
Kegiatan berlangsung secara hybrid melalui Zoom meeting dan luring di Lantai 23 Gedung At-Ta’awun, diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta guru Biologi SMA se-Kota Surabaya.
Kegiatan dibuka oleh Kaprodi Pendidikan Biologi, Dr. Asy’ari, S.Pd., M.Pd., yang menegaskan bahwa kuliah tamu ini menjadi penguatan materi dari mata kuliah Ekologi, Genetika, dan BKHV. Ia berharap pemaparan narasumber dapat memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai isu keanekaragaman hayati.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Dekan II FKIP, Dr. Dra. Yuni Gayatri, M.Pd., yang menekankan pentingnya pembelajaran dari praktisi dan membuka peluang kerja sama riset di masa mendatang.
Sesi pertama menghadirkan Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc. Ia memaparkan posisi Indonesia sebagai negara megabiodiversitas peringkat kedua dunia, memiliki 22 tipe ekosistem, 98 tipe vegetasi, serta menjadi habitat bagi 9,7% flora dunia, 15% mamalia, 17% burung, dan 16% ikan laut dunia.
Ia juga menguraikan berbagai tekanan terhadap keanekaragaman hayati di Jawa Timur, mulai dari fragmentasi habitat hingga perdagangan satwa. BBKSDA Jatim saat ini mengelola 26 kawasan konservasi dengan total luas lebih dari 30 ribu hektare.
Konservasi Modern
Nur Patria menjelaskan tiga tingkatan keanekaragaman hayati—genetik, spesies, dan ekosistem—yang keseluruhannya saling bertumpu. Menurutnya, konservasi modern menuntut pemanfaatan riset genetika, termasuk penggunaan e-DNA, camera trap, smart patrol, serta analisis genetika populasi untuk memprediksi keberlangsungan spesies di masa depan.
Materi kedua disampaikan secara daring oleh Prof. Dr. Trianik Widyaningrum Rahardjanto, S.Si., M.Si., dari Universitas Ahmad Dahlan. Ia membahas peran pendekatan molekuler dalam identifikasi spesies, analisis evolusi, hingga konservasi modern.
Ia menegaskan pentingnya teknologi DNA dan PCR sebagai dasar analisis molekuler karena mampu memberikan identifikasi akurat, bahkan dari sampel minimal. Namun ia juga menyoroti keterbatasan fasilitas uji DNA di Indonesia, yang membuat beberapa analisis lanjutan masih harus dilakukan di luar negeri seperti Malaysia.
Kuliah tamu ditutup dengan antusiasme tinggi dari peserta. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dan pendidik memperoleh wawasan baru tentang pemanfaatan teknologi molekuler dalam konservasi vertebrata serta tantangan pengelolaan biodiversitas di Indonesia. Program studi berharap kegiatan serupa dapat terus digelar untuk memperkuat literasi ilmiah dan kolaborasi akademik dalam bidang biologi konservasi. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments