Kwartir Wilayah (Kwarwil) Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Jawa Timur menggelar kegiatan Halalbihalal secara daring melalui platform Zoom Meeting, Senin (6/4/2026) malam.
Kegiatan ini diikuti oleh Ketua Kwarwil HW Jawa Timur Fathurrahim Syuhadi beserta jajaran, serta Kwartir Daerah HW se-Jawa Timur. Suasana berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan dalam semangat Idulfitri 1447 Hijriah.
Dalam sambutannya, Fathurrahim Syuhadi mengajak seluruh peserta untuk memaknai momentum Idulfitri sebagai sarana refleksi spiritual setelah menjalani ibadah Ramadan.
“Hari ini kita masih dalam suasana Idulfitri. Kita baru saja ditinggal bulan yang sangat mulia, yaitu Ramadan 1447 Hijriah. Ada rasa senang karena telah menunaikan ibadah, namun juga ada rasa sedih karena belum tentu kita dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun depan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa tradisi silaturahmi menjadi bagian penting dalam kehidupan umat Islam, khususnya pada momen Idulfitri. Ucapan saling mendoakan seperti taqabbalallahu minna wa minkum menjadi simbol harapan atas diterimanya amal ibadah.
Makna Halalbihalal sebagai Tradisi Khas Indonesia
Dalam pemaparannya, Fathurrahim menjelaskan bahwa Halalbihalal merupakan tradisi khas Indonesia yang bermakna saling memaafkan dan mempererat silaturahmi setelah Ramadan. Istilah ini telah dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai kegiatan maaf-memaafkan yang biasanya dilakukan dalam sebuah forum atau pertemuan.
Ia juga mengulas berbagai versi asal-usul Halalbihalal. Salah satunya tercatat dalam majalah Suara Muhammadiyah sejak tahun 1920-an dengan istilah alal bi alal, yang menjadi sarana silaturahmi bagi masyarakat yang tidak sempat bertemu langsung.
Versi lain menyebutkan bahwa istilah ini populer di masyarakat melalui budaya lokal, hingga akhirnya diperkenalkan secara luas dalam konteks kenegaraan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah pada tahun 1948. Saat itu, Presiden Soekarno mengundang para tokoh politik untuk bersilaturahmi dalam acara Halalbihalal guna merajut persatuan bangsa.
“Halalbihalal menjadi bukti bahwa ajaran Islam mampu diaktualisasikan menjadi budaya yang memperkuat peradaban bangsa,” jelasnya.
Enam Kebiasaan Baik Pasca-Ramadan
Lebih lanjut, Fathurrahim mengajak seluruh kader Hizbul Wathan untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibangun selama Ramadan. Ia menyebutkan enam hal utama yang perlu dijaga:
Pertama, meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.
Kedua, memperkuat iman dan ketakwaan.
Ketiga, berlomba-lomba dalam kebaikan.
Keempat, membiasakan sikap sabar dalam kehidupan sehari-hari.
Kelima, menjaga semangat filantropi dan kepedulian sosial.
Keenam, terus berinteraksi dengan Al-Qur’an melalui membaca, memahami, dan mengamalkannya.
Menurutnya, Ramadan bukanlah akhir dari ibadah, melainkan titik awal untuk menjaga konsistensi dalam kehidupan sehari-hari.
Lanjutkan Program Strategis 2026
Di akhir sambutannya, Fathurrahim menyampaikan bahwa Kwarwil HW Jawa Timur akan melanjutkan program kerja tahun 2026 yang merupakan hasil Musyawarah Wilayah (Musywil) ke-5 yang diselenggarakan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya pada tahun 2024.
Program-program tersebut akan dijalankan oleh masing-masing bidang yang dikoordinasikan oleh para wakil ketua. Penjabaran teknis program akan disampaikan lebih lanjut oleh sekretaris dan bidang terkait.
Melalui kegiatan Halalbihalal ini, diharapkan seluruh kader Hizbul Wathan Jawa Timur semakin solid, memperkuat ukhuwah, serta siap menjalankan program organisasi dengan penuh semangat dan keikhlasan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments