Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kunci Kebangkitan Umat Menurut KH. Nadjih Ihsan: Tauhid Lebih Utama dari Kekuasaan

Iklan Landscape Smamda
Kunci Kebangkitan Umat Menurut KH. Nadjih Ihsan: Tauhid Lebih Utama dari Kekuasaan
KH Nadjih Ihsan. foto: tangkapan layar youtube
pwmu.co -

Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, KH. Nadjih Ihsan, MSi menegaskan bahwa masa depan umat Islam hanya dapat dibangun di atas fondasi akidah dan tauhid yang kokoh.

Hal itu disampaikannya dalam ceramah yang mengupas ayat-ayat Al-Qur’an tentang takwa, tauhid, dan janji Allah kepada orang beriman.

Kiai Nadjih mengawali tausiyahnya dengan merujuk firman Allah dalam Surat Al-Hasyr ayat 18:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Menurutnya, frasa “hari esok” yang disebut dalam ayat tersebut, sebagaimana ditafsirkan para ulama, merujuk pada hari akhirat.

“Takwa bukan berarti berpangku tangan atau tidak kreatif. Justru orang bertakwa selalu menghitung apa yang dikerjakan hari ini untuk menghadapi masa depan, baik akhirat maupun perubahan di dunia,” ujarnya.

Kiai Nadjih mencontohkan, seseorang yang berusia 50 tahun secara lahiriah tidak akan hidup 30 tahun lagi jika dilihat dari rata-rata usia penduduk Indonesia.

“Masa depan itu juga berarti generasi berikutnya yang akan menggantikan kita. Setiap individu beriman harus punya perhitungan yang tepat,” tambahnya.

Dalam menegakkan Islam, Rasulullah sa melewati markhalah atau tahapan perjuangan yang jelas. Kiai  Nadjih Ihsan menekankan bahwa tidak ada satu pun yang dapat mengatakan Nabi Muhammad gagal memimpin.

Dia menyebut tahapan awal perjuangan Nabi sebagai markhalatud tauhid, meletakkan dasar akidah tauhid.

“Masyarakat hanya akan menjadi baik jika akidahnya bagus. Dalam Kitab Al-Firqotun Najiyah wa Thoifah Al-Mansurah dijelaskan, mana yang harus didahulukan: membina akidah umat atau merebut kekuasaan? Jawabnya jelas, akidah dulu. Dari mana kekuasaan diperoleh jika akidah tidak baik?” katanya.

Kiai Nadjih mengingatkan bahwa Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 Ayat (1) menyatakan “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Menurutnya, ini adalah konsep tauhid yang sejalan dengan kontribusi besar tokoh Muhammadiyah dan NU dalam pendirian negara Indonesia.

“Pertanyaannya, siapa di negeri ini yang benar-benar membicarakan akidah secara mendalam? Nilai-nilai tauhid bisa menjadi landasan perjuangan umat,” ujarnya.

Kiai Nadjih juga mengutip Surat An-Nur ayat 55:

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi… dan Dia akan menukar keadaan mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa…”

Menurutnya, janji Allah pasti terlaksana, berbeda dengan janji manusia yang bisa saja diingkari. Ayat ini menyebut tiga janji utama Allah: memberikan kekuasaan, menguatkan agama yang diridai-Nya, dan mengganti rasa takut menjadi aman. Syaratnya, umat harus bertauhid murni dan menjauhi syirik.

“Persoalan bangsa ini rumit karena banyak orang menuhankan manusia, bukan Allah. Kalau statemen saya ini keliru, tolong diluruskan,” tegasnya.

Tiga Faktor Kebangkitan Umat

Kiai Nadjih Ihsan menyebut setidaknya tiga faktor yang menentukan kebangkitan umat Islam jika tauhid dijadikan sumber inspirasi:

Pertama, kesiapan menerima kebenaran. Meski sederhana, faktanya tidak semua umat Islam mau memilih yang baik dan benar karena perbedaan etnis atau partai.

“Umat Islam seharusnya bisa menentukan presidennya sendiri jika akidahnya benar,” katanya.

Kedua, pemahaman bahwa Islam bukan agama langit semata. Mengutip Kiai Ahmad Dahlan, ia mengatakan, “Agama Islam itu tidak hanya mengurus ibadah ritual, tapi juga aspek ekonomi, sosial, dan lainnya.”

Ketiga, kesediaan menggalang ukhuwah Islamiyah. Banyak umat yang menganggap perbedaan mazhab berarti bukan saudara, sehingga enggan membantu bahkan berupaya membubarkan pihak lain. “Padahal ukhuwah adalah kekuatan besar umat,” tegasnya. (*)

 

Catatan:

Disarikan dari kanal Youtube Masjid An-Nur Sidoarjo.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu