Nama Kusnadi Ikhwani mungkin tak asing bagi banyak kalangan, terutama di Sragen dan lingkungan Muhammadiyah.
Ia bukan hanya dikenal sebagai pengusaha kuliner yang sukses membesarkan Geprek Grub—sebuah brand ayam geprek yang kini memiliki banyak cabang dan selalu menekankan pentingnya kehalalan dan kebersihan produk—tetapi juga sebagai sosok yang membawa semangat baru dalam gerakan memakmurkan masjid.
Geprek Grub: Usaha Kuliner yang Tumbuh Bersama Nilai Halal
Sebelum aktif menjadi penggerak pemakmuran masjid, Pak Kus lebih dulu membangun reputasinya sebagai entrepreneur. Geprek Grub berkembang pesat bukan semata karena rasanya yang disukai, tetapi karena kejujuran, amanah, dan profesionalitas yang ia terapkan dalam bisnis.
Geprek Grub baginya bukan hanya usaha, tetapi sarana untuk menghadirkan makanan halal, bersih, dan aman, sekaligus membuka lapangan kerja bagi banyak orang.
Kesuksesan tidak membuatnya berjalan sendiri. Ia aktif mendampingi UMKM, membantu pelaku usaha merapikan manajemen, memperbaiki layanan, meningkatkan kualitas produk, hingga mengatur keuangan bisnis secara syar’i.
Ia bahkan menuliskan pengalamannya dalam buku “Marketing Jalur Langit”, sebuah karya yang menggabungkan strategi pemasaran dengan nilai-nilai spiritual. Buku ini menjadi pegangan banyak pengusaha Muslim untuk berbisnis secara profesional sekaligus penuh keberkahan.
Bagi Kusnadi, bisnis yang baik bukan sekadar mengejar profit, tetapi harus membawa manfaat dan keberkahan.
Terpaut dengan Masjid: Awal Kiprah Baru
Meski dunia bisnisnya berkembang, hatinya tetap kembali pada masjid. Ia meyakini bahwa kebangkitan umat dimulai dari masjid yang terkelola dengan baik. Keyakinan itu membawanya menjadi Ketua Takmir Masjid Raya Al-Falah Sragen.
Di bawah kepemimpinannya, Al-Falah berubah menjadi masjid dengan pengelolaan modern: nyaman, bersih, ramah jamaah, dan transparan dalam pengelolaan keuangan. Tidak heran jika kemudian masjid ini menjadi rujukan nasional.
Dari pengalaman Al-Falah, lahirlah gerakan yang lebih besar: pelatihan takmir, pembinaan marbot profesional, penguatan SOP masjid, hingga pendampingan manajemen dana. Baginya, masjid bukan sekadar tempat ibadah, tetapi lembaga pelayanan yang harus dikelola dengan baik—bersih, tertib, dan disiplin.
Gerakan ini akhirnya berkembang ke berbagai daerah, menjadikan Kusnadi sebagai salah satu tokoh yang mendorong perubahan nyata dalam tata kelola masjid di Indonesia.
Buku: Strategi Memakmurkan Masjid
Untuk memperluas manfaat, ia menuliskan seluruh konsep pengelolaan masjid ke dalam buku “Strategi Memakmurkan Masjid”, sebuah panduan praktis mengenai manajemen takmir, pelayanan jamaah, kebersihan, pelatihan marbot, hingga pengelolaan dana. Buku ini lahir bukan dari teori, melainkan pengalaman lapangan yang terbukti berhasil.
Perjalanan hidup Kusnadi Ikhwani memberi pesan sederhana namun kuat: seorang Muslim bisa sukses di dunia usaha tanpa melupakan masjid. Bahkan, keduanya bisa berjalan seiring menuju keberkahan.
Dari membangun Geprek Grub, membina UMKM, hingga memajukan pengelolaan masjid secara profesional, Pak Kus menunjukkan bahwa kontribusi untuk umat bisa datang dari mana saja—asal dijalankan dengan keikhlasan, kerja keras, dan orientasi manfaat. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments