Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Achilles Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya resmi membuka Latihan Kader Dasar (LABKAD) di Ruang Teater 702, Gedung G lantai 7 FIK. Puluhan peserta “cakader” hadir dengan antusiasme tinggi (19/11/2025).
Tema kegiatan ini yaitu “Resiliensi Ikatan: Menguatkan Ukhuwah Demi Menumbuhkan Kader Humanis dan Progresif”.
Acara pembukaan dimulai dengan pembacaan ayat suci al‑Quran, lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta Mars IMM dan Mars Muhammadiyah.
Para peserta berdiri khidmat sebagai simbol cinta tanah air, komitmen organisasi, dan semangat kebersamaan.
Hadir dalam kesempatan itu Dekan FIK UM Surabaya, Dr. Dede Nasrulloh, bersama perwakilan senior dan fungsionaris IMM, termasuk koordinator komisariat IMM UM Surabaya, perwakilan Pimpinan Cabang (PC) IMM Surabaya, serta jajaran senior Achilles.
Dalam sambutannya, Dr. Dede menegaskan bahwa LABKAD bukan sekadar formalitas melainkan bagian penting dari proses kaderisasi berkelanjutan.
Ia berharap para cakader tumbuh menjadi kader IMM yang berakhlakul karimah, kritis, visioner, aktif berkarya baik di bidang akademik maupun sosial, serta mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.
Para senior dan koordinator komisariat menekankan pentingnya menjaga nilai inti IMM: spiritualitas, solidaritas, dan progresivitas.
Ketua PK IMM Achilles, Ayunda Luvia pun mengajak cakader agar aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Acara ditutup dengan doa bersama dan pelepasan resmi cakader oleh Dekan, menandai dimulainya LABKAD 2025.
Sebelumnya, panitia mengadakan Technical Meeting (TM) pada hari yang sama, untuk menjelaskan pembagian kelompok, tugas cakader, alur kegiatan tiga hari, serta daftar perlengkapan yang harus dibawa.
Suasana TM berjalan kondusif; peserta mencatat dengan seksama, menunjukkan kesiapan mereka mengikuti seluruh rangkaian.
Pada hari pertama pelaksanaan, dilakukan pemilihan ketua kelas dan sekretaris melalui voting terpilih Ari sebagai ketua kelas dan Safira sebagai sekretaris.
Setelah itu, seluruh cakader bersama panitia menyusun “kontrak belajar”, yaitu kesepakatan berisi aturan seperti larangan memakai handphone tanpa izin, larangan tidur atau makan saat materi berlangsung, kewajiban mencatat materi, serta larangan mengobrol di luar konteks sebagai upaya menjaga kedisiplinan dan etika selama kegiatan.
Panitia juga menyusun jadwal imam, muadzin, dan kultum subuh berjamaah sebagai bagian dari pelatihan tanggung jawab spiritual dan kepemimpinan keagamaan.
Hari‑hari berikutnya diisi dengan rangkaian padat: sesi materi, diskusi, ibadah berjamaah, evaluasi, serta kegiatan hiburan dan kebersamaan.
Pemateri dalam sesi materi antara lain: Ayunda Berliana Putri dan Kanda Andi yang membawakan tema ke‑IMM‑an seperti sejarah dan nilai IMM, serta Kanda Nasrawi dan Kanda Fausi yang mengisi sesi Ke‑Islaman dan Kemuhammadiyahan (AIK).
Kegiatan meliputi materi interaktif, Focus Group Discussion (FGD) dengan presentasi mindmap, post‑test melalui lima pos, sarasehan dengan senior, malam inagurasi dengan penampilan bakat, fun games, dan senam pagi. Semuanya disusun untuk membentuk pemahaman, kedisiplinan, solidaritas, serta semangat kebersamaan.
LABKAD 2025 bukan sekadar pelatihan formal, melainkan proses kaderisasi intensif yang memadukan aspek spiritual, organisasi, sosial, dan keakraban.
Dengan struktur kegiatan yang matang dari TM, materi dan diskusi, ibadah berjamaah, evaluasi, hingga fun games dan penutupan kegiatan ini berhasil menanamkan nilai keimanan, ukhuwah, kedisiplinan, dan progresivitas pada para cakader.
Bagi mereka, LABKAD menjadi gerbang awal memperkuat identitas sebagai mahasiswa muslim progresif dan persiapan untuk kontribusi nyata di kampus maupun masyarakat.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments