
PWMU.CO- Setiap tahun, jutaan umat Islam di seluruh penjuru dunia menunaikan ibadah kurban saat Idul Adha.
Pemandangan menyembelih kambing, sapi, atau unta ini kerap mengundang tanya, bahkan kritik, dari sebagian kalangan yang tak memahami konteksnya.
Namun sesungguhnya, kurban adalah ibadah yang syarat makna; mengajarkan cinta, kasih sayang, pengorbanan, dan tanggung jawab sosial.
Hakikat kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Ia adalah simbol dari penyembelihan hawa nafsu dan ego manusia di hadapan perintah Allah. Sejarah mencatat bagaimana Nabi Ibrahim AS, saat diuji untuk menyembelih anaknya Ismail AS, rela tunduk kepada kehendak Allah tanpa ragu. Ujian itu berakhir dengan digantinya Ismail dengan seekor domba menjadi tonggak syariat qurban yang kita jalankan hari ini. Allah Swt berfirman:
Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalian-lah yang dapat mencapainya (Qs Al-Hajj: 37).
Ayat ini menegaskan bahwa yang diterima Allah dari kurban bukanlah darah atau dagingnya, melainkan ketulusan hati dan ketakwaan pelakunya.
Kurban adalah latihan spiritual yaitu membunuh ego serakah, menggugurkan sifat kikir, dan membangkitkan rasa empati terhadap sesama. Ia adalah ibadah hati yang terwujud dalam tindakan nyata.
Air Mata Hewan: Kasih Sayang Islam dalam Penyembelihan.
Banyak orang mengira bahwa air mata hewan kurban tu adalah ekspresi kesedihan atau ketakutan. Padahal, secara medis, air mata hewan adalah reaksi fisiologis terhadap stres, bukan ungkapan emosional seperti manusia.
Meski demikian, Islam sangat menjunjung tinggi etika dalam penyembelihan. Rasulullah Saw bersabda:
Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik (ihsan) dalam segala hal. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik (HR Muslim).
Maka pisau harus diasah tajam, hewan tidak boleh disiksa atau dipertontonkan saat penyembelihan hewan lain, dan prosesnya harus dilakukan dengan cepat agar hewan tidak menderita. Semua itu mencerminkan rahmat Islam, bahkan kepada makhluk yang nyawanya akan diambil.
Ibadah Kurban: Pahala Tiada Tara, Manfaat Dunia Akhirat.
Kurban adalah ibadah yang sangat dicintai Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan:
Tidak ada amalan yang dilakukan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah daripada menumpahkan darah (hewan kurban). Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kukunya. Dan sungguh, darah itu akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka, relakanlah ia dengan hati yang lapang (HR Tirmidzi).
Tak hanya itu, kurban juga menguatkan solidaritas sosial. Dagingnya dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat. Ibadah ini mengajarkan berbagi, menyatukan hati, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Maka, kurban adalah ibadah yang menggabungkan dimensi spiritual dan sosial secara utuh.
Menghidupkan Ruh Kurban di Tengah Kehidupan.
Di tengah zaman yang penuh individualisme dan materialisme, qurban hadir sebagai pengingat tentang nilai pengorbanan dan keikhlasan. Kita diajak untuk memotong bukan hanya hewan, tapi juga sifat-sifat buruk dalam diri kita: egoisme, tamak, dan kezaliman terhadap makhluk lain.
Qurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi merupakan pendidikan ruhani dan sosial. Kurban membentuk manusia yang lembut kepada makhluk, tetapi teguh di jalan Allah.
Maka, mari kita jaga semangat qurban dengan menunaikannya secara syar’i, menyebarkan kebaikannya, dan menghayati nilai-nilainya sepanjang tahun. Karena sejatinya, qurban adalah jalan menuju kedekatan dengan Allah dan kepedulian terhadap sesama. (*)
Penulis Tataq Satria Praja Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan





0 Tanggapan
Empty Comments