Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kurnia ZF: Anak Indonesia Berpeluang Besar, Tapi Siapa Penjaga Moralnya?

Iklan Landscape Smamda
Kurnia ZF: Anak Indonesia Berpeluang Besar, Tapi Siapa Penjaga Moralnya?
pwmu.co -

PWMU.CO – Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, anak-anak Indonesia kini memiliki akses pendidikan yang jauh lebih baik daripada generasi sebelumnya. Namun di balik kemudahan itu, masih banyak persoalan mendasar yang perlu segera mendapat perhatian serius, seperti stunting, kesenjangan pendidikan, dan rendahnya literasi digital. Persoalan-persoalan itu relatif mudahkita jumpai di kalangan anak-anak Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Kurnia Zahrotussita Fachtoni, Ketua Bidang Advokasi Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PC IPM) Gubeng, dalam wawancara eksklusif bersama PWMU.CO, Sabtu (26/7/2025) terkait pandangannya terkait masa depan anak-anak bangsa Indonesia.

Kurnia Zahrotussita Fachtoni, Ketua Bidang Advokasi Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PC IPM) Gubeng (PWMU.CO)
Kondisi anak Indonesia saat ini

Kini, anak Indonesia jauh lebih beruntung karena memiliki akses pendidikan yang mudah dijangkau. Memang masih terdapat anak-anak yang mengalami kesulitan biaya, namun pemerintah dan Muhammadiyah telah menyediakan cukup banyak beasiswa, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Beasiswa Kader.

Kurnia pun mengajak reflektif sejenak untuk mengingat kembali perjuangan orang-orang tua di masa lalu. Mereka yang ingin bersekolah, terpaksa harus menghadapi banyak kesulitan, mulai dari akses hingga biaya pendidikan.

“Kalau bandingannya dengan zaman dulu, anak-anak sekarang jauh lebih beruntung. Akses sekolah lebih terbuka, dan ada banyak beasiswa seperti KIP dan Beasiswa Kader Muhammadiyah. Coba kita bandingkan dengan yang di alami orang tua kita dahulu,” ujar Kurnia.

Kurnia juga menyoroti bahwa perkembangan teknologi dan informasi merupakan keuntungan lain yang bisa dimanfaatkan anak-anak untuk mendukung proses pembelajaran.

“Perkembangan teknologi juga menjadi peluang besar dalam dunia pendidikan. Namun disisi lain, teknologi juga membawa tantangan baru yang harus segera dijawab, terutama menyangkut literasi digital di kalangan anak-anak,” imbuhnya.

Namun demikian, Kurnia menyoroti masalah utama yang mendesak segera mendapatkan perhatian serius, yaitu: stunting dan rendahnya literasi digital. Dua hal ini harus segera teratasi untuk masa depan anak-anak Indonesia.

“Ada dua PR besar: stunting dan literasi digital. Anak-anak masih banyak yang sulit membedakan informasi benar dan salah (hoaks.red). Maka, literasi digital yang komprehensif sangat perlu,” jelasnya.

Menuju generasi cerdas dan bemoral

Selain itu, Kurnia menyoroti masih adanya kesenjangan pendidikan, khususnya di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Menurutnya, pemerataan pendidikan yang berkualitas merupakan kunci utama untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bermoral.

“Pendidikan itu bukan hanya soal akademik, tapi juga karakter. Anak-anak harus belajar etika digital, bukan hanya sekadar bisa menggunakan teknologi,” tegasnya.

Ia yakin bahwa hanya dengan pendidikan yang berkualitas yang akan menciptakan anak-anak cerdas dan bermoral. Penting juga penekanan pada pengajaran etika digital di tengah perkembangan teknologi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Penggunaan teknologi yang baik dan benar harus seiring dengan pembelajaran etika digital. Bukan hanya soal sistem komputasi, tetapi juga tentang menggunakan teknologi secara bijak,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kurnia menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan dan gizi anak. Pemeriksaan yang rutin mampu menurunkan angka stunting dan meningkatkan kecerdasan anak.

“Pemeriksaan kesehatan dan gizi anak sebaiknya secara berkala agar kasus stunting berkurang. Menurunnya angka stunting berdampak pada peningkatan kecerdasan anak bangsa,” jelasnya.

Peran orang tua dan guru

Orang tua memiliki peran sentral dalam pendidikan anak. Kurnia pun mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan sekolah sebagai tempat penitipan anak semata. Ia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dan guru sebagai teladan utama dalam mendidik anak.

“Orang tua adalah pendidik utama bagi anak. Karena itu, orang tua harus aktif mendampingi anak, bukan sekadar menitipkan anak ke sekolah. Mereka harus aktif mendampingi dan membentuk nilai-nilai dasar di rumah,” tegasnya.

Peran guru juga sangat penting. Karena itu, Kurnia berpesan agar guru tidak hanya hadir di kelas. Tetapi juga harus terlibat penanaman nilai-nilai etika dan motivasi kepada siswa.

Di akhir wawancara, Kurnia menyampaikan optimisme terhadap masa depan anak-anak Indonesia. Menurutnya, dengan sinergi antara orang tua, guru, dan pemerintah, serta kesadaran akan pentingnya etika dan kesehatan anak, masa depan bangsa dapat terbangun dengan lebih kuat.

“Jika kita bisa selesaikan tantangan ini, saya yakin anak-anak Indonesia akan tumbuh menjadi generasi yang unggul secara intelektual, moral, dan emosional,” pungkasnya.***

Penulis Fariz Zakariya Fauzan, Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu