Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kultum Tarawih di Masjid Baitul Muslimin, Ustaz Rofiq Tekankan Puasa sebagai Madrasah Pembentuk Takwa

Iklan Landscape Smamda
Kultum Tarawih di Masjid Baitul Muslimin, Ustaz Rofiq Tekankan Puasa sebagai Madrasah Pembentuk Takwa
Ustaz M. Rofiq Nurrohman, S.E., saat menyampaikan kultum sebelum Witir di Masjid Baitul Muslimin. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Suasana Masjid Baitul Muslimin, Dusun Kebaman, Desa Kebaman, Kecamatan Srono, terasa khusyuk dan penuh keberkahan pada Jumat malam Sabtu (20/2/2026). Jamaah memadati masjid untuk melaksanakan salat Isya dan Tarawih berjamaah.

Salat Isya dan Tarawih malam itu dipimpin oleh M. Rofiq Nurrohman, S.E., yang juga dikenal sebagai Bendahara PCM Srono. Setelah pelaksanaan salat Isya dan iftitah, jamaah melanjutkan Tarawih delapan rakaat.

Sebelum salat Witir, Ustaz Rofiq menyampaikan kultum yang menyejukkan sekaligus menggugah kesadaran para jamaah tentang makna puasa Ramadan.

Dalam tausiyahnya, ia menegaskan bahwa tujuan utama puasa Ramadan adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Menurutnya, Ramadan bukan sekadar perubahan waktu makan.

“Ramadan bukan hanya soal sahur lebih awal dan berbuka lebih akhir. Ramadan adalah madrasah tarbiyah, sekolah pendidikan ruhani. Output-nya jelas, menjadi insan bertakwa,” tuturnya dengan gaya santai.

Ia juga mengingatkan bahwa Muhammadiyah mengajarkan Islam sebagai agama berkemajuan. Dalam pandangannya, puasa merupakan sarana pendidikan karakter yang sangat nyata. Setidaknya ada tiga aspek utama yang dilatih melalui ibadah puasa.

Pertama adalah kejujuran atau integritas. Puasa melatih seseorang untuk jujur kepada diri sendiri.

“Kita bisa saja makan atau minum secara sembunyi-sembunyi, tetapi kita sadar Allah Maha Melihat. Di situlah letak nilai kejujuran yang sesungguhnya,” jelasnya.

Kedua adalah disiplin dan manajemen waktu. Sahur dan berbuka dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. Hal tersebut mengajarkan umat Islam untuk menghargai waktu serta menjalani hidup secara tertib.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ketiga adalah empati sosial. Rasa lapar dan haus yang dirasakan selama berpuasa menjadi pengingat terhadap saudara-saudara yang hidup dalam kekurangan.

“Puasa memupuk kepedulian sosial, bukan egoisme. Ramadan harus melahirkan kepekaan, bukan sekadar rutinitas,” imbuhnya.

Ustaz Rofiq juga mengingatkan pesan Rasulullah bahwa banyak orang yang berpuasa, tetapi hanya memperoleh lapar dan haus. Oleh karena itu, puasa harus disertai dengan menjaga lisan, pandangan, hati, serta perbuatan dari hal-hal yang tercela.

Menutup kultumnya, ia mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas diri dan kepedulian sosial.

“Mari kita jadikan Ramadan ini sebagai ajang memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh,” pungkasnya, seraya memimpin doa, “Allahumma barik lana fi Ramadan.”

Para jamaah pun menyambut dengan penuh kekhusyukan, berharap Ramadan kali ini benar-benar menjadi jalan menuju takwa yang hakiki. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu